<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ayaka Mariko&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://ayakamariko.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ayakamariko.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 19 Dec 2011 13:04:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ayakamariko.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ayaka Mariko&#039;s Blog</title>
		<link>http://ayakamariko.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ayakamariko.wordpress.com/osd.xml" title="Ayaka Mariko&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ayakamariko.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>PENGALAMAN BARU: BICARA DENGAN ORANG YG GA KENAL SAMA SEKALI</title>
		<link>http://ayakamariko.wordpress.com/2011/09/27/pengalaman-baru-bicara-dengan-orang-yg-ga-kenal-sama-sekali/</link>
		<comments>http://ayakamariko.wordpress.com/2011/09/27/pengalaman-baru-bicara-dengan-orang-yg-ga-kenal-sama-sekali/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Sep 2011 11:48:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayakamariko</dc:creator>
				<category><![CDATA[UMUM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ayakamariko.wordpress.com/?p=635</guid>
		<description><![CDATA[Berbicara dengan orang yang tidak dikenal sama sekali, tentu amat sangat dilarang oleh ke dua orang tuaku ketika aku msh kecil. Tentu nasihat yang berupa larangan tersebut diajarkan demi kebaikkan anaknya sendiri. Baru kali ini larangan tersebut aku langgar&#8230;Tapi aku berusaha hati-hati dan liat2 orangnya juga koq&#8230;Aku memang sedang mencari sesuatu yang bisa aku kerjakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayakamariko.wordpress.com&amp;blog=11603173&amp;post=635&amp;subd=ayakamariko&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berbicara dengan orang yang tidak dikenal sama sekali, tentu amat sangat dilarang oleh ke dua orang tuaku ketika aku msh kecil. Tentu nasihat yang berupa larangan tersebut diajarkan demi kebaikkan anaknya sendiri.</p>
<p>Baru kali ini larangan tersebut aku langgar&#8230;Tapi aku berusaha hati-hati dan liat2 orangnya juga koq&#8230;Aku memang sedang mencari sesuatu yang bisa aku kerjakan secara rutin untuk mengisi waktu luangku, spt kegiatan menulis, membaca dan mencoba memperdalam pengetahuan agama. Apalagi tahun ini kegiatan LBJ (LINTAS BUDAYA JEPANG) absen&#8230;LBJ, adalah perjalanan seperti program pertukaran budaya antara Jepang dan Indonesia, yang diperuntukkan untuk siswa siswi SMP/SMA dari sebuah sekolah yang merupakan salah satu sekolah terbaik yang ada di Jakarta. Jadi terasa banget waktuku banyak kosong&#8230;karena dalam kegiatan LBJ aku sering menemukan hal-hal baru dan menarik. Seperti halnya ketika aku harus mengurus ke 4 orang anakku. Karena di tiap harinya, pasti ada suatu perkembangan dan pertumbuhan anak yang terus tumbuh dan membuatku amat bahagia, kalau aku bisa melewatinya. Dan itu membuat inspirasi hidupku berkobar-kobar lagi.<span id="more-635"></span></p>
<p>Alhamdulillah, anak-anak kini makin dewasa dan telah memiliki kegiatannya masing-masing yang makin menyita waktu mereka. Cuma si kecil saja yang masih sering menemaniku dan yang paling cepat jadwalnya untuk bisa segera balik ke rumah. Tetapi tetap saja sudah sore.</p>
<p>Maka sekarang sering terlintas untuk melakukan sesuatu yang waktunya ga terlalu menyita waktu dan tenaga. Tetapi karena belum menemukan yang cocok&#8230;Akhirnya, aku jadi suka izenkkk mencoba sesuatu pengalaman yang baru, yang dulu rasanya sulit bisa aku lakukan. Tapi tentu harus tetap dalam koridor nilai-nilai yang tertanam selama ini. Maka, aku mulai mencoba pergi bersantai-santai ria di spa sendirian, pergi refleksi sendirian, pergi makan sendirian, pergi ke toko buku sendirian dll&#8230;Awalnya rasanya amat aneh&#8230;benar-benar aneh dan ga nyaman&#8230;!</p>
<p>Tetapi mungkin setiap manusia memang harus siap-siap buat balik ke Rahmatullah sendirian juga kan&#8230;? hehehehe&#8230; </p>
<p>Ya&#8230;sekali, dua kali, tiga kali&#8230;kalo makan sendiri..benar2 nikmatnya terasa berbeda. Lebih enak bila ada teman ngobrolnya. </p>
<p>Maka, tadi aku mencoba mengajak seorang nona manis yang duduknya persis di sebelahku, yang kebetulan juga sedang makan sendiri. Awalnya aku ragu, takut si nona tsb merasa terganggu. Karena dengar2, katanya anak2 skrg lebih individualis. Aku coba tanya, apakah masih kuliah atau sdh kerja. Ternyata sudah kerja. Dan karena cuma pake kaos polo dan celana panjang jeans. Saya nanya lagi donk..Oh, sedang cuti ya..? Ternyata si nona ini masih bersedia meladeni&#8230;dan menjawab bahwa pekerjaannya EO, jadi ga perlu pake baju kantoran. Dasar aku bawel nkalee ya&#8230;? Nanya lagi, Oh..EO wedding ceremony ya&#8230;? Si nona menjawab setelah berhasil  mengunyah sushi yang baru dimasukkan ke mulutnya&#8230;Ternyata kerjanya di bagian keuangannya, jadi nona tersebut Sarjana Ekonomi dari sebuah univ swasta terkenal. Ketilka tau bahwa my hubby jg dosen ekonomi, barulah si nona lebih relax&#8230;Rupanya profesi dosen msh merupakan sebuah profesi yang masih dihargai oleh nona manis ini. Alhamdulillah&#8230; </p>
<p>Nah&#8230;dari sana mulailah pembicaraan koq mulai belok ke arah nilai-nilai yang dianut di zaman ku dengan zaman si nona manis ini. Rupanya nona ini benar-benar takut untuk menikah&#8230;Haaaa&#8230;??? Kini gantian, sushiku yang hampir nyangkut&#8230;hehehe </p>
<p>Aku tanya kenapa&#8230;? </p>
<p>Rupanya di usianya yang sudah mencapai 24 tahun, nona ini melihat bahwa selain banyak temannya yang perkawinannya cuma bertahan hanya sesaat dan juga di tambah menurut nona ini lagi lho&#8230;bahwa lembaga perkawinan di negara kita tidak berlaku adil terutama untuk kaum hawa.</p>
<p>Sehingga, nona ini masih ingin senang-senang. Masih ingin karir, masih ingin bebas dan masih ingin pergi traveling ke banyak negara lain.</p>
<p>Tapi ketika si nona ini tau bahwa aku punya anak 4 orang dan jarak antara anak pertama dan terakhir yang memiliki jarak 10 tahun, ternyata biaya membesarkan anak-anak juga makin terasa banget perbedaannya. Yang terakhir makin terasa banget mahal-nya (spt biaya periksa dokter, biaya beli susu, biaya rumah sakit, biaya pendidikan dll)&#8230;Contoh: dulu zaman anakku yang pertama yang sekarang sudah kuliah di tingkat 3, susu baby kaleng dg merk sama dan gram yang sama hanya rp 22.000&#8230;Maka di zaman adiknya yang terkecil (skrg kls 5 SD) harganya sudah mencapai rp 86.000&#8230;Maka si nona mulai menghitung usianya&#8230;dan..harus nabung berapa buat anaknya nanti&#8230;hahaha</p>
<p>Dan nona ini tetap berprinsip bahwa perjanjian pra-nikah itu sekarang wajib&#8230;Karena dari sana lah paling tidak mendapat janji hitam di atas putih, buat kesejahteraan dirinya dan anaknya kelak, bila calonnya selingkuh&#8230;Aku jd mikir&#8230;.kasian juga ya anak-anak sekarang ya&#8230;? Benar-benar banyak hal yang mereka khawatirkan dan terombang-ambing dengan pikirannya sendiri&#8230;.Trus, apakah perjanjian dengan Tuhan nilai nya di taruh di urutan ke berapa ya&#8230;??? Apakah anak-anak ini tidak yakin bahwa Tuhan akan membalas semua kejahatan sampai yang terkecil sekali pun&#8230;? Hanya menghitung berapa tunjangan yang bakal di dapat dan dalam ukurannya akan menjamin kesejahteraan dirinya dan anaknya. </p>
<p>Sampai kami selesai makan dan pisah&#8230;Baik aku dan si nona manis tersebut..sama sekali tidak tahu hal-hal pribadi kami satu dengan yang lain&#8230;Bahkan hanya sekedar nama pun..aku tidak tahu&#8230; </p>
<p>Sungguh hal yang amat berbeda dengan zaman ku dulu ya&#8230;? Paling tidak, dulu yang muda akan memperkenalkan dirinya lebih dulu seperti aturan tata krama yang cuma diajarkan turun temurun dari keluarga&#8230;</p>
<p>Memang zaman sudah jauh berubah ya&#8230;??? </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ayakamariko.wordpress.com/635/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ayakamariko.wordpress.com/635/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ayakamariko.wordpress.com/635/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ayakamariko.wordpress.com/635/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ayakamariko.wordpress.com/635/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ayakamariko.wordpress.com/635/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ayakamariko.wordpress.com/635/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ayakamariko.wordpress.com/635/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ayakamariko.wordpress.com/635/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ayakamariko.wordpress.com/635/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ayakamariko.wordpress.com/635/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ayakamariko.wordpress.com/635/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ayakamariko.wordpress.com/635/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ayakamariko.wordpress.com/635/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayakamariko.wordpress.com&amp;blog=11603173&amp;post=635&amp;subd=ayakamariko&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayakamariko.wordpress.com/2011/09/27/pengalaman-baru-bicara-dengan-orang-yg-ga-kenal-sama-sekali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53df9d0e81500fe69e8fb5b7ce9ac7d9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ayakamariko</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENCITRAAN DIRI</title>
		<link>http://ayakamariko.wordpress.com/2011/09/22/pencitraan-diri/</link>
		<comments>http://ayakamariko.wordpress.com/2011/09/22/pencitraan-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Sep 2011 00:31:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayakamariko</dc:creator>
				<category><![CDATA[UMUM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ayakamariko.wordpress.com/?p=604</guid>
		<description><![CDATA[Pencitraan diri tak lepas dari proposisi (semacam usulan) seseorang atau organisasi terhadap citra nya di mata publik sehingga melahirkan sebuah respon positif. Namun akhir-akhir ini pencitraan diri pada diri seseorang makin heboh. Banyak individu yang terjebak dalam kondisi pencitraan dirinya saja. Terjebak dalam pemikiran bahwa yang penting timbul persepsi baik terhadap reputasinya, kredibilitasnya dan lain-lain [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayakamariko.wordpress.com&amp;blog=11603173&amp;post=604&amp;subd=ayakamariko&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pencitraan diri tak lepas dari proposisi (semacam usulan) seseorang atau organisasi terhadap citra nya di mata publik sehingga melahirkan sebuah respon positif.</p>
<p>Namun akhir-akhir ini pencitraan diri pada diri seseorang makin heboh. Banyak individu yang terjebak dalam kondisi pencitraan dirinya saja. Terjebak dalam pemikiran bahwa yang penting timbul persepsi baik terhadap reputasinya, kredibilitasnya dan lain-lain (kelakuannya mirip seperti produk baru dari sebuah perusahaan yang mau pasang iklan saja) demi memuluskan jalannya untuk meraih sesuatu yang menjadi keinginannya, tanpa benar-benar membangun karakter seperti pribadi yang ingin di gembar gemborkan&#8230;</p>
<p>Semua image diri dan persepsi masyarakat luas menjadi sangat penting baginya. Ibarat maling, selama belum ketahuan (sisi buruknya) ya..LANJUTKAN&#8230;!!!<span id="more-604"></span></p>
<p>Sesuatu hal yang baik yang memang ingin di-share oleh seseorang yang memang memiliki niat baik, maka akan di-share ke masyarakat luas dengan tulus saja&#8230;, benar-benar tidak mempunyai kepentingan pribadi.</p>
<p>Pribadi yang matang dan tulus tadi malah akan santun dan tidak akan memuji-muji dirinya sendiri di hadapan orang lain atau bermuka dua, berbicara lain di sisi depan, berbeda ketika berbicara di sisi belakangnya. Orang yang matang pribadinya dan tulus tadi akan menjalankan segala kegiatannya sebagai bagian dari amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.</p>
<p>Menurutku, dana pencitraan diri semata, yang banyak memerlukan dana, apa ga sebaiknya kita gunakan untuk lebih memberikan pembinaan dan pendidikan pembentukan karakter dan moral bangsa untuk diri sendiri dan generasi muda untuk menjadi lebih baik lagi..</p>
<p>Memang semua baru bisa menjadi kenyataan apabila para pemimpin dan banyak lapisan masyarakat memiliki niat yang sama untuk melakukannya. Tapi, walau pun itu mungkin masih jauuuuuhhhh di angan2&#8230;Marilah kita mulai dari diri kita sendiri dan keluarga kita saja dulu&#8230;Nyatakan &#8220;TIDAK&#8221; untuk melakukan PENCITRAAN DIRI SEMU..pada diri dan keluarga kita sendiri&#8230;</p>
<p>Mohon maaf bila tulisan ini banyak kekurangannya, karena semalam hanya lagi ingin nulis aja&#8230;Ga tau kenapa..malah nulis spt di atas&#8230;Mudah2an berkenan&#8230;terimakasih&#8230;hehehe</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ayakamariko.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ayakamariko.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ayakamariko.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ayakamariko.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ayakamariko.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ayakamariko.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ayakamariko.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ayakamariko.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ayakamariko.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ayakamariko.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ayakamariko.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ayakamariko.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ayakamariko.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ayakamariko.wordpress.com/604/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayakamariko.wordpress.com&amp;blog=11603173&amp;post=604&amp;subd=ayakamariko&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayakamariko.wordpress.com/2011/09/22/pencitraan-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53df9d0e81500fe69e8fb5b7ce9ac7d9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ayakamariko</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BAGAIMANA ALMRHMH IBUNDA KAMI (YG 100% ORG JPN) MENANAMKAN RASA CINTA TANAH AIR, INDONESIA, PD ANAK2NYA..?</title>
		<link>http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/17/bagaimana-almrhmh-ibunda-kami-yg-org-jepang-menanamkan-rasa-cinta-tanah-air-indonesia-pada-anak-anaknya/</link>
		<comments>http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/17/bagaimana-almrhmh-ibunda-kami-yg-org-jepang-menanamkan-rasa-cinta-tanah-air-indonesia-pada-anak-anaknya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Aug 2011 06:07:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayakamariko</dc:creator>
				<category><![CDATA[UMUM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ayakamariko.wordpress.com/?p=599</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah station radio yang meneleponku pd jam 22.15. Station radio itu berencana akan meng-interviewku melalui telephone yang rencananya akan disiarkan esok paginya jam 7.30-8.00 tgl 16 Aug 2011. Aku agak tergelitik dengan topik yang diajukan oleh station radio tsb. Topik tsb adalah &#8220;BAGAIMANA ALMH IBUNDA KAMI MENDIDIK KAMI (ANAK2 KETURUNAN) UNTUK MENCINTAI INDONESIA&#8230;?&#8221; Setelah berpikir [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayakamariko.wordpress.com&amp;blog=11603173&amp;post=599&amp;subd=ayakamariko&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/08/295368_1943378344219_1235299109_31827302_1859966_n.jpg"><img class="aligncenter" title="295368_1943378344219_1235299109_31827302_1859966_n" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/08/295368_1943378344219_1235299109_31827302_1859966_n.jpg?w=300&#038;h=232" alt="" width="300" height="232" /></a></p>
<p>Sebuah station radio yang meneleponku pd jam 22.15. Station radio itu berencana akan meng-interviewku melalui telephone yang rencananya akan disiarkan esok paginya jam 7.30-8.00 tgl 16 Aug 2011. Aku agak tergelitik dengan topik yang diajukan oleh station radio tsb.</p>
<p>Topik tsb adalah &#8220;BAGAIMANA ALMH IBUNDA KAMI MENDIDIK KAMI (ANAK2 KETURUNAN) UNTUK MENCINTAI INDONESIA&#8230;?&#8221; Setelah berpikir sejenak, akhirnya aku meng-iyakan. Karena sifat interviewnya adalah sebagai sharing saja. Station radio tsb berjanji akan menelephone lagi keesokan paginya.</p>
<p>Malam yang tadinya kukira hanya tinggal melakukan kegiatan beristirahat alias bobo harus berubah. Aku jadi tidur larut, karena berusaha mengingat-ingat ke masa kecilku lagi, dan berusaha mencari jawaban apa yang harus kuberikan. Aku juga menelephone saudara-saudara kandungku untuk meminta masukkan.</p>
<p>Jujur, hal itu aku lakukan semua itu karena aku juga takut salah bicara&#8230; Dan setelah membuat sedikit corat coret dan juga membuat sdkt broadcast melalui BBM pada handai taulan dan teman-teman, mengenai rencana interview radio ini, krn siapa tau ada saudara atau teman yg memiliki waktu dan juga tertarik mendengarkan topik ini.</p>
<p>Barulah setelah itu aku bisa beristirahat sejenak krn jarum jam sdh menunjukkan angka 24.00 lebih&#8230;.Dan pd jam 3.30 pagi sudah harus bangun lagi untuk sahur bersama keluarga.</p>
<p>Keesokkan harinya, setelah seluruh keluarga berangkat untuk melakukan kegiatan masing-masing. Aku pun mulai bersiap-siap juga.</p>
<p>Dan karena  janji interview tersebut, maka ada sebuah kegiatan hari itu yaitu pergi tadarusan harus kubatalkan. Sambil menunggu, aku melakukan kegiatan-kegiatan rumah tangga rutin.<span id="more-599"></span></p>
<p>Waktu yang telah dijanjikan berlalu detik demi detik. Aku tetap menunggu sambil mempelajari kembali coret-coretan ku semalam. Namun telephone itu tak juga berdering. Lewat dari waktu yang telah dijanjikan. Akhirnya aku kirim sebuah sms dengan pesan yg amat pendek&#8230;&#8221;Pak&#8230;??? Jadi kah&#8230;???&#8221;</p>
<p>Tak lama, hp-ku menerima sebuah sms, yang isinya..&#8221;kayaknya engga dech&#8230;dst&#8230;dst&#8230;!&#8221;&#8230;.Melongoooo dech&#8230;Dalam hatiku hanya bisa mengucap Astaqfirllah&#8230;yach, ini mungkin adalah salah satu contoh kongkrit perbedaan antara budaya Jepang dan  budaya Indonesia nkalee ya&#8230;?</p>
<p>Terdorong oleh rasa tanggung jawabku pada seluruh handai taulan dan teman-teman yang mungkin saat itu sedang mantengin radio yang tiba-tiba membatalkan acara interview itu hanya dengan sebuah sms&#8230;Maka aku kembali membroadcast message melalui BBM&#8230;Alhamdulillah&#8230;aku merasa gembira, karena melihat kenyataan bahwa respon dari handai taulan dan teman2 lebih banyak yang bereaksi dengan mengatakan bahwa tindakan tersebut kurang pantas di tiru. Walaupun ada juga yang tersirat malu-malu bahwa mereka tengah tertawa puassss bahkan ada yang jujur mengatakan bhw msh byk jalan lain untuk populer&#8230;.hahaha&#8230;Well&#8230;.That is life&#8230;.!!! Aku tidak mau ambil pusing&#8230;terserah ajah&#8230;</p>
<p>Tetapi note ini tetap ingin kubuat untuk catatan diri sendiri sambil mengenang almarhumah Ibunda tercinta. Dan juga mungkin juga suatu saat kelak, catatan ini msh bs bermanfaat untuk anak-anakku sendiri dan juga keturunan2ku selanjutnya&#8230;Jadi hanya sekedar untuk sharing aja lho ya&#8230; <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Memang benar ada ungkapan bahwa di setiap kejadian selalu ada hikmah. Walau kejadian tersebut mungkin tidak mengenakkan, tetapi semua bisa terjadi karena adanya izin Allah SWT juga. Tanpa kejadian di atas, mungkin aku tidak akan pernah menuliskan note ini, untuk menuangkan jawaban dari pertanyaan yang menjadi judul di atas&#8230;</p>
<p>Almarhumah Mama, ketika berusia 24 tahun berjumpa dengan almarhum Papa di Jepang. Di mana saat itu Mama adalah perawat di sebuah rumah sakit besar di Tokyo. Sedang Papa adalah seorang mahasiswa yang dikirim oleh pemerintah Indonesia untuk belajar tehnik elektro di sebuah universitas di Tokyo.</p>
<p>Papa yang sedari kecil memang sudah memiliki penyakit thalasemia, beberapa kali harus di rawat di rumah sakit tempat Mama bertugas. Cinta pun bersemi&#8230;.(cihuyyyyy&#8230;hihihi&#8230;.!!!!)</p>
<p>Singkat cerita, akhirnya Mama dan Papa berencana untuk menikah di Jepang. Namun itu bukan tanpa kendala yang ringan. Mama berasal dari sebuah keluarga yang masih amat traditional. Di mana almrhm Opa (bapaknya Mama) amat menentang pernikahan ini. Beliau keberatan kelak putrinya akan pergi ke sebuah negara yang menurut berita-berita media massa di Jepang yang menuliskan bahwa keadaan Indonesia yang baru mengalami pergolakan politik G 30 S PKI masih sangat kacau balau. Dan juga kondisi kesehatan Papa yang kurang baik, amat menjadi concern Opa untuk tidak menyetujui rencana itu.</p>
<p>Oma Jepang yang mendidik anak-anaknya dengan cara amat traditional pun sadar bahwa bila putrinya tetap akan menikahi laki-laki pilihannya, maka dirinya mau tidak mau harus melepasnya dan mungkin dalam waktu yang cukup lama akan sulit berjumpa dengan anaknya lagi. Karena dirinya lah yang MENDIDIK DAN MEMBERI CONTOH bahwa pada anak-anaknya di semua aspek kehidupan tumbuh kembang anaknya.</p>
<p>Salah satunya didikan Oma adalah bila seorang wanita yang telah menentukan pasangannya itu, maka ia harus bisa total mengikuti warna dari laki-laki yang dicintainya itu. Ya&#8230;seperti itulah Oma-ku yang setia selalu mendampingi Opa secara TOTAL.</p>
<p>Mama tiba di persimpangan jalan yang amat berat. Namun bila sudah jodoh, maka tidak ada satu pun yang bisa menghalanginya. Keputusan Mama untuk bersikap total pun langsung diperlihatkan. Yaitu dengan langsung mengikuti agama yang di anut oleh Papa menjadi muslimah dan mengubah kewarganegaraannya. Hal ini tentu tambah membuat Opa Jepang makin marah besarrrr&#8230;</p>
<p>Hari pernikahan pun tiba&#8230;Walau tidak dihadiri oleh kehadiran keluarganya. Tetapi melalui sepucuk surat, Oma yang amat halus bersikap ini menuliskan bahwa dirinya bisa mengerti apa yang tengah dirasakan oleh anaknya. Oma bisa mengerti bahwa Mama sudah mencintai Papa&#8230;dan Beliau memberikan restunya. Dan berpesan agar Mama mendedikasikan dirinya total pada suami, keluarganya dan tanah airnya yang baru&#8230;</p>
<p>Membaca surat Ibunya inilah yang kembali membangkitkan semangat dan keyakinan pada Mama untuk melangkah disamping laki-laki yang dicintainya kemana pun dirinya akan dibawa, maka ke sanalah Mama akan selalu disampingnya.</p>
<p>Seusai Papa menyelesaikan studynya, maka tiba waktunya kembali ke Indonesia. Bersama dengan ke 14 rekannya yang lain…yang semuanya membawa para Istri-Istri Jepunnya masing-masing..Mereka kembali ke tanah air dengan menggunakan kapal laut. Dua hari yang diperlukan untuk tiba di pelabuhan TANJUNG PRIOK. Para istri Jepang terlihat amat kaget dengan suasana kacau banget di pelabuhan tersebut. Banyak orang yang berpakaian amat kumuh dan compang camping. Pelabuhan yang amat kotor dan banyak wajah-wajah yang kosong tanpa harapan….</p>
<p>Ya…Indonesia yang baru saja mengalami pergolakan politik G 30 S PKI, membuat suasana pelabuhan sungguh amat mengerikan bagi wanita-wanita Jepang ini. Sehingga, dari 14 pasang yang tiba bersama, ada pasangan yang hanya 2 bulan saja..sang istri sudah mengucapkan bye..bye…dan kembali ke Jepang…hehehe…Dan, yang bisa meneruskan pernikahannya mencapai usia pernikahan 15 tahunan tinggal 4 orang saja…Ya..para istri Jepang tersebut kembali ke Jepang satu demi satu dengan alasan masing2…</p>
<p>Kehidupan Mama makin berat…Tp bukan cerita ini yang akan ditulis kali ini…Lain episode…hehehe…</p>
<p>Nah…satu persatu buah hati cintanya lahir&#8230;Sementara hubungan dengan keluarga di Jepang baru bisa terjalin kembali setelah kelahiranku&#8230;Dan ketika aku berusia 2 tahun, aku sudah dibawa Mama mudik ke Jepang. Ya&#8230;hanya aku dan Mama&#8230;Sementara Papa dan kakakku yang laki-laki tetap di Indonesia.</p>
<p>Saat itu adalah untuk pertama kalinya Mama bisa bertemu kembali dengan keluarganya. Mama berkata, ketika melihat cucunya, yaitu aku, akhirnya dinding ego Opa yang tebal yang selama ini memisahkan antara Mama dengan Ayahnya runtuh sudah..Opa menangis tersedu-sedu menggendong cucunya ini&#8230;(mungkin krn melihat wajah imutku nkaleee ya&#8230;??? qiqiqiqi)</p>
<p>Mama selalu mengatakan bahwa memang 50% darah kami mengalir darah Jepang. Namun kalian adalah anak Indonesia.</p>
<p>Ketegasan Mama dan Papa, ditunjukkan dengan memasukkan semua anak-anaknya masuk ke sekolah-sekolah negeri Indonesia saja dan bukan ke sekolah anak-anak Jepang. Padahal Mama itu pernah menjadi guru di sekolah Jepang itu. Dan banyak teman-temannya yang memasukkan anak-anaknya yang berdarah campuran spt kami ke sekolah Jepang daripada sekolah negeri yang fasilitasnya kalah jauh dengan yang ada di sekolah Jepang, di mana kami cuma sering datang untuk menjemput Mama seusai mengajar.</p>
<p>Dan ketika Mama bekerja sebagai salah satu staff di kedutaan besar Jepang di Jakarta, kami tidak lantas dipindahkan ke sekolah anak-anak Jepang. Tetap di sekolah-sekolah negeri milik pemerintah Indonesia.</p>
<p>Tetapi di sekolah negeri di mana kami menuntut ilmu, kami suka jengkel dan menjadi sedih, karena kami suka menjadi bahan ejekan karena memiliki darah Jepang…</p>
<p>Pernah aku menanyakan, “kenapa teman-teman suka meledek bahwa aku Jepang bukan orang Indonesia..?”</p>
<p>Mama Cuma tersenyum dan berkata….bahwa aku adalah orang Indonesia dan suatu saat nanti mereka akan lihat bahwa Mariko kecilku benar orang Indonesia…!!!</p>
<p>Sering Mama dan Papa berbicara dalam bahasa Jepang. Namun, bila berbicara dengan anak-anaknya..Maka Mama akan menggunakan bahasa Indonesia yang kadang-kadang aksennya membuat kami tertawa terbahak-bahak dan bukan dengan bahasa Jepang.</p>
<p>Mama juga sering berkata bahwa Indonesia amat memiliki seni budaya yang luar biasa. Beliau mengatakan bahwa Indonesia itu kaya dengan keaneka ragaman.</p>
<p>Waktu kecil, aku benar-benar tidak paham dengan ucapan Mama ini..Baru setelah agak besar..mulai paham..bahwa benar sekali apa yang di ucapkan Beliau…Contohnya: dari segi bahasa saja…Bahasa Sumatra Barat benar-benar berbeda dengan bahasa di Papua kan..? Sungguh sebuah harta yang tak ternilai lho….Belum lagi berbagai keanekaragaman yang lain..spt makanannya, pakaian traditionalnya, tari-tariannya, rumah adatnya, alat musiknya, keindahan alamnya dan masih banyaaaaaaaaakkkk lainnya…yang kalau benar-benar bisa dikelola dengan baik…wah…turis seluruh dunia..pasti tidak akan bosan-bosan mampir ke Indonesia lho….</p>
<p>Berbeda dengan Jepang kan…? Yang hanya memiliki bahasa yang akan sama baik di pulau Kyusu, Shikoku, Honshu, Hokaiddo dan di semua pulau-pulau kecil lainnya yang dimiliki Jepang. Makanannya pun…mirip semua kan…? Tariannya juga sama semua…Tetapi karena dikelola dengan baik…maka hasilnya bisa jadi baik…hehehe</p>
<p>Mama juga pernah bilang…bahwa budaya orang Indonesia itu menarik. Orangnya sangat ramah dan terbuka…Sedang di Jepang orangnya memang ramah-ramah juga…tetapi biasanya…tidak bisa langsung terbuka….Ga percaya…???</p>
<p>Contoh: Bila di Indonesia…ada turis asing datang..Maka tidak segan2 akan langsung mengundang bahkan menjamu tamu asing tersebut main ke rumahnya…Tp, coba kalau di Jepang…hahaha…rasanya ga mungkin dech….</p>
<p>Contoh lain…bahwa kalau di Indonesia…pertengkaran sesengit apa pun itu, tidak akan pernah bisa merusak hubungan kekeluargaan. Hubungan kekerabatan di Indonesia dirasa oleh Mama lebih erat…Tetapi kalau di Jepang…Wah…kalau sudah ada pertengkaran yang sampai merusak rasa kepecayaan yang telah diberikan seseorang…pasti..pasti…akan sulit untuk menjadi tersambung lagi bahkan hubungan keluarga dan persahabatan bisa terputus selama-lamanya.</p>
<p>Yach…lain ladang lain belalang…Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Memiliki ke-khas-an sendiri-sendiri…</p>
<p>Dari Mama yang 100% Jepang itu, bukan berarti kami tidak diperkenalkan dengan nilai-nilai dari Jepang lho….Kami diajarkan juga koq…. Spt: harus bersikap sopan, harus jujur, harus disiplin, harus kerja keras…harus tepat waktu, harus rajin bekerja, harus duduk dan berdiri tegap, tidak boleh mudah menyerah, tidak boleh sembarangan, buang sampah..tidak boleh sembarangan bikin janji, tidak boleh sembarangan menyakiti orang lain, tidak boleh sembarangan mengganggu ketenangan orang lain (spt bicara atau tertawa dengan suara terlalu besar)..Dan banyaaaaaaakkkk ajaran nilai-nilai Jepang yang ditansfer oleh almrhmh Mama…Yang tidak pernah diajarkan oleh Mama kayaknya cuma yg harus sampai kamikaze dan harakiri aja dech…hehehe…</p>
<p>Sesungguhnya banyak nilai-nilai Jepang dan Indonesia yang ga jauh berbeda kan…? Masalahnya adalah bisakah kita menerapkannya dalam keseharian kita aja koq…setujukah…??? hehehe…</p>
<p>Bahkan, hingga akhir hayatnya Mama masih memegang passport Indonesia. Dan sebenarnya mendapat tawaran dari pemerintah Jepang untuk kembali menjadi warga negara Jepang. Dengan kembali Mama menjadi warga negara Jepang, Mama akan mendapat hak-haknya kembali seperti apa yang akan diterima oleh warga negara Jepang yang sudah berusia lanjut. Walau akhirnya Mama kembali menetap di Jepang, namun kecintaan Mama pada Indonesia tidak pernah luntur. Hingga akhir hayatnya, Mama tetap memilih meninggal dunia sebagai orang Indonesia.</p>
<p>Almarhumah yang juga penderita kanker pangkreas ini sebelum meninggal dunia sempat  mendirikan sebuah Yayasan yang memiliki kegiatan persahabatan antara pemuda pemudi Indonesia dan Jepang yang di sebut KOKUSAI BUNGKA KORYU SHINJUFUJIN NO KAI atau di kenal juga dengan sebutan LBJ, LINTAS BUDAYA JEPANG. Di mana siswa siswi Indonesia yang memiliki ketertarikan dan ingin tahu lebih banyak mengenai Jepang bisa ikut serta program ini. Tujuan dari almarhumah, bukan ingin menjadikan anak-anak Indonesia menjadi anak Jepang. Tetapi lebih pada tujuan ingin agar generasi-generasi muda Indonesia berpikir dan mendapat inspirasi agar dapat menjadikan Indonesia lebih baik lagi di masa-masa depan. Dengan menjadi pemimpin-pemimpin bangsa yang amanah&#8230;</p>
<p>Kegiatan non profit ini telah dilakukan sejak 2007. Baru 2 tahun yayasan ini didirikan, Mama sudah harus kembali ke pangkuan Illahi..Bersama-sama dengan koneksi teman-teman almarhum di Jepang, kegiatan yang di bangun oleh Mama ini, alhamdulillah tetap kami pertahankan hingga sekarang.</p>
<p>Hanya sedikit catatan tambahan aja&#8230;Karena dibesarkan dalam budaya dua bangsa, hal yang terpenting yang kuperoleh dengan mengalirnya 50% darah Indonesia bahwa di Indonesia aku lebih memiliki kesempatan mengenal adanya didikan AGAMA. Tuntunan agama adalah sangat penting dalam menjalankan kehidupan ini agar selamat dunia dan akhirat&#8230;</p>
<p>Karena menyadari bahwa tulisan ini banyak memiliki kekurangan, mhn kiranya dapat dimaklumi ya&#8230;Trmksh..</p>
<p>DIRGAHAYU INDONESIA..SELAMAT ULANG TAHUN KE 66 YA…!!! MERDEKA…!!!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ayakamariko.wordpress.com/599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ayakamariko.wordpress.com/599/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ayakamariko.wordpress.com/599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ayakamariko.wordpress.com/599/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ayakamariko.wordpress.com/599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ayakamariko.wordpress.com/599/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ayakamariko.wordpress.com/599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ayakamariko.wordpress.com/599/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ayakamariko.wordpress.com/599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ayakamariko.wordpress.com/599/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ayakamariko.wordpress.com/599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ayakamariko.wordpress.com/599/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ayakamariko.wordpress.com/599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ayakamariko.wordpress.com/599/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayakamariko.wordpress.com&amp;blog=11603173&amp;post=599&amp;subd=ayakamariko&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/17/bagaimana-almrhmh-ibunda-kami-yg-org-jepang-menanamkan-rasa-cinta-tanah-air-indonesia-pada-anak-anaknya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53df9d0e81500fe69e8fb5b7ce9ac7d9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ayakamariko</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/08/295368_1943378344219_1235299109_31827302_1859966_n.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">295368_1943378344219_1235299109_31827302_1859966_n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CERPEN: DENTING SUMBANG PIANO ANAKKU</title>
		<link>http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/12/cerpen-denting-sumbang-piano-anakku/</link>
		<comments>http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/12/cerpen-denting-sumbang-piano-anakku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Aug 2011 15:18:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayakamariko</dc:creator>
				<category><![CDATA[CERPEN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ayakamariko.wordpress.com/?p=590</guid>
		<description><![CDATA[Vina kembali terlihat lemas di kursi pianonya. Matanya nampak murung. Jemarinya terlihat ragu untuk memulai menekan tuts-tuts piano di hadapannya. Gurat wajah tegang jelas terlihat di wajahnya yang manis. Tetesan keringat nampak terlihat diantara helai-helai rambutnya yang menutupi dahi. Kembali alunan piano terdengar dari dalam rumah berwarna kuning gading itu. Namun sekali lagi terdengar nada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayakamariko.wordpress.com&amp;blog=11603173&amp;post=590&amp;subd=ayakamariko&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Vina kembali terlihat lemas di kursi pianonya. Matanya nampak murung. Jemarinya terlihat ragu untuk memulai menekan tuts-tuts piano di hadapannya. Gurat wajah tegang jelas terlihat di wajahnya yang manis. Tetesan keringat nampak terlihat diantara helai-helai rambutnya yang menutupi dahi.</p>
<p>Kembali alunan piano terdengar dari dalam rumah berwarna kuning gading itu. Namun sekali lagi terdengar nada sumbang yang menghentikan permainan pianonya. Kini kepalanya tertunduk lemah. Waktu latihan telah habis. Tiba waktunya Vina berangkat menuju sekolah musiknya. Ya..hari itu Vina harus menghadapi ujian kenaikan kelas piano dari sebuah sekolah piano ternama. Bila ia gagal, maka usailah sudah untuk bisa melanjutkan ke jenjang yang selalu diidamkan semua anak-anak yang telah berlatih sedari kecil untuk meraihnya.</p>
<p>Ujian kali ini benar-benar terasa menakutkan bagi Vina. Vina yang biasa amat mandiri, kali ini benar-benar merasa bersyukur bahwa Sandra, ibunya dapat menemaninya.</p>
<p>Di ruang tunggu ujian terasa dingin. Namun itu tak membuat butiran keringat yg membasahi dahi Vina mengering. Kegelisahan hati dipuaskan dalam pelukan Sandra yang terus menerus meyakinkan dirinya. Vina sadar bahwa dirinya tidak terlalu siap menghadapi ujian piano kali ini. Kesibukan sekolahnya yang menjelang ujian akhir ini makin menyulitkan dirinya untuk membagi waktu. </p>
<p>Akhirnya, namanya pun dipanggil untuk memasuki ruang ujian. Perlahan Vina bangkit dari kursinya, dan menatap Sandra dalam-dalam. Kembali Sandra mengelus punggung putrinya dengan lembut dan berkata&#8230;Kasih sayang dan dukungan Ibu membuat semangat Vina kembali terpacu. Rasa percaya diri Vina kembali terpacu dan irinya bertekad, akan menghadapi ujian ini dengan seluruh kemampuannya.<span id="more-590"></span></p>
<p>&#8220;Lakukan saja yang terbaik sayang&#8230;!&#8221; ucap lembut Sandra di telinga putrinya</p>
<p>&#8220;Apa pun hasilnya Mama tidak akan pernah marah padamu..!!!&#8221;</p>
<p>&#8220;Jujur, apa yang selama ini telah engkau capai, semuanya telah melampaui apa yang telah Mama capai dulu seusiamu..!&#8221;</p>
<p>Vina menarik nafasnya dalam-dalam, tersenyum tipis dan mulai melangkah masuk sendirian ke dalam ruang ujian.</p>
<p>Di dalamnya ternyata telah ada 5 orang penguji. Di balik pintu berkaca itu, Sandra melihat putrinya membungkuk badan, memberikan hormat pada para pengujinya sebelum duduk di kursi mini grand piano itu.</p>
<p>Terdengar suara penguji meminta sebuah lagu dari banyak permainan piano yang harus di hafalnya. Wajah Vina terlihat lebih tenang. Jemari lentiknya pun mulai menekan tuts-tuts piano itu. Dentingan-dentingan tuts piano terdengar sangat indah dan cantik. Di hati Sandra berucap&#8230;&#8221;Ahhh&#8230;permainan putriku lumayan koq&#8230;!&#8221; Seusai memainkan beberapa lagu, nampak kelegaan terpancar di raut wajah Vina yang juga kelihatan terkejut karena dirinya akhirnya bisa menyelesaikan ujian tersebut dengan cukup baik. Dirinya kembali membungkukkan badan dengan lebih ceria. Para pengujipun terlihat memberikan senyuman hangat pada Vina.</p>
<p>Vina tak sabar untuk memeluk sang Bunda. Sinar mata optimis nampak menari-nari di mata putrinya yang manis itu. Sandra dan Vina pun pergi meninggalkan ruang ujian itu dengan gembira dan juga ada perasaan yakin bahwa akan bisa melewati ujian tersebut. Dan pulanglah mereka dengan penuh kelegaan.</p>
<p>Hari Minggu itu telah penuh dengan deretan-deretan mobil di halaman parkir sekolah musik itu. Suasana sangat ramai. Terlihat mobil Sandra masih berkeliling-keliling kesulitan untuk memarkir kendaraannya. Beruntung, tak lama Sandra berhasil memarkirnya walau harus berjalan kaki lumayan jauh. Banyak siswa siswi sekolah musik itu yang datang bersama orang tuanya. Karena hari Minggu itu adalah hari pembagian rapot, yang sangat menentukan.</p>
<p>Setelah menunggu cukup lama, akhirnya tiba giliran Vina dipanggil masuk ke ruangan gurunya.</p>
<p>&#8220;Selamat pagi bu&#8230;&#8221; sapa Vina ceria</p>
<p>Guru piano yang telah mengajarnya setahun belakangan ini pun membalas sapaan Vina dengan agak dingin&#8230;Sandra menatap dalam-dalam wajah guru piano Vina yang baru dilihatnya dan terkesan kurang ramah ini.</p>
<p>Setelah berbasa basi sedikit, akhirnya guru tersebut langsung mengeluarkan sebuah buku kecil. Buku rapor hasil ujian Vina. Buku tersebut segera diserahkan ke Sandra. Sandra pun terbelalak matanya ketika membaca sebuah tulisan kecil yang tertera di sana. Ya&#8230;di buku kecil itu tertulis bahwa putrinya dinyatakan tidak lulus. Ketika Sandra tengah memperhatikan isi buku rapor tersebut, ternyata Vina sudah mencondongkan tubuhnya, sehingga Vina pun dapat membaca apa yang tertulis di sana. Vina langsung terlihat lemas. Air mata pun segera meleleh deras di kedua belah pipinya yang putih itu.</p>
<p>Muka Sandra mengeras. Dan mulai bertanya-tanya apa alasan ketidak lulusan putrinya itu. Namun tetap saja dijawab bahwa itu adalah keputusan dari lima orang penguji itu, sedang dirinya tidak terlibat sama sekali dalam pengambilan keputusan tersebut. Merasa tidak puas dengan jawaban tersebut, suara Sandra pun mulai meninggi.</p>
<p>&#8220;Bu&#8230;saya cuma mau tanya, apakah bis ibu menerangkan, apa yang kurang permainan anak saya&#8230;?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh..Ibu silahkan lihat hasil yang dari lima orang penguji ini aja&#8230;kan semuanya mengatakan bahwa nilainya memang kurang&#8230;!&#8221; Jawabnya tanpa perasaan bhw Vina yang turut mendengar makin tercabik-cabik hatinya.</p>
<p>&#8220;Baik bu&#8230;kalau menurut lembaga ini anakku tidak kompeten, tapi menurut saya..anak ini sudah berjuang habis-habisan..!&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah Ibu tidak bisa menyampaikannya dengan lebih bijaksana..?&#8221; Sandra mulai geram.</p>
<p>&#8220;Oh..kalau Ibu tidak puas, silahkan Ibu menemui bapak ini&#8230;!&#8221; Kata sang guru sambil menuliskan sebuah nama pada sebuah memo.</p>
<p>&#8220;Beliau adalah salah satu yang berpengaruh di lembaga musik ini&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Mungkin kalau Ibu mau menemui Beliau, Beliau dapat memberi kesempatan lain pada putri Ibu&#8230;!&#8221;</p>
<p>Hati Sandra benar-benar sulit percaya dengan sikap kurang sopan dari guru piano putrinya ini. Di awal, Sandra bertekad untuk berjuang demi mendapatkan sebuah keadilan untuk putrinya sampai ke ujung dunia sekali pun.</p>
<p>Namun ketika Sandra membaca memo tersebut, dirinya bagai tersambar petir di siang bolong. Tertulis sebuah nama yang selama ini telah menjadi duri dalam daging. Dan yang telah mengiris-ngiris hatinya di masa lampau.</p>
<p>Kini jelas sudah apa yang sebenarnya terjadi. Sadar dengan drama apa yang diinginkan oleh lembaga musik ini. Dan siapa biang keladi dari semua kejadian ini. Darahnya pun mendidih, amarahnya pun telah sampai di ubun-ubun. Sekuat tenaga Sandra menahan gejolak emosi yang berkecamuk di dadanya, agar sebuah rahasia yang selama ini berusaha dipendamnya tidak berhamburan menjadi sia-sia. Segera Sandra menarik Vina keluar dari ruangan tersebut.</p>
<p>Segera setelah mereka berada di dalam mobil, Sandra berbicara dengan putrinya yang masih menangis</p>
<p>&#8220;Vina, putriku sayang, dengarlah&#8230;!!!&#8221; kata-kata Sandra bergetar dasyat</p>
<p>&#8220;Jangan kau hancur karena hal ini&#8230;!&#8221;</p>
<p>&#8220;Masih banyak jalan menuju Roma&#8230;!&#8221;</p>
<p>&#8220;Engkau malah harus menunjukkan pada manusia-manusia sombong itu bahwa engkau tak mudah patah..!&#8221;</p>
<p>&#8220;Buktikan saja pada mereka&#8230;bahwa mereka lah yang telah berbuat sebuah kebodohan&#8230;!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tuhan Maha Tahu apa yang sesungguhnya terjadi&#8230;maka biar Tuhanlah yang akan membalas-Nya..!&#8221;</p>
<p>&#8220;Dengar putriku cantik&#8230;! Bukan Mama tidak ingin memperjuangkanmu..tapi semua kejadian pasti ada hikmahnya&#8230;!&#8221;<br />
&#8220;Mungkin Tuhan sedang menguji kekuatan iman kita..!&#8221;</p>
<p>Kita harus bisa sabar nak.., insyaAllah pasti Tuhan akan berikan sesuatu yang lebih baik lagi padamu..!!!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tolong&#8230;putriku&#8230;jangan patah&#8230;jangan engkau membuat Mama tidak bisa mengampuni diri Mama sendiri bila engkau patah karena ini&#8230;.!!!&#8221;</p>
<p>&#8220;Maafkan Mama sayang&#8230;Tolong maafkan&#8230;!!!&#8221; suara Sandra terdengar parau karena menahan tangisnya.</p>
<p>Lalu Sandra pun mendekap erat tubuh Vina yang masih menangis.</p>
<p>Sesampainya di rumah segera Sandra memasuki kamar tidurnya. Di kamar ditumpahkannya segala tangis yang sedari tadi ditahannya. Setelah tangisannya reda, segera Sandra menghapus air matanya dan mulai mengatur lagi kepingan hatinya. Luka itu kembali terbuka. Luka yang amat sulit dilupakan sakitnya. Di aturnya lagi nafasnya, ditata lagi rambutnya lalu diambilnya gagang telepon. Di putarnya ke sebuah nomer yang amat sangat dihafalnya. Setelah beberapa kali deringan, terdengar suara yang amat dikenalnya. Ya&#8230;itu adalah suara mas Tommy, suaminya.</p>
<p>&#8220;Halo&#8230;Mas, hari ini pulang jam berapa..?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tolong jangan pulang terlalu malam, ada hal yang ingin dibicarakan&#8230;!&#8221; untuk kali ini Sandra tidak memberi kesempatan pada suaminya untuk memberi alasan ini dan itu.</p>
<p>Pintu kamar terbuka&#8230;</p>
<p>&#8220;Mas&#8230;tolong tutup pintunya&#8230;!&#8221; pinta Sandra.</p>
<p>Setelah Tommy duduk di sudut tempat tidur dibelah dirinya, Sandra memberikan sebuah kertas memo yang tadi siang diberikan oleh guru piano Vina.</p>
<p>Tommy membaca dan matanya terbelalak.</p>
<p>&#8220;Mas kenal dengan nama itu kan&#8230;?!&#8221;</p>
<p>Mas Tommy menggangguk lemah&#8230;</p>
<p>&#8220;Mas..rupanya perempuan itu belum cukup hanya menghancurkan perasaan ku&#8230;!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ia..juga ingin menghancurkan perasaan putrimu&#8230;!&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia ingin kita semua hancur&#8230;!!!&#8221;</p>
<p>&#8220;Begitu perempuan itu gagal mendapatkan mas, ia ingin membalas dendamnya pada kita semua&#8230;!&#8221;</p>
<p>&#8220;Termasuk pada darah daging-mu mas&#8230;!&#8221;</p>
<p>&#8220;Mas&#8230;.!!!&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku memang banyak memiliki kekurangan&#8230;Tp aku sayang sekali pada Mas dan sayang sekali pada anak-anak kita, sayang sekali pada keluarga kita mas&#8230;!&#8221;</p>
<p>&#8220;Pergilah ke kamar putri-mu, dan lihat air matanya mas&#8230;!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tolong mas&#8230;cukup sekali keluarga ini harus menangis seperti ini mas&#8230;!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tolong berjanjilah mas&#8230;.!!&#8221; Tangis Sandra pun berurai sudah&#8230;</p>
<p>Tommy pun terlihat berkaca-kaca&#8230;Tangannya gemetar meremas kertas memo itu. Bibirnya nampak terkatub keras. Dahinya pun berkerut. Dan di peluknya Sandra&#8230;</p>
<p>&#8220;Ma&#8230;Tolong maaf kan kesalahan papa selama ini&#8230;!&#8221;</p>
<p>&#8220;Sungguh, di antara kami berdua tidak terjadi apa-apa&#8230;!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi mungkin perempuan itu telah berharap lebih&#8230;!&#8221; dengan suara gemetar penuh penyesalan.</p>
<p>Memo itu telah mengingatkan Tommy pada sebuah nama. Nama keluarga dari seorang wanita muda cantik berusia 24 tahun yang baru di terima bekerja di perusahaannya 5 tahun lalu. Kinerja kerja yang selalu baik membuat karier Mira Brotosudirja makin bersinar. Dalam waktu setahun, Mira pun berhasil mencapai posisi strategis di bidang pemasaran yang dipimpin oleh Tommy.</p>
<p>Dan tentu sebagai kepala divisi bagian pemasaran, Tommy kagum dengan kerja keras Mira selama ini. Sehinga banyak project perusahaan yang dipercayakan kepada Mira. Dan juga banyak pekerjaan yang sering mereka lakukan bersama-sama.</p>
<p>Namun yang tidak diketahui oleh Tommy bahwa Mira adalah tipe wanita yang amat ambisius. Untuk mencapai ambisinya itu, Mira bisa saja memasang berbagai perangkap. Dan ternyata dirinya pun dijadikan target operasinya. Pendekatan-pendekatan personal pun tak segan dilakukannya.</p>
<p>Tommy tak sadar dengan itu semua. Dirinya makin terkena perangkap pesona yang memang sengaja ditebar oleh Mira.</p>
<p>Hari demi hari makin sering mereka lewati bersama. Mira pun mulai sering menceritakan tentang sesuatu yang pribadi pada atasan itu. Lalu mulai mengajak untuk lunch bersama. Bahkan berani mengundang Tommy untuk hadir dalam konser pianonya. Yang makin membuat Tommy terbius dengan berbagai kelebihan dan keindahan yang dimiliki Mira.</p>
<p>Dirinya mulai lalai pada keluarganya. Keluarga yang telah di bina sejak 17 tahun lalu. Keluarga yang selalu menantinya di rumah. Dirinya lebih senang berlama-lama di kantor atau pergi mengerjakan berbagai proyek perusahaan bersama Mira. Lupa dengan usianya yang terpaut lebih 20 tahun itu.</p>
<p>Sikap manja yang kini sering ditunjukkan Mira ke Tommy makin menjadi buah bibir di perusahaan itu. Tetapi Tommy yang seperti sudah berada di dalam gengaman Mira. Sehingga semuanya tak juga bisa membuka matanya.</p>
<p>Sikap pongah Mira makin menjadi-jadi. Membuat suasana kerja menjadi rusuh. </p>
<p>Suatu hari dalam sebuah acara perusahaan, Mira akhirnya bertemu dengan Sandra. Mira ternyata sangat pandai bersandiwara.Tanpa malu dirinya memperkenalkan lebih dulu pada Sandra sebagai orang kepercayaan dari suaminya, Tommy.</p>
<p>Sandra pun menerima dengan terbuka sebuah uluran silahturahmi itu. Tidak ada kecurigaan terbersit di dalam pikiran Sandra. Hingga acara hampir berakhir.</p>
<p>Tiba-tiba, dirinya berjumpa dengan sekretaris suaminya, Maya.</p>
<p>&#8220;Bu, maaf bolehkah saya bertanya&#8230;?&#8221; sang sekretaris berucap sopan</p>
<p>Sandra pun mengangguk sambil tersenyum.</p>
<p>&#8220;Bu, apakah ibu Mira itu adik atau saudara Ibu&#8230;?&#8221; dengan nada memancing yang tetap sopan.</p>
<p>Sandra menatap Maya aneh&#8230;&#8221;Maksudmu..?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebab bu, wajah Ibu dengan Ibu Mira itu seperti kakak dan adik&#8230;!&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan hubungan bapak dengan bu Mira pun terlihat sangat dekat&#8230;!&#8221;</p>
<p>Mendengar penjelasan Maya..dada Sandra terasa sesak. Tubuhnya terasa kaku dan pikirannya pergi entah kemana. Tubuhnya terasa oleng. Namun, sebuah suara hati telah menguatkannya. Sehingga, Sandra masih bisa memberikan senyum pada Sekretaris suaminya itu..</p>
<p>&#8220;Maya, saya kan adalah anak tunggal&#8230;!&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi saya tidak memiliki saudara kandung satu pun&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan bu Mira benar-benar hanya seseorang yang bekerja bersama Bapak di perusahaan ini&#8230;!&#8221; sambil tersenyum lembut pada Maya.</p>
<p>Setelah itu Sandra pun segera berlalu dari pandangan Maya dengan tenang. Ketenangan Sandra ketika menghadapi Maya ternyata bisa meredam segala gosip yang gencar beredar selama ini sehingga nama baik suaminya tetap terjaga.</p>
<p>Namun sesungguhnya Sandra pun merasakan perubahan-perubahan pada diri Tommy. Tommy kian ringan menyalahkan dan memarahi dirinya ketika dirasa apa yang dilakukan Sandra tidak sesuai dengan harapannya.</p>
<p>Sandra terus berusaha bersabar menghadapinya, tetap bertahan dan berdoa&#8230;Sandra tidak ingin anak-anaknya yang mulai besar merasa sedih atas cobaan ini. Sandra terus berjuang untuk mempertahankan Tommy, suaminya..</p>
<p>Tommy pun adalah seorang pria yang baik. Sehingga segala ketulusan hati Sandra pun dapat dirasakannya. Dirinya pun nampak jengkel setiap kali dengan mudahnya ia memarahi seorang istri yang selalu menyanyangi dirinya dan anak-anaknya. Namun bayangan Mira pun sulit untuk dihapuskan begitu saja. Hatinya kini menjadi galau.</p>
<p>Mira, rupanya tak sabar dengan kondisi ini. Ambisinya untuk memiliki posisi yang lebih tinggi lagi di perusahaan membuatnya merayu Tommy dengan membabi buta. Mira pun tak segan meminta kesediaan Tommy untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran demi mencapai keinginannya. Bak seorang wanita gurita&#8230;yang memiliki banyak tangan. Ada tangan yang sibuk mengelus-ngelus merayu dan membelai belai menggoda, namun ditangannya yang lain, sibuk menghitung keuntungan yang akan diperolehnya dan juga lilitan maut yang siap mencengkram bila korbannya tak juga mau tunduk padanya.</p>
<p>Beruntung, sinar hati Tommy masih memiliki cahaya. Mungkin itu adalah doa dari istri yang sangat mencintai dirinya apa adanya yang menjadi tameng terakhir dirinya.</p>
<p>Sinar itu yang menuntun Tommy untuk tidak melakukan apa yang diminta Mira.</p>
<p>&#8220;Tidak Mira&#8230;hal itu tidak benar bila dilakukan&#8230;!&#8221; Tommy seperti orang yang baru tersadar dari mimpi buruknya.</p>
<p>Mira terperangah&#8230;.Sekali lagi ia mencoba merayunya&#8230;Kali ini Tommy menepis tegas ketika tangan-tangan gurita itu kembali berusaha menyentuh wajahnya&#8230;</p>
<p>Bagai gurita yang terluka&#8230;Mira pun mengeluarkan senjata mautnya..yaitu berupa janji ancaman untuk menggelap gulita kan semua yang bisa membahagiakan hati Tommy&#8230;yaitu pekerjaannya dan juga menghancurkan keluarga yang dicintai Tommy.</p>
<p>&#8220;Dengar pak Tommy terhormat&#8230;!&#8221;</p>
<p>&#8220;Urusan kita belum selesai&#8230;!&#8221; Mira terlihat amat marah..sebelum meninggalkan ruang kerja Tommy</p>
<p>Sejak kejadian itu Mira berusaha menghancurkan nama baik dan kredibilitas Tommy di segala kesempatan. Namun ibarat bumerang, malah Mira lah yang terkena hantaman balik. Ia dikeluarkan dari pekerjaan selama ini, karena dendam personalnya, mulai menganggu kinerjanya.</p>
<p>Rupanya, setelah bertahun-tahun telah lewat,tp dendam itu masih membara. Dendam itulah yang direncanakan sebagai balasannya kepada Tommy. Yaitu menghancurkan semua orang yang disayangi Tommy. Laki-laki yang telah merusak ambisinya, telah mengoyak harga dirinya, dan yang telah gagal ditaklukkannya.</p>
<p>Dengan segala cara Mira memohon-mohon pada ayahnya yang rupanya juga salah satu pemilik tempat di mana Vina les piano itu, akhirnya turut ikut membalas dendam dan bencinya itu. Ayahnya pun terbakar hatinya sehingga meluluskan keinginannya putrinya yaitu agar Sandra dan Tommy memohon-mohon belas kasihan dari dirinya&#8230;Bersimpuh di kakinya&#8230;.</p>
<p>Namun, Mira hanya bisa menggigit jari-jarinya sendiri dengan keras, karena harapannya buyar sudah. Karena Tommy, Sandra dan Vina tidak pernah datang dan menginjakkan kakinya lagi di sekolah itu&#8230;</p>
<p>Malam makin menjelang, Vina masih gelisah dalam tidurnya. Matanya terlihat sembab. </p>
<p>Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka perlahan. Tommy melangkah masuk mendekatinya dan duduk di sisi tempat tidurnya. Tommy menyalakan sebuah lampu kecil teduh yang berada disudut tempat tidur Vina. </p>
<p>Tommy mengelus-elus lembut kepala putri yang amat disayanginya dan mencium keningnya. Mata Vina sedikit terbuka&#8230;</p>
<p>&#8220;Malam Pa&#8230;&#8221; tegur Vina yang ternyata belum tertidur. Matanya terlihat sembab</p>
<p>&#8220;Maafin Vina ya pa&#8230;!&#8221; desahnya lirih, sambil berhambur ke dalam pelukan Tommy.</p>
<p>Cahaya redup kamar berhasil memburamkan tetesan air mata yang mengalir di pipi Tommy&#8230;</p>
<p>&#8220;Kadang kegagalan hanya sebuah kesuksesan yang tertunda sayang&#8230;!&#8221; Ucap Tommy lembut sambil mengelus rambut hitam panjang milik putrinya.</p>
<p>&#8220;Jadi jangan menyerah ya sayang&#8230;!&#8221;</p>
<p>Dalam pelukannya..Vina pun terlihat tersenyum lega, dan dirinya berjanji bahwa kelak ia akan membuktikan bahwa kelak ia juga akan berhasil menempuh ujian itu.</p>
<p>Dikecup kening Vina sebelum Tommy berlalu dari ruang tidur putrinya&#8230;&#8221;Selamat tidur bidadari keciku..&#8221;</p>
<p>Empat tahun setelah itu&#8230;</p>
<p>Nampak seorang dara cantik, tengah serius berlatih piano di tengah panggung megah di sebuah sekolah musik terkenal di Jepang. Jari-jarinya lincah menari nari gembira di antara tuts-tuts piano. Ya&#8230;itu adalah Vina. Vina yang telah berhasil menyelesaikan sekolah musiknya sampai ke jenjang maestro di sekolah musik yang lain. Dan dirinya pun berhasil membuktikan bahwa kegagalannya dulu hanya akal bulus Mira. Sebagai salah satu lulusan terbaik dari sekolah musik tempatnya melanjutkan cita-citanya itu, Vina berhasil meraih bea siswa setahun untuk belajar piano lebih lanjut di salah satu negara penghasil pemain-pemain top piano dunia.</p>
<p>Dan bukan itu saja Vina pun berhasil membuktikan bahwa dirinya pun bisa menyelesaikan pendidikan akademisnya dengan sangat baik pula. Berhasil lulus dan meraih gelar sarjana bisnis di universitas di mana ayahnya juga menjadi salah satu almaternya dalam jangka waktu yang singkat, yaitu 3,5 tahun..Semua akhirnya berakhir bahagia&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ayakamariko.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ayakamariko.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ayakamariko.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ayakamariko.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ayakamariko.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ayakamariko.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ayakamariko.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ayakamariko.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ayakamariko.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ayakamariko.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ayakamariko.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ayakamariko.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ayakamariko.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ayakamariko.wordpress.com/590/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayakamariko.wordpress.com&amp;blog=11603173&amp;post=590&amp;subd=ayakamariko&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/12/cerpen-denting-sumbang-piano-anakku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53df9d0e81500fe69e8fb5b7ce9ac7d9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ayakamariko</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ANEKA BUNGA DAHLIA&#8230;</title>
		<link>http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/</link>
		<comments>http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Aug 2011 10:48:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayakamariko</dc:creator>
				<category><![CDATA[FOTO-FOTO BUNGA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ayakamariko.wordpress.com/?p=554</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayakamariko.wordpress.com&amp;blog=11603173&amp;post=554&amp;subd=ayakamariko&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<a href='http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/untitled-2-3/' title='Jyomanda Dahlia'><img data-attachment-id='558' data-orig-size='297,447' data-liked='0'width="99" height="150" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-2.jpg?w=99&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="Jyomanda Dahlia...Bunga Dahlia bentuknya ternyata unik ya..." title="Jyomanda Dahlia" /></a>
<a href='http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/untitled-3-3/' title='Tsukihikou Dahlia'><img data-attachment-id='559' data-orig-size='294,448' data-liked='0'width="98" height="150" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-3.jpg?w=98&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="Tsukihikou Dahlia" title="Tsukihikou Dahlia" /></a>
<a href='http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/untitled-4-3/' title='Unayuu Dahlia'><img data-attachment-id='560' data-orig-size='296,449' data-liked='0'width="98" height="150" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-4.jpg?w=98&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="Unayuu Dahlia...Yg ini mirip spt crysant ya..?" title="Unayuu Dahlia" /></a>
<a href='http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/untitled-5-3/' title='Gennakai Dahlia'><img data-attachment-id='561' data-orig-size='296,446' data-liked='0'width="99" height="150" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-5.jpg?w=99&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="Gennakai Dahlia..." title="Gennakai Dahlia" /></a>
<a href='http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/untitled-6-2/' title='Burakkensara'><img data-attachment-id='562' data-orig-size='297,444' data-liked='0'width="100" height="150" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-6.jpg?w=100&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="Burakkensara..." title="Burakkensara" /></a>
<a href='http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/untitled-7-2/' title='Yukishibaki'><img data-attachment-id='563' data-orig-size='294,447' data-liked='0'width="98" height="150" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-7.jpg?w=98&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="Yukishibaki...ini sangat mudah ditemui dijalan2 di Jpn" title="Yukishibaki" /></a>
<a href='http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/untitled-8-2/' title='Tsukushinbo'><img data-attachment-id='564' data-orig-size='294,445' data-liked='0'width="99" height="150" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-8.jpg?w=99&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="Tsukushinbo...Aduch...mani​s ya warna putihnya..." title="Tsukushinbo" /></a>
<a href='http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/untitled-9-2/' title='Fukumamana'><img data-attachment-id='565' data-orig-size='301,445' data-liked='0'width="101" height="150" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-9.jpg?w=101&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="Fukumamana....Warna orangenya kereeeennnn ya..." title="Fukumamana" /></a>
<a href='http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/untitled-10-2/' title='Aki no fuusya Dahlia'><img data-attachment-id='566' data-orig-size='295,445' data-liked='0'width="99" height="150" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-10.jpg?w=99&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="Aki no fuusya Dahlia..." title="Aki no fuusya Dahlia" /></a>
<a href='http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/untitled-11-2/' title='Ikiyuku Dahlia'><img data-attachment-id='567' data-orig-size='294,442' data-liked='0'width="99" height="150" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-11.jpg?w=99&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="Ikiyuku Dahlia..." title="Ikiyuku Dahlia" /></a>
<a href='http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/untitled-12-2/' title='Tanjyuukai Dahlia'><img data-attachment-id='568' data-orig-size='443,296' data-liked='0'width="150" height="100" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-12.jpg?w=150&#038;h=100" class="attachment-thumbnail" alt="Tanjyuukai Dahlia..." title="Tanjyuukai Dahlia" /></a>
<a href='http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/untitled-13/' title='Ponponsyukora Dahlia'><img data-attachment-id='569' data-orig-size='443,300' data-liked='0'width="150" height="101" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-13.jpg?w=150&#038;h=101" class="attachment-thumbnail" alt="Ponponsyukora Dahlia...hampir mirip dg Yukishibaki Dahlia ya..???" title="Ponponsyukora Dahlia" /></a>
<a href='http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/untitled-14/' title='Madamu Harorudo Suupaa'><img data-attachment-id='570' data-orig-size='444,295' data-liked='0'width="150" height="99" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-14.jpg?w=150&#038;h=99" class="attachment-thumbnail" alt="Madamu Harorudo Suupaa (Kalo lidah Jepang yg nyebut..) Tp kalo bhs internationalnya...ini adalah Dahlia dengan nama Madame Halord Super...Dan berikutnya adalah sisters-nya..." title="Madamu Harorudo Suupaa" /></a>
<a href='http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/untitled-15/' title='Burunkusaido manoobooru Dahlia'><img data-attachment-id='571' data-orig-size='442,297' data-liked='0'width="150" height="100" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-15.jpg?w=150&#038;h=100" class="attachment-thumbnail" alt="Burunkusaido manoobooru Dahlia...Ini jg mirip dg Tsukushinbo Dahlia ya???" title="Burunkusaido manoobooru Dahlia" /></a>
<a href='http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/untitled-16/' title='Ikiyuku Dahlia'><img data-attachment-id='572' data-orig-size='448,301' data-liked='0'width="150" height="100" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-16.jpg?w=150&#038;h=100" class="attachment-thumbnail" alt="Ikiyuku Dahlia....Sepintas rasanya cuma beda warna dengan Dahlia yg bernama Ponponsyukora Dahlia &amp; Yukishibaki Dahlia ya..???" title="Ikiyuku Dahlia" /></a>
<a href='http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/untitled-17/' title='Benhiru Ieroo Queen Dahlia'><img data-attachment-id='573' data-orig-size='443,298' data-liked='0'width="150" height="100" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-17.jpg?w=150&#038;h=100" class="attachment-thumbnail" alt="Benhiru Ieroo Queen Dahlia...Ini jg sepintas mirip dg Aki no fuusya Dahlia..." title="Benhiru Ieroo Queen Dahlia" /></a>
<a href='http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/untitled-18/' title='Hibotan Dahlia'><img data-attachment-id='574' data-orig-size='442,300' data-liked='0'width="150" height="101" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-18.jpg?w=150&#038;h=101" class="attachment-thumbnail" alt="Hibotan Dahlia..." title="Hibotan Dahlia" /></a>
<a href='http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/untitled-19/' title='Yukitemari'><img data-attachment-id='575' data-orig-size='444,299' data-liked='0'width="150" height="101" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-19.jpg?w=150&#038;h=101" class="attachment-thumbnail" alt="Yukitemari" title="Yukitemari" /></a>
<a href='http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/untitled-20/' title='Yuusugi'><img data-attachment-id='576' data-orig-size='446,298' data-liked='0'width="150" height="100" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-20.jpg?w=150&#038;h=100" class="attachment-thumbnail" alt="Yuusugi aduch yg ini jg kayaknya tadi ada yg mirip dech...Mulai puyenkkk...!" title="Yuusugi" /></a>
<a href='http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/untitled-21/' title='Jeshika Dahlia'><img data-attachment-id='577' data-orig-size='445,297' data-liked='0'width="150" height="100" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-21.jpg?w=150&#038;h=100" class="attachment-thumbnail" alt="Jeshika Dahlia yg unik..." title="Jeshika Dahlia" /></a>
<a href='http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/untitled-22/' title='mingasu marii'><img data-attachment-id='578' data-orig-size='443,297' data-liked='0'width="150" height="100" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-22.jpg?w=150&#038;h=100" class="attachment-thumbnail" alt="mingasu marii" title="mingasu marii" /></a>
<a href='http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/untitled-23/' title='Rifuresshyu Dahlia'><img data-attachment-id='579' data-orig-size='443,300' data-liked='0'width="150" height="101" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-23.jpg?w=150&#038;h=101" class="attachment-thumbnail" alt="Rifuresshyu Dahlia...Org bule nyebutnya RE-FRESH DAHLIA...hehehe" title="Rifuresshyu Dahlia" /></a>
<a href='http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/untitled-24/' title='Syanderii Dahlia'><img data-attachment-id='580' data-orig-size='443,297' data-liked='0'width="150" height="100" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-24.jpg?w=150&#038;h=100" class="attachment-thumbnail" alt="Syanderii Dahlia (ini kalo lidah Jpn yg ngomong), tp kalo bule bilangnya CHANDELIER DAHLIA..." title="Syanderii Dahlia" /></a>
<a href='http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/untitled-25/' title='CINDERELLA DAHLIA'><img data-attachment-id='581' data-orig-size='443,299' data-liked='0'width="150" height="101" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-25.jpg?w=150&#038;h=101" class="attachment-thumbnail" alt="CINDERELLA DAHLIA....WOW, warna dusty pink yg menggoda" title="CINDERELLA DAHLIA" /></a>
<a href='http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/untitled-26-2/' title='Hanakerusai Dahlia'><img data-attachment-id='582' data-orig-size='444,297' data-liked='0'width="150" height="100" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-26.jpg?w=150&#038;h=100" class="attachment-thumbnail" alt="Hanakerusai Dahlia...Koq, Dahlia yg ini jabrik ya..??? hihihi" title="Hanakerusai Dahlia" /></a>
<a href='http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/untitled-27/' title='untitled-27'><img data-attachment-id='583' data-orig-size='444,297' data-liked='0'width="150" height="100" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-27.jpg?w=150&#038;h=100" class="attachment-thumbnail" alt="untitled-27" title="untitled-27" /></a>
<a href='http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/untitled-28/' title='Grand Mother Dahlia'><img data-attachment-id='584' data-orig-size='295,444' data-liked='0'width="99" height="150" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-28.jpg?w=99&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="Grand Mother Dahlia...." title="Grand Mother Dahlia" /></a>
<a href='http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/untitled-29/' title='Nema no Ame Dahlia'><img data-attachment-id='585' data-orig-size='296,447' data-liked='0'width="99" height="150" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-29.jpg?w=99&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="Nema no Ame Dahlia" title="Nema no Ame Dahlia" /></a>
<a href='http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/untitled-30/' title='Yuuki Dahlia'><img data-attachment-id='586' data-orig-size='295,446' data-liked='0'width="99" height="150" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-30.jpg?w=99&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="Yuuki Dahlia...Lho Yuki kan artinya salju...koq kuning...??? Oh..bukan yuki, tp YUUKI..beda cuma di &quot;U&quot;" title="Yuuki Dahlia" /></a>
<a href='http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/untitled-31/' title='Iruuu Rabu Dahlia'><img data-attachment-id='587' data-orig-size='297,445' data-liked='0'width="100" height="150" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-31.jpg?w=100&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="Iruuu Rabu Dahlia" title="Iruuu Rabu Dahlia" /></a>
<a href='http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/untitled-32/' title='Heaameiku Dahlia'><img data-attachment-id='588' data-orig-size='441,297' data-liked='0'width="150" height="101" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-32.jpg?w=150&#038;h=101" class="attachment-thumbnail" alt="Heaameiku Dahlia" title="Heaameiku Dahlia" /></a>

<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ayakamariko.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ayakamariko.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ayakamariko.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ayakamariko.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ayakamariko.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ayakamariko.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ayakamariko.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ayakamariko.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ayakamariko.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ayakamariko.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ayakamariko.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ayakamariko.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ayakamariko.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ayakamariko.wordpress.com/554/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayakamariko.wordpress.com&amp;blog=11603173&amp;post=554&amp;subd=ayakamariko&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayakamariko.wordpress.com/2011/08/11/aneka-bunga-dahlia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53df9d0e81500fe69e8fb5b7ce9ac7d9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ayakamariko</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-2.jpg?w=99" medium="image">
			<media:title type="html">Jyomanda Dahlia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-3.jpg?w=98" medium="image">
			<media:title type="html">Tsukihikou Dahlia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-4.jpg?w=98" medium="image">
			<media:title type="html">Unayuu Dahlia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-5.jpg?w=99" medium="image">
			<media:title type="html">Gennakai Dahlia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-6.jpg?w=100" medium="image">
			<media:title type="html">Burakkensara</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-7.jpg?w=98" medium="image">
			<media:title type="html">Yukishibaki</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-8.jpg?w=99" medium="image">
			<media:title type="html">Tsukushinbo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-9.jpg?w=101" medium="image">
			<media:title type="html">Fukumamana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-10.jpg?w=99" medium="image">
			<media:title type="html">Aki no fuusya Dahlia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-11.jpg?w=99" medium="image">
			<media:title type="html">Ikiyuku Dahlia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-12.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Tanjyuukai Dahlia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-13.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Ponponsyukora Dahlia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-14.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Madamu Harorudo Suupaa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-15.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Burunkusaido manoobooru Dahlia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-16.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Ikiyuku Dahlia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-17.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Benhiru Ieroo Queen Dahlia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-18.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Hibotan Dahlia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-19.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Yukitemari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-20.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Yuusugi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-21.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Jeshika Dahlia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-22.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">mingasu marii</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-23.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Rifuresshyu Dahlia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-24.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Syanderii Dahlia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-25.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">CINDERELLA DAHLIA</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-26.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Hanakerusai Dahlia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-27.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">untitled-27</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-28.jpg?w=99" medium="image">
			<media:title type="html">Grand Mother Dahlia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-29.jpg?w=99" medium="image">
			<media:title type="html">Nema no Ame Dahlia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-30.jpg?w=99" medium="image">
			<media:title type="html">Yuuki Dahlia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-31.jpg?w=100" medium="image">
			<media:title type="html">Iruuu Rabu Dahlia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/06/untitled-32.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Heaameiku Dahlia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>WHY&#8230;????</title>
		<link>http://ayakamariko.wordpress.com/2011/06/26/why/</link>
		<comments>http://ayakamariko.wordpress.com/2011/06/26/why/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Jun 2011 12:40:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayakamariko</dc:creator>
				<category><![CDATA[UMUM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ayakamariko.wordpress.com/?p=550</guid>
		<description><![CDATA[Semakin takjub ketika makin mengenal apa yang diajarkan di dalam Al-Quran. Banyak hal yang diajarkan sungguh adalah sebuah perbuatan yang amat mulia, bila seseorang manusia bisa melakukannya. Namun, ada sering timbul pertanyaan di dalam hati ini. Kenapa dalam realitanya banyak yang makin menjauh dari ajaran yang mulia ini? Segala macam informasi di zaman modern ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayakamariko.wordpress.com&amp;blog=11603173&amp;post=550&amp;subd=ayakamariko&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semakin takjub ketika makin mengenal apa yang diajarkan di dalam Al-Quran. Banyak hal yang diajarkan sungguh adalah sebuah perbuatan yang amat mulia, bila seseorang manusia bisa melakukannya. Namun, ada sering timbul pertanyaan di dalam hati ini. Kenapa dalam realitanya banyak yang makin menjauh dari ajaran yang mulia ini?</p>
<p>Segala macam informasi di zaman modern ini makin mudah di peroleh. Melalui media cetak, elektronik dan juga dunia maya. Sehingga informasi apa pun bisa di akses oleh masyarakat luas. Dan akhir-akhir ini amat terasa dalam dunia pendidikan bahwa makin banyak mencetak sarjana-sarjana yang tidak hanya dapat menyelesaikan pendidikan di jenjang S1 saja tetapi di jenjang yang lebih tinggi. Jadi di negeri ini pastinya orang pandai pun telah banyak bukan? <span id="more-550"></span></p>
<p>Tetapi bagaimana bila seseorang diminta untuk menggambarkan negeri kita tercinta ini? Tidak sedikit yang akan memberikan jawaban seperti berikut: masyarakatnya tidak disiplin, ketidak pastian hukum, memetingkan diri sendiri (korupsi di mana-mana), tidak menjaga kebersihan, tidak tertib dan banyak kata lain yang kurang enak didengar bukan? Sungguh miris ya&#8230;???</p>
<p>Walau tentu tidak kurang ada juga masyarakat yang berusaha merubah keadaan. Mempertahankan idealisme. Berusaha menjaga integritasnya. Tetapi itu bukan berita yang menarik untuk di dengar, di ketahui atau disebarkan ke masyarakat luas. Kalah menarik dengan berita-berita yang sebenarnya tidak memiliki bobot sama sekali. Jadi apakah perubahan yang banyak diinginkan oleh masyarakat negara tercinta ini  hanya akan menjadi sebuah mimpi muluk? Banyak hal di atas jadi mengingatkan pd lirik dari sebuah lagu &#8220;Dream On by Aerosmith&#8221;</p>
<p>Every time I look in the mirror<br />
All these lines on my face getting clearer<br />
The past is gone<br />
It goes by, like dusk to dawn<br />
Isn&#8217;t that the way<br />
Everybody&#8217;s got their dues in life to pay</p>
<p>Yeah, I know nobody knows<br />
where it comes and where it goes<br />
I know it&#8217;s everybody&#8217;s sin<br />
You got to lose to know how to win</p>
<p>Half my life<br />
is in books&#8217; written pages<br />
Lived and learned from fools and<br />
from sages<br />
You know it&#8217;s true<br />
All the things come back to you</p>
<p>Sing with me, sing for the year<br />
Sing for the laughter, sing for the tears<br />
Sing with me, if it&#8217;s just for today<br />
Maybe tomorrow, the good lord will take you away</p>
<p>Yeah, sing with me, sing for the year<br />
Sing for the laughter, sing for the tear<br />
Sing with me, if it&#8217;s just for today<br />
Maybe tomorrow, the good Lord will take you away</p>
<p>Dream On Dream On Dream On<br />
Dream until your dreams come true<br />
Dream On Dream On Dream On<br />
Dream until your dream comes through<br />
Dream On Dream On Dream On<br />
Dream On Dream On<br />
Dream On Dream On</p>
<p>Sing with me, sing for the year<br />
Sing for the laughter, sing for the tear<br />
Sing with me, if it&#8217;s just for today<br />
Maybe tomorrow, the good Lord will take you away<br />
Sing with me, sing for the year<br />
Sing for the laughter, sing for the tear<br />
Sing with me, if it&#8217;s just for today<br />
Maybe tomorrow, the good Lord will take you away&#8230;&#8230;</p>
<p>Pada bait pertama, bahwa manusia pasti banyak yang sudah mengerti bahwa hidup di dunia ini suatu saat nanti akan diminta pertanggung jawabannya. Semua akan mendapat ganjarannya masing-masing.</p>
<p>Pada bait ke dua, bahwa semua mahluk pasti pernah berbuat kesalahan. Tetapi apakah kita mau belajar dari kesalahan tersebut? Atau kalah terus (tidak pernah mau belajar)..?</p>
<p>Pada bait ke tiga, bahwa kembali di ingatkan bahwa semua akan mendapat ganjarannya, sesuai dengan perbuatannya.</p>
<p>Pada bait ke empat dan ke lima bahwa suatu saat segala kenikmatan di dunia akan ada akhir.</p>
<p>Hidup adalah pilihan. Pilihan dapat dilakukan sendiri atau bersama-sama. Pilihan bersama tentu akan lebih efektif untuk melakukan perubahan&#8230;SETUJU&#8230;.???</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ayakamariko.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ayakamariko.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ayakamariko.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ayakamariko.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ayakamariko.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ayakamariko.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ayakamariko.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ayakamariko.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ayakamariko.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ayakamariko.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ayakamariko.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ayakamariko.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ayakamariko.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ayakamariko.wordpress.com/550/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayakamariko.wordpress.com&amp;blog=11603173&amp;post=550&amp;subd=ayakamariko&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayakamariko.wordpress.com/2011/06/26/why/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53df9d0e81500fe69e8fb5b7ce9ac7d9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ayakamariko</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BILA HATI MERINDU (pd Jpn)&#8230;.</title>
		<link>http://ayakamariko.wordpress.com/2011/06/09/bila-hati-merindu-pdjpn/</link>
		<comments>http://ayakamariko.wordpress.com/2011/06/09/bila-hati-merindu-pdjpn/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jun 2011 14:14:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayakamariko</dc:creator>
				<category><![CDATA[UMUM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ayakamariko.wordpress.com/?p=548</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayakamariko.wordpress.com&amp;blog=11603173&amp;post=548&amp;subd=ayakamariko&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://ayakamariko.wordpress.com/2011/06/09/bila-hati-merindu-pdjpn/"><img src="http://img.youtube.com/vi/gcmcXrCihrA/2.jpg" alt="" /></a></span>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ayakamariko.wordpress.com/548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ayakamariko.wordpress.com/548/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ayakamariko.wordpress.com/548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ayakamariko.wordpress.com/548/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ayakamariko.wordpress.com/548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ayakamariko.wordpress.com/548/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ayakamariko.wordpress.com/548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ayakamariko.wordpress.com/548/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ayakamariko.wordpress.com/548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ayakamariko.wordpress.com/548/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ayakamariko.wordpress.com/548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ayakamariko.wordpress.com/548/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ayakamariko.wordpress.com/548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ayakamariko.wordpress.com/548/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayakamariko.wordpress.com&amp;blog=11603173&amp;post=548&amp;subd=ayakamariko&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayakamariko.wordpress.com/2011/06/09/bila-hati-merindu-pdjpn/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53df9d0e81500fe69e8fb5b7ce9ac7d9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ayakamariko</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CERPEN: MISTERI VILA MERAH BATA</title>
		<link>http://ayakamariko.wordpress.com/2011/05/30/cerpen-misteri-vila-merah-bata/</link>
		<comments>http://ayakamariko.wordpress.com/2011/05/30/cerpen-misteri-vila-merah-bata/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 May 2011 09:06:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayakamariko</dc:creator>
				<category><![CDATA[CERPEN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ayakamariko.wordpress.com/?p=544</guid>
		<description><![CDATA[Tiga orang bersahabat; Panji, Arjuna dan Rama merasa lega karena akhirnya UN telah berhasil mereka lalui. Segala upaya telah mereka lakukan untuk melewati rangkaian ujian-ujian sekolah, dan salah satu yang terpenting yaitu belajar sungguh-sungguh. Sambil menanti pengumuman hasil dari UN, ketiga orang bersahabat ini berencana untuk liburan. Sore itu mereka bertemu di rumah Arjuna. Sebuah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayakamariko.wordpress.com&amp;blog=11603173&amp;post=544&amp;subd=ayakamariko&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tiga orang bersahabat; Panji, Arjuna dan Rama merasa lega karena akhirnya UN telah berhasil mereka lalui. Segala upaya telah mereka lakukan untuk melewati rangkaian ujian-ujian sekolah, dan salah satu yang terpenting yaitu belajar sungguh-sungguh. Sambil menanti pengumuman hasil dari UN, ketiga orang bersahabat ini berencana untuk liburan.</p>
<p> Sore itu mereka bertemu di rumah Arjuna. Sebuah rumah yang megah, mewah, untuk mematangkan rencana liburannya.</p>
<p>&#8220;Bagaimana kalo kita pergi naik gunung&#8230;?!&#8221; Panji menyampaikan idenya dengan penuh semangat.</p>
<p>Rama yang sedang duduk santai bersandar di sofa, dekat Panji, langsung menyahut.</p>
<p>&#8220;Ah&#8230;malas&#8230;!&#8221; sahutnya sambil tetap duduk bersandar dan tetap memainkan handphone-nya</p>
<p>Sesaat kemudian Rama berhenti mengutak-atik handphonenya, lalu ia menegakkan duduknya.</p>
<p>&#8220;Gue ingin liburan santai, yang gak pake cape..&#8221; lanjut Rama</p>
<p>&#8220;Gimana kalo kita pergi berlibur ke Bali&#8230;?!&#8221; tanya Panji asal bunyi sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk yang berada di dalam kamar Arjuna. Kamar itu luas dan terasa sejuk oleh pendingin ruangan.</p>
<p>&#8220;Apa..? Emangnya ke Bali tiket pesawatnya bisa dibeli pake daun..!? Pasti orang tua kita pun gak bakal mau mengeluarkan uang sebanyak itu&#8230;!&#8221; Protes Rama dan melihat Panji dengan wajah serius.</p>
<p>Panji juga ikut melihat Rama tapi raut wajahnya tampak agak berpikir. Dahinya sedikit berkerut, seakan sedang berpikir menghitung jumlah biaya jika mereka harus ke Bali.</p>
<p>&#8220;Untuk biaya melanjutkan ke universitas aja, bokap gue benar-benar kerja keras..!!!” lanjut Rama dan masih tetap sedikit mendengus dengan sebal. Panji tetap masih diam belum menyahut, sepertinya ia terlihat kesulitan juga untuk menghitung biaya jika mereka harus ke Bali.</p>
<p> Mendengar perdebatan kedua sahabatnya itu, akhirnya Arjuna yang sejak tadi diam bermain game PSP, mulai berbicara.</p>
<p>&#8220;Bagaimana kalo kita pergi ke vila gue di Puncak..?&#8221; Arjuna menatap bergantian ke wajah kedua sahabatnya.</p>
<p>&#8220;Gue bisa minta izin pada bokap nyokap gue agar kita bisa memakainya dua hari. Vila itu memang sudah agak jarang kami datangi, tapi di sana ada mang Kuncung yang memeliharanya..! Gimana, mau engga..?&#8221; Tanya Arjuna meminta kepastian dari kedua sahabatnya.</p>
<p>&#8220;Ayoooo ajalah&#8230;.!&#8221; Panji menyambutnya dengan penuh semangat&#8221; Udah sumpek nich&#8230;!&#8221; lanjutnya.</p>
<p>Rama yang nampak sudah agak mengantuk, hanya menganggukkan kepalanya pelan, ia setengah sadar. Ahirnya mereka sepakat akan berangkat di hari Kamis minggu depan.<span id="more-544"></span></p>
<p>Hari yang ditunggu-tunggu oleh ketiga sahabat tersebut pun tiba. Cuaca pada hari Kamis tampak cerah. Langit bersih, hingga warna birunya nampak sangat jelas. Sebuah mobil juga telah disiapkan untuk mengantarkan mereka ke tempat tujuan. Dengan riang mereka pun berpamitan dan melanjutkan jadwal liburan tersebut.</p>
<p>Sepanjang perjalanan mereka terus bersenda gurau tanpa henti. Lalu lintas juga lancar tanpa hambatan, sehingga perjalanan mereka makin nyaman dan ceria. Sebelum matahari semakin tinggi, mereka telah tiba di sebuah gerbang pintu besi besar berwarna hitam. Suara klakson mobil mereka terdengar setelah Arjuna beberapa kali menekan tombol klakson.</p>
<p>Tak lama kemudian pintu gerbang besi berwarna hitam itu perlahan terbuka. Seorang lelaki separuh baya tampak berusaha mendorong gerbang besi berwarna hitam itu sekuat tenaganya.</p>
<p>Setelah gerbang terbuka, tampaklah sebuah bangunan megah berwarna merah bata. Rumah bata merah itu semakin megah dengan adanya kolam renang di samping halamannya. Ruang tamunya juga sangat besar dengan sofa empuk berwarna coklat muda.</p>
<p>Setelah ketiganya masuk ke dalam vila, mereka langsung duduk nyaman di sofa sambil menikmati kesejukan udara pegunungan yang sangat berbeda dengan kondisi udara sehari-hari di kota.</p>
<p>Lelaki separuh baya yang tadi membukakan gerbang, kini masuk membawakan tiga cangkir teh jahe hangat.</p>
<p>&#8220;Mang Kuncung, apa kabar Mang..? Sapa Arjuna pada penjaga rumah yang telah bekerja selama lima tahun itu.</p>
<p>&#8220;Alhamdulillah baik-baik saja den&#8230;&#8221; sahut Mang Kuncung sambil membungkukkan badannya. Logatnya masih dipengaruhi logat Sunda.</p>
<p>&#8220;O iya Mang, kenalkan ini teman-teman gue&#8230;!&#8221; Arjuna mengarahkan tanganya ke arah teman-temannya.</p>
<p>&#8220;Ini Panji, dan ini Rama. Kami akan nginap di sini sampai lusa Mang&#8230;!&#8221;</p>
<p>Mang Kucung pun terlihat manggut-manggut.</p>
<p>&#8220;Kalo aden-aden perlu sesuatu, bisa panggil di ruang belakang&#8230;&#8221; kata Mang Kuncung dengan tersenyum tipis.</p>
<p>&#8220;Ruang tidur di lantai atas sudah Mamang siapkan.&#8221; lanjutnya.</p>
<p>“Oke Mang..” jawab Arjuna.</p>
<p>&#8220;Selamat istirahat, Sekarang mamang mau ke belakang dulu&#8230;!&#8221; ujar mang Kuncung, lalu beranjak pergi.</p>
<p>Setelah Mang Kucung pergi, segera ketiga sahabat itu menuju kamar tidur di lantai atas tersebut. Tiga buah kamar yang terletak di dalam satu lorong. Masing-masing kamar berukuran sekitar sepuluh kali dua belas meter dan setiap kamar memiliki kamar mandi di dalam.</p>
<p>Rama yang paling penakut memilih kamar pertama di lorong tersebut. Sementara Arjuna di kamar kedua. Adapun Panji di kamar yang ada di lorong paling belakang.</p>
<p>&#8220;Arjuna, kenapa kamar-kamar ini seperti rumah sakit ya&#8230;? Sepertinya serem.&#8221; tanya Rama yang mulai ke luar sifat penakutnya.</p>
<p>&#8220;Ah, dasaaaar penakut&#8230;!!!&#8221; Arjuna dan Panji serempak menimpali, kemudian cuek tanpa peduli pada rasa takut Rama.</p>
<p>&#8220;Mumpung matahari belum tenggelam, kita berenaaaaannngggg&#8230;.!!! Arjuna dan Panji berteriak penuh semangat. Mereka berdua segera berlari menuju tangga, meninggalkan Rama yang penakut seorang diri.</p>
<p>&#8220;Wwwwwooooiii, tunggu.!&#8221; Rama terlihat panik. Arjuna dan Panji tak peduli, mereka tetap saja berlari.</p>
<p>&#8220;Aduch&#8230;tunggu donk, aku mesti ke toilet dulu nich, kebelet&#8230;.!!!&#8221;</p>
<p>Tapi Arjuna dan Panji tetap saja terus menuruni anak tangga ke bawah menuju kolam berenang, sambil tertawa. Hal tersebut telah membuat Rama panik dan harus mengambil keputusan mendesak. Akhirnya, dengan terburu-buru Rama pergi ke toilet yang berada di kamarnya. Perasaannya tak menentu, antara rasa takut dan panik semakin membuat pikirannya benar-benar kalut. Semenit rasanya menjadi waktu yang lama sekali bagi Rama.</p>
<p>Di kamar mandi, ketika Rama hendak mencuci tangannya di wastafel berwarna biru itu, tiba-tiba ia merasakan ada angin dingin menerpa kuduknya. Rasa takut makin menggigit, membuat debar jantungnya berdetak semakin cepat.</p>
<p>Perlahan Rama memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya, sehingga wajahnya kini menatap cermin yang ada di depannya. Dengan tangan yang mulai gemetar, segera ia hentikan aliran air di keran dan diambilnya handuk kecil untuk mengelap tangannya. Lalu seperti ada dorongan tertentu, kembali tatapan matanya seakan harus menatap cermin di depannya. Tiba-tiba, perlahan tapi pasti, cermin itu seperti dilapisi oleh uap putih yang mengaburkan kejernihan cermin tersebut.</p>
<p>Tanpa berpikir lebih lama lagi, Rama pun spontan berlari sekencang-kencangnya, meninggalkan kamar mandi untuk menyusul sahabat-sahabatnya yang telah asyik berenang.</p>
<p>“Hanttuuuuuuuu&#8230;..!!!!!&#8221; Teriak Rama, suaranya membahana di dalam vila.</p>
<p>Arjuna dan Panji yang mendengar teriakan Rama segera keluar dari kolam renang dan berlari mengejar Rama yang berlarian tidak menentu itu. Akhirnya, Arjuna dan Panji berhasil mengejar dan menenangkan Rama.</p>
<p>&#8220;Ah, pasti itu cuma khayalan elo&#8230;!&#8221; hardik Panji</p>
<p>&#8220;Makanya jadi orang jangan penakut&#8230;!&#8221; Panji pun terlihat gemas melihat kelakuan Rama.</p>
<p>&#8220;Ah&#8230;vila gue ini dari dulu gak ada apa apa koq&#8230;!&#8221; Timpal Arjuna</p>
<p>&#8220;Yuuukk, sekarang kita semua ke kamar elo.!&#8221; Ajak Arjuna sambil menarik tangan Rama dengan agak memaksa.</p>
<p>Sesaat kemudian,</p>
<p>&#8220;Krrrreeeeeeeetttt&#8230;!!!&#8221; Panji membuka pintu kamar mandi itu dengan tak gentar.</p>
<p>Sementara Rama ngumpet di belakang Arjuna dan mencengkram kencang pundak Arjuna.</p>
<p>Ternyata suasana kamar mandi itu biasa saja. Namun tetap hal ini tak membuat Rama jadi teryakinkan. Panji dan Arjuna hanya bisa menghela nafas panjang melihat sikap sahabatnya itu. Ada rasa sebal melihat sifat penakut Rama yang over dosis, tapi ada rasa kasihan dan geli juga melihatnya.</p>
<p>&#8220;Pleaseeee donkkk, gue beneran ngerasa ada yang aneh di kamar gue&#8230;!&#8221; Rama berusaha mengiba.</p>
<p>&#8220;Gue udah capek dan ngantukk..!&#8221; Gue sekarang mau tidur aja ah, gak jadi renang.!&#8221; Panji pun pergi begitu saja.</p>
<p>&#8220;Panjiiiii&#8230;, elo tuch emang paling tega ama gue ya&#8230;!&#8221; rengek Rama memelas. Tetapi tak digubris oleh Panji.</p>
<p>Akhirnya dengan sangat terpaksa Arjuna sebagai tuan rumah mengizinkan Rama tidur di kamarnya.</p>
<p>&#8220;Awas..ya, kalo elo ngorokkk&#8230;!&#8221; Ledek Arjuna ke Rama yang amat penakut itu.</p>
<p>Malam itu berlalu dengan tenang. Tidak ada kejadian aneh. Akhirnya pagi pun menjelang. Matahari telah tinggi. Ketiga sahabat itu baru mulai terbangun. Mereka bertiga segera menuju ruang makan di lantai bawah. Di sana telah tersaji tiga cangkir teh hangat beserta nasi goreng lengkap dengan telur ceplok dan krupuk sebagai padanannya.</p>
<p>Di balik jendela besar yang menghadap ke arah kolam renang, nampak Mang Kuncung tengah membersihkan teras rumah. Dengan tubuh yang mulai membungkuk dan langkah yang terseok-seok, mang Kuncung menyapu teras tersebut pelan-pelan.</p>
<p>&#8220;Haaaaahhhh&#8230;.!!!&#8221; Panji berteriak keras di dekat daun telinga Rama dan telah membuat Rama spontan melompat terkejut setelah ditakut-takuti.</p>
<p>&#8220;Sialan elo.!&#8221; Rama mengelus dadanya, karena sangat kaget.</p>
<p>&#8220;Mana hantunya&#8230;??&#8221; Dasar, anak super penakut..!” ledek Panji sambil menahan tawa. Arjuna juga sempat ingin meluapkan tawanya, tapi masih bisa ia tahan.</p>
<p>&#8220;Sudah-sudah, gue mau mandi dulu ah&#8230;! Setelah kita mandi, kita jalan-jalan.&#8221; Jelas Arjuna dengan santai.</p>
<p>&#8220;Eh, ini Rama juga minta di mandiin! Hahaha&#8230;&#8221; celoteh Panji sambil berlalu, derai tawanya terdengar amat nyaring.</p>
<p>Rama yang tetap tidak berani kembali ke kamarnya, akhirnya harus menanti di kamar Arjuna. Tak lama pintu kamar mandi terbuka.</p>
<p>&#8220;Sana mandi&#8230;!&#8221; kata Panji.</p>
<p>&#8220;Abis ini kita mau jalan-jalan&#8230;!&#8221; Arjuna menegaskan lagi.</p>
<p>&#8220;Tapi elo tetep di kamar kan&#8230;?&#8221; kembali Rama merengek seperti anak kecil.</p>
<p>&#8220;Iya, gua tetep di kamar&#8230;!&#8221; sahut Arjuna.</p>
<p>Akhirnya Rama pun masuk ke kamar mandi. Sementara Arjuna mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Dari dalam kamar mandi sudah terdengar kucuran air yang sedang ditampung di dalam ember. Segera Arjuna pun mencolokkan kabel hair dryer-nya.</p>
<p>Arjuna asyik menata rambutnya. Tiba-tiba Arjuna merasa sedikit rasa aneh. Rasa aneh yang membuatnya membalikkan tubuh. Pandangannya mengitari seluruh ruangan kamarnya. Namun tak ada apa-apa di kamar itu.</p>
<p>&#8220;Ahh&#8230;gue sudah tertular oleh virus Rama..!&#8221; ujar Arjuna dlm hati. Lalu Arjuna pun melanjutkan menata rambutnya.</p>
<p>Di dalam kamar mandi, Rama rupanya hendak buang hajat terlebih dulu. Dirinya sedikit merasa tenang, karena ia mendengar suara hair dryer yang menandakan bahwa di balik pintu kamar mandi ini ada orang lain selain dirinya. Rama bergegas mengambil sebuah majalah yang tak jauh tergeletak di dekat closet. Dirinya mulai merasa santai. Rama terus membaca majalah itu, hingga tanpa disadarinya, suasana kamar mandi terasa menjadi dingin. Suara hair dryer Arjuna pun tidak terdengar lagi.</p>
<p>Tiba-tiba terasa ada seperti hembusan angin di kuduknya. Awalnya Rama belum menyadarinya. Lalu ada hembusan angin yang lebih dingin dan lebih keras lagi di kuduknya. Kali ini Rama tersentak.. Dirinya hendak berteriak, namun rasa gugup telah menyulitkannya untuk berkata-kata apalagi berteriak. Dalam keadaan panik, segera Rama membersihkan diri seadanya, dan ketika itulah tiba-tiba seperti ada kepulan asap rokok yang sengaja dihembuskan dari arah samping kanan persis ke wajahnya.</p>
<p>Wajah Rama langsung berubah menjadi pucat pasi, jantungnya berdetak cepat. Tanpa pikir panjang, Rama berdiri dan berlari sekencang-kencang keluar dari kamar mandi. Dirinya sudah tidak memperdulikan lagi bahwa resleting celananya belum terpasang dengan benar.</p>
<p>Pintu kamar mandi terbuka, dilihatnya Arjuna sudah tertidur lagi. Segera di guncang-guncangkan tubuh Arjuna.</p>
<p>&#8220;Arjuna&#8230;!!!&#8221; jerit tertahan Rama</p>
<p>&#8220;Arjunaaaaaa&#8230;!!!&#8221; Kali ini Rama berkata dengan suara yang lebih kencang lagi.</p>
<p>Arjuna kaget dan bangun seketika.</p>
<p>&#8220;Apa-apaan sich&#8230;?!&#8221; Arjuna menggerutu sambil melihat heran pada Rama.</p>
<p>&#8220;Elo masih belom mandi juga&#8230;?!&#8221; tanya Arjuna.</p>
<p>Tapi Rama tak langsung menjawab.</p>
<p>&#8220;Ada apa lagi sich&#8230;.???&#8221; Arjuna mulai sedikit kesel.</p>
<p>Dengan gemetar, Rama menceritakan kejadian yang baru dialaminya.</p>
<p>&#8220;Ah, gue tadi mandi, gak ada apa-apa&#8230;!&#8221; sahut Arjuna sambil melangkah ke arah kamar mandi.</p>
<p>&#8220;Tuch, gak ada apa-apa kan?&#8221; Arjuna pun membuka lebar-lebar pintu kamar mandi itu</p>
<p>&#8220;Gila lo ya&#8230;, Elo tuch masih bau&#8230;!&#8221; ketus Arjuna sambil memandang jengkel pada Rama. Rama tak peduli dirinya diperhatikan. Ia justru sibuk mengamati kembali keadaan di kamar mandi karena masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.</p>
<p>&#8220;Udah sana mandi&#8230;!&#8221; Gua tunggu di depan pintu dech..!&#8221; perintah Arjuna.</p>
<p>Dengan penuh keraguan Rama melangkahkan kakinya, menapakkan kaki di lantai kamar mandi yang dingin itu. Pintu kamar mandipun tak berani ditutupnya rapat-rapat. Guyuran demi guyuran air terdengar sangat terburu-buru. Akhirnya segalanya usai. Disambarnya handuk dan segera Rama mengenakan pakaiannya, lalu berhambur menuju pintu.</p>
<p>Arjuna yang sedari tadi menunggu di luar kamar mandi menatap tajam ke arah Rama, dan bertanya,</p>
<p>&#8220;Ga ada apa-apa kan..?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi sumpah, tiba-tiba tadi ada asap yang seperti sengaja disemburkan ke wajah gue..!&#8221; raut wajah Rama nampak sangat ketakutan. Sehingga Arjuna tidak melanjutkan pembicaraan tersebut.</p>
<p>Sementara itu, Panji yang tidak tahu apa yang terjadi ternyata telah siap di ruang tamu, menanti kedua sahabatnya. Akhirnya, mereka bertiga berangkat menuju kebun teh yang hijau dan menyegarkan. Perjalanan menjelajah kebun teh benar-benar mereka nikmati. Menikmati indahnya pemandangan sambil makan jagung manis bakar yang segar. Dan menikmati aneka warung rakyat yang menyediakan aneka panganan asal daerah itu.</p>
<p>Beberapa saat berlalu, hingga tak terasa matahari telah bergeser menjelang sore hari. Akhirnya ketiga sahabat itu memutuskan kembali ke Vila Merah Bata. Setelah beristirahat sejenak di kamar, mereka kembali berkumpul di ruang keluarga yang luas, menikmati malam terakhir di Vila Merah Bata.</p>
<p>Menu pisang manis yang digoreng dengan taburan keju dan kopi hangat, telah tersaji dan menjadi panganan yang cocok untuk dinikmati sore itu. Barulah Arjuna menceritakan kepada Panji mengenai kejadian di kamar mandi pada pagi harinya.</p>
<p>&#8220;Ah, elo cuma terlalu tegang, bisa jadi elo cuma berhalusinasi kan..!?&#8221; kata Panji sambil menepuk pundak Rama.</p>
<p>&#8220;Tapi ini bener, kepulan asap itu benar-benar disemburkan di wajah gue..!&#8221; Rama menjelaskan dengan suara yang kembali terdengar gemetar.</p>
<p>&#8220;Tapi sejak kita sampai, kenapa cuma elo aja yang diganggu oleh asap-asap itu..?&#8221; Panji tetap tak percaya.</p>
<p>&#8220;Gue dan Arjuna engga kan..? senyum simpul Panji kali ini terlihat sangat menjengkelkan di mata Rama.</p>
<p>&#8220;Ah&#8230;sudahlah, ga usah dibahas&#8230;!&#8221; Rama pun merajuk. Mereka kembali menikmati hidangan yang tersaji.</p>
<p>Tak lama kemudian malam menjelang. Masing-masing kini telah memasuki kamar tidurnya. Rama dan Arjuna tetap sekamar di kamar kedua yang berada di lorong rumah itu. Sedangkan Panji tetap di kamar yang paling belakang.</p>
<p>&#8220;Panji emang gila..!&#8221; Rama terdengar gusar</p>
<p>&#8220;Lho kenapa&#8230;?&#8221; tanya Arjuna dengan wajah bingung.</p>
<p>&#8220;Bukannya pindah ke kamar di depan lorong, tapi masih aja nekat di kamar yang paling belakang itu&#8230;!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ihhh&#8230;sereeeemmm&#8230;!!!&#8221; lanjut Rama</p>
<p>&#8220;Ngaco loe&#8230;!&#8221; ketus Arjuna</p>
<p>&#8220;Keluarga gue tuch udah dari dulu menempati vila ini tapi ga ada kejadian apa-apa, tau&#8230;! Jangan gossip ah&#8230;! Ayooo tidur&#8230;!&#8221; Arjuna kesel.</p>
<p>Rama diam saja.</p>
<p>&#8220;Kalo berisik, elo pindah sana ke kamar depan&#8230;!&#8221; Arjuna setengah ngeledek pada Rama</p>
<p>Tanpa panjang lebar lagi Rama dan Arjuna pun terlelap dalam mimpi. Sementara Panji kali ini agak kesulitan memejamkan matanya. Hingga pukul 24.00 dirinya belum juga bisa tertidur. Setelah berjuang melelapkan dirinya untuk bisa tertidur, akhirnya matanya mulai terasa berat. Makin berat, dan akhirnya tertidur.</p>
<p>Panji berusaha menarik selimutnya. karena dirinya merasakan dingin yang menggigit. Namun, selimut itu terasa tak kunjung berhasil ditariknya. Hingga akhirnya Panji membuka matanya. Tubuhnya tiba-tiba menjadi dingin dan kaku. Sulit digerakkan, serasa ada sesuatu beban yang menindihnya. Matanya nanar menatap ke arah daun pintu kamarnya. Rasa kantuknya kini telah lenyap, berganti dengan sebuah perasaan takut yang luar biasa.</p>
<p>Di daun pintu itu, telah berdiri seseorang dengan mengenakan baju putih dan sebuah sarung diselempangkan di pundaknya. Sebuah kopiah tua bertengger di atas kepala orang itu. Ia menatap dengan tatapan yang dingin dan amat menakutkan. Wajah lelaki itu amat pucat. Ia hanya berdiri kaku tak bergerak, namun menatap dengan sorot mata yang amat sulit dilupakan seumur hidup Panji.</p>
<p>Panji mengerjap-ngerjapkan kedua matanya untuk memastikan bahwa dirinya sedang tidak bermimpi. Perlahan kesadarannya makin pulih. Maka Panji makin meronta-ronta. Namun dirinya tak sanggup melawan sebuah energi yang sepertinya menindih tubuhnya. Mulutnya berusaha berteriak, namun tiada suara yang bisa keluar dari kerongkongannya. Akhirnya, Panji hanya sanggup memejamkan kedua bola matanya sambil memanjatkan doa pada Tuhan.</p>
<p>Dengan sisa-sisa keberanian yang tertinggal, Panji berusaha membuka matanya. Ia kembali mencoba melirik ke arah sudut daun pintu di mana mahluk tadi berdiri kaku. Dilihatnya, mahluk itu bergerak perlahan menuju arah pintu. Barulah disadari oleh Panji bahwa mahluk itu tak berkaki. Keringat dingin makin membanjiri seluruh tubuh, kening dan kedua telapaknya. Ketakutannya kini memuncak sudah. Panji kembali meronta-ronta. Desah napasnya kian tak menentu. Namun tetap saja dirinya tak mampu bergerak dan tiada suara yang sanggup keluar dari kerongkongannya.</p>
<p>Sementara itu, di kamar lain, Arjuna dan Rama terbangun dan kebingungan karena mendengar lenguhan-lenguhan suara yang mirip Panji. Suara itu makin lama makin tak beraturan. Arjuna menatap arah jam dinding di kamar. Arah jarum jam menunjukkan ke angka 4.30. Sudah menjelang waktunya Subuh.</p>
<p>&#8220;Arjuna, elo dengar ga..?&#8221; tanya Rama penasaran dan sedikit takut.</p>
<p>&#8220;Iya, gue dengar..!&#8221; sahut Arjuna penasaran.</p>
<p>&#8220;Gue mau lihat.!&#8221; Arjuna segera berhambur ke luar kamar.</p>
<p>&#8220;Wooooii..!! Tunggu&#8230;!!!&#8221; Rama segera menyusul.</p>
<p>Setelah mereka berdua bertatapan satu sama lain, Arjuna dan Rama mendorong pintu kamar Panji. Mereka melihat sahabatnya tengah meronta-ronta tidak jelas penyebabnya. Mata Panji tetap tertutup, tapi tubuhnya berkeringat sebesar biji kacang. Mulutnya seperti mengucapkan sesuatu yang mirip seperti orang yang tengah mengerang. Tubuh Panji segera diguncang-guncangkan oleh Arjuna, sambil berkata.</p>
<p>&#8220;Bangun&#8230;!!&#8221;</p>
<p>&#8220;Panji&#8230;Panji&#8230;Bangunnn&#8230;!!!&#8221; Teriak Arjuna.</p>
<p>Lalu tampaklah Panji mulai membuka matanya. Tubuhnya gemetar dasyat. Matanya langsung mengarah ke arah daun pintu. Arjuna dan Rama mengikuti arah mata Panji dengan penuh keheranan</p>
<p>&#8220;Ada apa..?&#8221; tanya Arjuna</p>
<p>&#8220;Elo liat ga, mahluk yang tadi berdiri di sana&#8230;?&#8221; tanya Panji panik</p>
<p>&#8220;Engga. Di sana gak ada apa-apa&#8230;!&#8221; hampir bersamaan Arjuna dan Rama menyahut.</p>
<p>&#8220;Mungkin tadi elo cuma mimpi buruk!&#8221; Arjuna berusaha menenangkan hati Panji</p>
<p>&#8220;Udah azan tuch&#8230;, yuuuk sholat&#8230;!&#8221; Ajak Arjuna lebih lanjut.</p>
<p>Seusai sholat, ketiga sahabat itu berkumpul di ruang keluarga. Panji terlihat lebih diam daripada biasanya. Pikirannya melayang. Dirinya masih bertanya-tanya, apakah benar kejadian yang baru dialaminya hanyalah sekedar mimpi buruk semata. Sungguh masih ada rasa penasaran di dalam hatinya. Namun tiada jawaban pasti yang bisa memuaskannya. Dirinya kembali terdiam menatap langit-langit putih vila berbata merah.</p>
<p>Setelah ketiga sahabat ini menikamati sarapan pagi, mereka sepakat untuk segera kembali saja ke kota. Mereka pun berkemas dan berpamitan pada Mang Kuncung.</p>
<p>&#8220;Hati-hati di jalan ya Den..!&#8221; Demikian salam perpisahan lirih yang diucapkan Mang Kuncung.</p>
<p>Ketika mobil Arjuna telah jauh dari pandangan Mang Kuncung, ia segera menutup pintu gerbang besi besar berwarna hitam itu. Dirinya berjalan dengan tubuh bungkuknya menuju kamarnya, yang berada di bagian paling belakang vila.</p>
<p>Sesampainya di kamar itu, segera saja Mang Kuncung membuka sebuah lemari kecil. Dari dalam lemari kecil itu dikeluarkannya beberapa barang yang amat janggal untuk dipakai oleh seseorang pada umumnya. Asap dupa pun dinyalakan. Suasana makin mistis, setelah aroma dupa tercium dan dari mulut Mang Kuncung terdengar bahasa yang aneh.</p>
<p>Mata Mang Kuncung pun terpejam. Suara-suara yang keluar dari mulut Mang Kuncung makin keras dan membuat suasana mistis itu berubah menjadi suasana yang mulai menakutkan.</p>
<p>Tiba-tiba, mata Mang Kuncung terbuka dan ada sesuatu yang berubah. Sorot mata tua Mang Kuncung, kini berubah menjadi sorot mata sosok yang sempat dilihat oleh Panji, yaitu sorot mata yang dingin dan menakutkan.</p>
<p>Ya&#8230;ternyata Mang Kuncung yang telah menua dan berjalan bungkuk itu adalah seseorang yang sedang mempelajari sebuah ilmu hitam, dan vila ini dirasakannya cocok sebagai tempatnya bersembunyi. Oleh karena itu dirinya akan berusaha mengusir semua tamu yang hendak menginap. Karena kini dirinyalah sang penguasa Vila Berbata Merah itu! Termasuk mengusir Pemilik aslinya..!!!</p>
<p>THE END</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ayakamariko.wordpress.com/544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ayakamariko.wordpress.com/544/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ayakamariko.wordpress.com/544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ayakamariko.wordpress.com/544/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ayakamariko.wordpress.com/544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ayakamariko.wordpress.com/544/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ayakamariko.wordpress.com/544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ayakamariko.wordpress.com/544/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ayakamariko.wordpress.com/544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ayakamariko.wordpress.com/544/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ayakamariko.wordpress.com/544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ayakamariko.wordpress.com/544/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ayakamariko.wordpress.com/544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ayakamariko.wordpress.com/544/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayakamariko.wordpress.com&amp;blog=11603173&amp;post=544&amp;subd=ayakamariko&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayakamariko.wordpress.com/2011/05/30/cerpen-misteri-vila-merah-bata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53df9d0e81500fe69e8fb5b7ce9ac7d9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ayakamariko</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SENI MEMBUNGKUS BARANG DI JEPANG</title>
		<link>http://ayakamariko.wordpress.com/2011/03/22/seni-membungkus-barang-di-jepang/</link>
		<comments>http://ayakamariko.wordpress.com/2011/03/22/seni-membungkus-barang-di-jepang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Mar 2011 11:08:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayakamariko</dc:creator>
				<category><![CDATA[SEKILAS TENTANG JEPANG]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ayakamariko.wordpress.com/?p=535</guid>
		<description><![CDATA[SALAH SATU CONTOHNYA&#8230;.&#160; Bila berkesempatan berbelanja di Jepang, mungkin kita sempat memperhatikan betapa para pramuniaga di Jepang akan serta merta membungkus barang belanjaan kita dengan rapi dan telaten. Setelah selesai melipat, kadang masih ditambah dengan hiasan pita sebagai pemanis. Dan itu semua dilakukan tanpa perlu kita mengeluarkan biaya ekstra lagi. Kegiatan itu luar biasanya dilakukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayakamariko.wordpress.com&amp;blog=11603173&amp;post=535&amp;subd=ayakamariko&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:center;">
<dl>
<dt><a href="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/03/190328_146811308716241_100001621170596_313779_6158736_n.jpg"></a><a href="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/03/190328_146811308716241_100001621170596_313779_6158736_n.jpg"><img class="aligncenter" title="190328_146811308716241_100001621170596_313779_6158736_n" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/03/190328_146811308716241_100001621170596_313779_6158736_n.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a>SALAH SATU CONTOHNYA&#8230;.&nbsp;</p>
</dt>
</dl>
</div>
<p>Bila berkesempatan berbelanja di Jepang, mungkin kita sempat memperhatikan betapa para pramuniaga di Jepang akan serta merta membungkus barang belanjaan kita dengan rapi dan telaten. Setelah selesai melipat, kadang masih ditambah dengan hiasan pita sebagai pemanis. Dan itu semua dilakukan tanpa perlu kita mengeluarkan biaya ekstra lagi. Kegiatan itu luar biasanya dilakukan sebagai bagian dari service yang diberikan oleh pihak departemen store tersebut.</p>
<p>Ternyata membungkus barang sudah merupakan budaya di Jepang. Semua dilakukan dengan penuh ketelitian, detail &amp; memenuhi nilai-nilai keindahan yang luar biasa, sehingga sudah bisa di sebut sebagai seni.</p>
<p>Sampai ada seorang perancang-perancang seni membungkus yang terkenal. Salah satunya (info dari internet) adalah Oka Hideyaki. Yang terkenal dengan seni membungkus kado yang terbuat dari bahan-bahan alami seperti dari jerami dan bambu.<span id="more-535"></span></p>
<p>Dalam sejarahnya budaya membungkus barang ini tercatat di mulai di periode Edo (1603-1867). Di masa di mana kain banyak digunakan untuk membawa dan membungkus beragam barang. Membungkus barang dengan kain segi-empat  ini dikenal sebagai seni FUROSHIKI.</p>
<p>Baru kemudian berkembang cara membungkus barang dengan kertas dan kantong plastik.</p>
<p>Ada anggapan yang masih beredar di dalam masyarakat Jepang, bahwa bila ada barang yang dibungkus dengan furoshiki maka barang yang berada di dalamnya adalah lebih berharga dibanding dengan barang yang dibungkus dengan bahan pembungkus lain. Walau sebenarnya barangnya sama.</p>
<p>Di tengah ke macam-macam kesibukan orang Jepang dengan segala aktifitasnya dan juga di tengah kemodernanannya, seni membungkus barang ini terus bisa hidup.</p>
<p>Karena saking bagus kemasan, kadang-kadang membuat banyak penerima oleh-oleh malas membuka kado yang diberikan walau pun itu isinya hanya sekedar kue-kue kering semata.</p>
<p>Mungkin foto-foto berikutnya bisa mewakilinya. Di mana kemasannya dibuat sedemikian sempurna. Sebuah kantong yang hanya berisi 5 potong kue kering yang terbuat dari ocha (green tea).</p>
<p>Untuk menjamin rasa dari kue kering ocha ini, maka kue ini masih dibungkus lagi dengan plastik kedap udara</p>
<p>Nah&#8230;gimana ga bikin orang malas membukanya dan jadi enjoy dengan hanya melihat-lihat saja. Persis seperti kalo kita mengamati benda seni bukan?</p>
<p>Lalu kepikiran lagi, bisa kebayang ga kalau negara Jepang ga punya suatu tehnologi industri yang mengolah sampah-sampah rumah tangga ini&#8230;? Wuihhhh&#8230;pastinya sampahnya bakal numpuk ke seluruh bagian negara Jepang ya&#8230;.???</p>
<p>Untungnya hal tersebut, sejauh ini dapat ditangani secara baik oleh pemerintah Jepang.</p>
<p>Demikian sharenya hari ini, semoga bisa menjadi bacaan ringan di sore hari ini&#8230;</p>
<div id="attachment_537" class="wp-caption aligncenter" style="width: 235px"><a href="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/03/190357_146811378716234_100001621170596_313782_5877139_n.jpg"><img class="size-medium wp-image-537" title="190357_146811378716234_100001621170596_313782_5877139_n" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/03/190357_146811378716234_100001621170596_313782_5877139_n.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">KETIKA CLIPNYA DI BUKA...</p></div>
<div id="attachment_538" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/03/195833_146811365382902_100001621170596_313781_8346258_n.jpg"><img class="size-medium wp-image-538" title="195833_146811365382902_100001621170596_313781_8346258_n" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/03/195833_146811365382902_100001621170596_313781_8346258_n.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Clip yang kelihatannya sangat sederhana ini, ternyata penggunaannya sangat njelimet. Karena kantong kue yang telah terbuka, akan sangat mudah ditutup dengan rapat lagi.  </p></div>
<div id="attachment_539" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/03/198316_146811465382892_100001621170596_313785_7660135_n.jpg"><img class="size-medium wp-image-539" title="198316_146811465382892_100001621170596_313785_7660135_n" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/03/198316_146811465382892_100001621170596_313785_7660135_n.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Sambil menikmati kue, kita masih di suguhkan dengan berbagai informasi  tentang sejarah dari para pencipta kue tersebut, tulisan tentang ocha  yang baik dan tentang sejarah pabrik yang membuat kue ini...Clip yang kelihatannya sangat sederhana ini, ternyata penggunaannya sangat njelimet. Karena kantong kue yang telah terbuka, akan sangat mudah ditutup dengan rapat lagi.  </p></div>
<div id="attachment_540" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/03/183682_146811435382895_100001621170596_313784_7438444_n.jpg"><img class="size-medium wp-image-540" title="Untuk menjaga rasa dari kue kering Ocha Green Tea ini masih dibungkus lagi dengan kantong plastik kedap udara" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/03/183682_146811435382895_100001621170596_313784_7438444_n.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Untuk menjaga rasa dari kue kering Ocha Green Tea ini masih dibungkus lagi dengan kantong plastik kedap udara</p></div>
<p><!--more--></p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ayakamariko.wordpress.com/535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ayakamariko.wordpress.com/535/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ayakamariko.wordpress.com/535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ayakamariko.wordpress.com/535/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ayakamariko.wordpress.com/535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ayakamariko.wordpress.com/535/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ayakamariko.wordpress.com/535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ayakamariko.wordpress.com/535/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ayakamariko.wordpress.com/535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ayakamariko.wordpress.com/535/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ayakamariko.wordpress.com/535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ayakamariko.wordpress.com/535/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ayakamariko.wordpress.com/535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ayakamariko.wordpress.com/535/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayakamariko.wordpress.com&amp;blog=11603173&amp;post=535&amp;subd=ayakamariko&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayakamariko.wordpress.com/2011/03/22/seni-membungkus-barang-di-jepang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53df9d0e81500fe69e8fb5b7ce9ac7d9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ayakamariko</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/03/190328_146811308716241_100001621170596_313779_6158736_n.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">190328_146811308716241_100001621170596_313779_6158736_n</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/03/190357_146811378716234_100001621170596_313782_5877139_n.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">190357_146811378716234_100001621170596_313782_5877139_n</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/03/195833_146811365382902_100001621170596_313781_8346258_n.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">195833_146811365382902_100001621170596_313781_8346258_n</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/03/198316_146811465382892_100001621170596_313785_7660135_n.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">198316_146811465382892_100001621170596_313785_7660135_n</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/03/183682_146811435382895_100001621170596_313784_7438444_n.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Untuk menjaga rasa dari kue kering Ocha Green Tea ini masih dibungkus lagi dengan kantong plastik kedap udara</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CERPEN: KRISTAL ITU TAK LAGI BENING</title>
		<link>http://ayakamariko.wordpress.com/2011/03/18/cerpen-kristal-itu-tak-lagi-bening/</link>
		<comments>http://ayakamariko.wordpress.com/2011/03/18/cerpen-kristal-itu-tak-lagi-bening/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Mar 2011 13:55:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayakamariko</dc:creator>
				<category><![CDATA[CERPEN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ayakamariko.wordpress.com/?p=531</guid>
		<description><![CDATA[Setelah jauh berjalan, tiba-tiba kayuhan sepeda Arjuna terhenti sejenak. Matanya menatap kagum akan keindahan pemandangan yang terpampang di hadapannya. Sepetak sawah tak luas yang makin sulit dijumpai di kota yang selalu sibuk ini. Sepetak sawah yang dipenuhi bulir-bulir padi yang merunduk dan menguning. Langit biru Minggu pagi cerah itu, menambah indahnya keceriaan alam. Hatinya yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayakamariko.wordpress.com&amp;blog=11603173&amp;post=531&amp;subd=ayakamariko&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah jauh berjalan, tiba-tiba kayuhan sepeda Arjuna terhenti sejenak. Matanya menatap kagum akan keindahan pemandangan yang terpampang di hadapannya. Sepetak sawah tak luas yang makin sulit dijumpai di kota yang selalu sibuk ini. Sepetak sawah yang dipenuhi bulir-bulir padi yang merunduk dan menguning. Langit biru Minggu pagi cerah itu, menambah indahnya keceriaan alam. Hatinya yang menjadi gembira dapat melepas sedikit penat dari kesibukan hari-hari pun langsung memanjatkan puji dan syukur atas karunia yang masih diberikan oleh Sang Maha Pencipta.</p>
<p>Tak lama Arjuna kembali mengayuh sepedanya. Kembali terdengar deru suara ribut dari kendaraan lalu lalang di jalan utama. Matanya kini berjuang melawan asap dan debu. .Beberapa kali kayuhan sepeda harus berjalan perlahan bahkan berhenti, karena berbagai hambatan yang tak seharusnya ada bila semua pemakai jalan negeri ini bisa disiplin.</p>
<p>Satu jam kemudian, Arjuna pun telah tiba kembali di sebuah rumah bercat putih. Rumah yang telah didiaminya selama 15 tahun bersama istrinya yang cantik dan baik dan 2 orang anaknya yang pandai, yang telah berusia 10 dan 14 tahun. Sungguh suatu gambaran rumah tangga idaman banyak pasangan. Sehingga tak jarang ketika berjalan-jalan bersama-sama, banyak mata yang menatap mereka dengan penuh rasa kagum bahkan ada juga yang sampai merasa iri.<span id="more-531"></span></p>
<p>Terdengar langkah perlahan Srikandi. Wanita yang telah menjadi bagian hidupnya. Penampilannya tetap prima walau telah memberikannya 2 orang anak. Tutur katanya pun halus dan selalu lembut bersuara. Dan juga sangat taat beribadah. Makin lengkaplah kesempurnaannya sebagai wanita ideal, impian banyak kaum Adam.</p>
<p>&#8220;Bagaimana nge-gowesnya hari ini sayang..?&#8221; ucap lembut Srikandi sambil menyodorkan segelas limun dingin.</p>
<p>&#8220;Alhamdulillah&#8230;lancar ma&#8230;!&#8221; balas Arjuna.</p>
<p>&#8220;Bagaimana kalau sekali-kali Mama ikut ya..?&#8221; pinta Arjuna.</p>
<p>&#8220;Ah&#8230;Papa bisa aja&#8230;tapi kalau boleh Mama pilih di rumah aja lah Pap&#8230;!&#8221;</p>
<p>&#8220;Papa kan tau bahwa Mama kurang pas dengan kegiatan sepedaan seperti itu ah&#8230;!&#8221; lanjut Srikandi, sambil menghapuskan tetesan keringat yang masih mengalir di wajah Arjuna.</p>
<p>&#8220;Papa ajah dengan teman-temannya ya&#8230;!&#8221; Srikandi pun berlalu sambil tersenyum manis</p>
<p>Namun tanpa sepengetahuan Srikandi, ada sebuah rahasia besar yang kini bermain-main dalam benak kepala Arjuna. Sejak bertemu dengan Shinta, hati Arjuna merasakan ada sesuatu yang berbeda yang terjadi pada dirinya. Bukan maksud hati hendak membandingkan antara Srikandi dan Shinta tapi pergulatan itu makin hari semakin kuat mencengkram pikirannya.</p>
<p>Pertemuan yang tidak disengaja setahun lalu dengan Shinta, teman semasa SMAnya saat reunian digelari. Pertemuan demi pertemuan berlanjut dengan berbagai acara nge-gowes bersama setelah acara reunian itu. Perlahan tapi pasti Arjuna merasakan ada sesuatu rasa yang tidak biasa saat dirinya bersama Shinta. Shinta yang kini telah hidup sendiri lagi. Pernikahannya bersama Rama kandas 3 tahun yang lalu. Namun Shinta tetap tegar. Menjadi orang tua tunggal dari seorang anak laki-laki berusia 8 tahun.</p>
<p>Kemandirian dan rasa percaya diri Shinta telah menimbulkan rasa kagum di hati Arjuna. Pribadi yang hangat dan kuat serta sikap spontan apa adanya membuatnya selalu nyaman bersamanya. Rasa humor dan keayuannya makin membuatnya terbuai oleh perasaan suka yang menggila.</p>
<p>Perasaan itu telah setahun berhasil disembunyikan dari Srikandi. Sebagai orang yang telah dewasa, maka Arjuna pun sadar bahwa harus  menekan perasaan yang kian tumbuh subur di lubuk hati yang terdalam. Rasa tanggung jawab pada keluarga yang sangat disayanginya membuatnya untuk  berusaha menjaga tingkah lakunya dan logikanya&#8230;</p>
<p>&#8220;Heiii&#8230;Arjuna&#8230;.!!!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ingatlah&#8230;.terlalu banyak yang akan dikorbankan&#8230;!!!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kamu akan melukai perasaan Srikandi&#8230;!!!&#8221;</p>
<p>&#8220;Mengecewakan anak-anak-mu&#8230;.!!!&#8221;</p>
<p>&#8220;Masyarakat akan menuding kamu sebagai laki-laki yang tidak bersyukur, lemah iman, bodoh dan tidak dewasa&#8230;!!!&#8221;</p>
<p>Arjuna tak inginkan itu semua&#8230;.!!! Maka dibenamkan dirinya dalam-dalam pada semua pekerjaannya. Dibuatnya dirinya sibuk bekerja tiada henti&#8230;! Sehingga banyak keberhasilan telah diraihnya. Arjuna berharap bahwa dengan semua itu, maka akan bisa menghapus bayang-bayang Shinta yang terus terbayang di pelupuk matanya.</p>
<p>Telepon di hp-nya berdering&#8230;Nampak di layar monitor hp-nya sebuah nama yang amat ingin ditemuinya. SHINTA&#8230;! Entah mengapa debar jantung langsung terdengar gaduh di telinganya. Seluruh aliran darah seakan meledak ke segala penjuru syaraf-syaraf tubuh. Namun Arjuna berhasil menenangkan dirinya, sehingga suaranya terdengar biasa saja dan tetap berwibawa.</p>
<p>Ternyata Shinta sedang membuat mendata siapa saja yang berminat ikut dalam acara nge-gowes bareng ke luar kota selama dua hari. Arjuna serasa kembali remaja, tanpa berpikir panjang langsung mendaftarkan diri.</p>
<p>&#8220;Mas&#8230;boleh ajak keluarga lho&#8230;!&#8221; ujar Shinta</p>
<p>&#8220;Kamu tau kan istri-ku itu orang rumahan&#8230;!&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi ga akan mau ikut acara outing macam  ginian&#8230;!&#8221; Arjuna membeberkannya tanpa sungkan.</p>
<p>&#8220;Oh..gitu ya???&#8221;</p>
<p>&#8220;Oke dech&#8230;kalau gitu sampai ketemu..!&#8221; ucap ceria Shinta</p>
<p>Hati Arjuna mekar sudah&#8230;! Pucuk di cinta ulam tiba&#8230;Bagaikan remaja tengah jatuh cinta, tak sabar untuk bisa berjumpa dengan pujaan hati.</p>
<p>Sementara Srikandi di rumah masih belum menyadari apa yang tengah berkecamuk dalam diri Arjuna. Baginya rumah tangganya baik-baik saja dan tetap berdiri kokoh. Bukankah dirinya telah berbuat sesuatu yang terbaik untuk suami, anak-anaknya dan rumah tangganya? Tidak pernah sekali pun dirinya menodai arti kesuciannya. Tidak sekali pun tercatat ada cela dalam tindakan atau ucapannya yang tercemar. Rumah tangganya bening bagaikan sebuah bola kristal yang indah.</p>
<p>Maka ketika Arjuna mengatakan bahwa akan pergi nge-gowes bersama teman-temannya, Srikandi pun dengan penuh percaya diri melepas kepergian sang suami.</p>
<p>&#8220;Ah, biarlah Arjuna bersenang-senang bersama teman-teman lamanya..!&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan kah laki-laki memang harus kita beri kebebasan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebagai istri yang baik, tentunya harus bisa memahami dan mempercayai nya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Wanita tidak boleh egois&#8230;!&#8221;</p>
<p>&#8220;Karena kalau sudah berada di luar dari rumah ini, Arjuna pun menjadi milik orang-orang tempatnya bekerja, saudara-saudaranya dan teman-temannya..!&#8221; itulah keyakinan dari seorang Srikandi.</p>
<p>Nampak banyak teman-teman telah berkumpul di meeting point yang telah ditentukan. Mata Arjuna mencari seorang sosok yang amat ingin ditemuinya. Akhirnya sosok itu pun terlihat.</p>
<p>&#8220;Ah&#8230;Shinta kamu memang cantik dan selalu ceria&#8230;!&#8221; desah hati Arjuna.</p>
<p>Shinta pun nampak melambai-lambaikan tangannya, memberikan kode agar Arjuna mendekatinya. Senyuman indah tersungging menyambutnya. Membuat seluruh tubuh Arjuna lemas yang hampirnya Arjuna tak kuasa menahan  semua rasa yang terpendam selama ini di hadapan teman-teman yang lainnya.</p>
<p>Perjalanan nge-gowes bareng ini makin mendekatkan hubungan Arjuna dan Shinta dan makin sulit untuk menutupi perasaan satu dan lainnya.</p>
<p>&#8220;Arjuna&#8230;rasanya hubungan kita tak akan berujung kemana-mana&#8230;!&#8221; Shinta memulai pembicaraan di suatu sore, tempat di mana seluruh team akan beristirahat.</p>
<p>Heninggg&#8230;..</p>
<p>Arjuna pun mengakuinya bahwa hubungan mereka ini amat sulit untuk bisa dilanjutkan. Tapi entahlah, rasanya ingin selalu berdekatan dengannya.</p>
<p>&#8220;Shinta, tolong beri sedikit waktu&#8230;!&#8221; pinta Arjuna.</p>
<p>Shinta menghela nafasnya dalam-dalam, &#8220;Maksud mu biarkan hubungan ini mengalir apa adanya kah..?&#8221;</p>
<p>Akhirnya mereka pun sepakat bahwa hubungan mereka hanyalah sebuah hubungan teman tapi mesra. Perasaan Arjuna dan Shinta makin sulit ditutup-tutupi. Reaksi teman-teman pun beragam. Ada yang cuek, ada yang mensupport, ada yang berusaha untuk mengingatkan bahkan tak kurang ada yang mencemooh&#8230;</p>
<p>Hubungan terus berlanjut, walau hanya sebatas hubungan telepon, hubungan jejaringan sosial dan acara kumpul-kumpul bareng. Dalam acara kumpul bareng Arjuna sudah senang dan bisa melepas semua penat dari kesibukkan rutinitas sehari-hari, walau hanya duduk di sebelah Shinta. Mendengar cerita-cerita cerianya. Menikmati candanya. Dan mengagumi keindahannya.</p>
<p>Tanpa di sadari oleh Arjuna, ada sepasang mata yang kini tengah menatapnya tajam di sebuah sudut meja cafe itu. Mata milik Bimo, kakak tertua Arjuna.</p>
<p>Betapa terperanjatnya Arjuna, ketika sadar bahwa sang Kakak telah berdiri dihadapannya. Dengan suara gugup Arjuna memperkenalkan teman-temannya termasuk Shinta pada Bimo. Tepukan halus dipundaknya dari seorang Bimo yang merupakan seorang kakak yang amat religius dan berkarakter kuat serta selalu jadi pengayom keluarga besar selama ini, terasa bagaikan teguran halus yang maha dasyat.</p>
<p>Setelah pertemuan di cafe itu, pikiran dan hati Arjuna menjadi gelisah. Di rumah, di kantor dan di setiap waktu. Membuat Arjuna sering merenung atas segala perbuatan dan tingkah lakunya selama ini.</p>
<p>Kala di rumah, di tatapnya wajah Srikandi dan wajah dua buah hatinya. Wajah-wajah yang benar-benar yang tidak ingin disakitinya. Wajah-wajah yang amat disayanginya. Namun, di sisi hati yang lain, sulit untuk tidak mengakui bahwa</p>
<p>telah hadir seseorang yang mengisinya.</p>
<p>Logikanya kembali menjerit,</p>
<p>&#8220;Heiii&#8230;Arjuna&#8230;.!!!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ingatlah&#8230;.terlalu banyak yang akan dikorbankan&#8230;!!!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kamu  akan melukai perasaan Srikandi&#8230;!!!&#8221;</p>
<p>&#8220;Mengecewakan anak-anak-mu&#8230;.!!!&#8221;</p>
<p>&#8220;Masyarakat akan menuding kamu sebagai laki-laki yang tidak bersyukur, lemah iman, bodoh dan tidak dewasa&#8230;!!!&#8221;</p>
<p>Dengan berat hati, Arjuna mulai menghindari segala pertemuan kumpul-kumpul atau menerima telepon dari Shinta. Walau itu pun akan melukai orang yang juga terlanjur disayanginya&#8230;</p>
<p>&#8220;Namun sekarang tidak ada jalan lain. Biarlah waktu yang akan menjawabnya&#8230;&#8221;</p>
<p>Arjuna pun merasakan sedih yang menyesakkan jiwa.</p>
<p>&#8220;Shinta, maafkan, ternyata jalan kita berbeda dan tidak mungkin kita bersatu, semoga kelak masih ada persimpangan yang akan mempertemukan kita lagi&#8230;!&#8221;</p>
<p>Kehidupan rumah tangga Arjuna dan Srikandi pun berlanjut dan berjalan seakan rumah tangga yang tetap utuh dan kokoh namun sebenarnya &#8220;KRISTAL ITU TAK LAGI BENING&#8230;.&#8221;<br />
<a href="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/03/185856_1601135068351_1235299109_31410338_5300454_n.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-532" title="185856_1601135068351_1235299109_31410338_5300454_n" src="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/03/185856_1601135068351_1235299109_31410338_5300454_n.jpg?w=203&#038;h=300" alt="" width="203" height="300" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ayakamariko.wordpress.com/531/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ayakamariko.wordpress.com/531/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ayakamariko.wordpress.com/531/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ayakamariko.wordpress.com/531/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ayakamariko.wordpress.com/531/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ayakamariko.wordpress.com/531/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ayakamariko.wordpress.com/531/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ayakamariko.wordpress.com/531/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ayakamariko.wordpress.com/531/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ayakamariko.wordpress.com/531/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ayakamariko.wordpress.com/531/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ayakamariko.wordpress.com/531/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ayakamariko.wordpress.com/531/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ayakamariko.wordpress.com/531/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayakamariko.wordpress.com&amp;blog=11603173&amp;post=531&amp;subd=ayakamariko&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayakamariko.wordpress.com/2011/03/18/cerpen-kristal-itu-tak-lagi-bening/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53df9d0e81500fe69e8fb5b7ce9ac7d9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ayakamariko</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayakamariko.files.wordpress.com/2011/03/185856_1601135068351_1235299109_31410338_5300454_n.jpg?w=203" medium="image">
			<media:title type="html">185856_1601135068351_1235299109_31410338_5300454_n</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
