Tiga orang bersahabat; Panji, Arjuna dan Rama merasa lega karena akhirnya UN telah berhasil mereka lalui. Segala upaya telah mereka lakukan untuk melewati rangkaian ujian-ujian sekolah, dan salah satu yang terpenting yaitu belajar sungguh-sungguh. Sambil menanti pengumuman hasil dari UN, ketiga orang bersahabat ini berencana untuk liburan.
Sore itu mereka bertemu di rumah Arjuna. Sebuah rumah yang megah, mewah, untuk mematangkan rencana liburannya.
“Bagaimana kalo kita pergi naik gunung…?!” Panji menyampaikan idenya dengan penuh semangat.
Rama yang sedang duduk santai bersandar di sofa, dekat Panji, langsung menyahut.
“Ah…malas…!” sahutnya sambil tetap duduk bersandar dan tetap memainkan handphone-nya
Sesaat kemudian Rama berhenti mengutak-atik handphonenya, lalu ia menegakkan duduknya.
“Gue ingin liburan santai, yang gak pake cape..” lanjut Rama
“Gimana kalo kita pergi berlibur ke Bali…?!” tanya Panji asal bunyi sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk yang berada di dalam kamar Arjuna. Kamar itu luas dan terasa sejuk oleh pendingin ruangan.
“Apa..? Emangnya ke Bali tiket pesawatnya bisa dibeli pake daun..!? Pasti orang tua kita pun gak bakal mau mengeluarkan uang sebanyak itu…!” Protes Rama dan melihat Panji dengan wajah serius.
Panji juga ikut melihat Rama tapi raut wajahnya tampak agak berpikir. Dahinya sedikit berkerut, seakan sedang berpikir menghitung jumlah biaya jika mereka harus ke Bali.
“Untuk biaya melanjutkan ke universitas aja, bokap gue benar-benar kerja keras..!!!” lanjut Rama dan masih tetap sedikit mendengus dengan sebal. Panji tetap masih diam belum menyahut, sepertinya ia terlihat kesulitan juga untuk menghitung biaya jika mereka harus ke Bali.
Mendengar perdebatan kedua sahabatnya itu, akhirnya Arjuna yang sejak tadi diam bermain game PSP, mulai berbicara.
“Bagaimana kalo kita pergi ke vila gue di Puncak..?” Arjuna menatap bergantian ke wajah kedua sahabatnya.
“Gue bisa minta izin pada bokap nyokap gue agar kita bisa memakainya dua hari. Vila itu memang sudah agak jarang kami datangi, tapi di sana ada mang Kuncung yang memeliharanya..! Gimana, mau engga..?” Tanya Arjuna meminta kepastian dari kedua sahabatnya.
“Ayoooo ajalah….!” Panji menyambutnya dengan penuh semangat” Udah sumpek nich…!” lanjutnya.
Rama yang nampak sudah agak mengantuk, hanya menganggukkan kepalanya pelan, ia setengah sadar. Ahirnya mereka sepakat akan berangkat di hari Kamis minggu depan. Read the rest of this entry »