h1

SECANGKIR SUSU HANGAT

February 3, 2010

Namaku adalah Genta….Anak ke dua dari tiga bersaudara. Ibuku berparas ayu. Kulitnya kuning langsat, tidak seperti kulitku yang hitam legam. Yach…kulitku lebih mirip dengan ayahku. Postur tubuh ayah tinggi, tegap dan sangat kokoh…Walau aku berbadan kokoh dan tegap, namun aku masih pendek dan kurus. Nah… mataku ah yang mirip dengan mata ibuku…bening dan indah…

Ibu sayang pada anak-anaknya. Tidak pernah membeda-bedakan satu dengan lainnya. Ibu adalah sosok yang lemah lembut. Sentuhannya sungguh membuat kami semua merasa nyaman dan terlindungi.Beliau sangat memperhatikan dan mengasihi kami semua.

Hubungan antara bersaudara pun sangat baik dan akrab…Setiap hari kami selalu bermain bersama….Permainan favorite kami adalah bermain bola dan saling bergumul bercanda ria bersama…

Ayahku adalah petugas keamanan di sebuah rumah…Tiap hari sibuk bekerja. Kerjanya berjalan kian kemari..menatap segala sesuatunya dengan mata tajam se tajam mata elang. Ketika beliau duduk pun tetap saja dalam posisi waspada…selalu siaga di tiap detik nya.

Kami sekeluarga tinggal di sudut belakang dari rumah majikan Ayah yang super besar ini. Halamannya sangat luas sekali. Rumput hijau terhampar mengelilingi sebuah kolam renang…Pohon-pohonnya pun bertebaran dengan berbagai jenis tanaman…Ada yang berbuah, berbunga dan banyak tanaman-tanaman lainnya…amat rindang dan nyaman sekali tinggal di sini.

Ibuku selalu berpesan agar kami tidak bermain terlalu jauh. Dan juga di minta untuk tidak mendekati daerah kolam renang tersebut. “Berbahaya nak…” demikian ibu mencoba mengingatkan kami semua.

Suatu hari, seperti hari-hari sebelumnya. Menjelang sore, aku dan saudara-saudara kandung ku bermain bersama-sama. Berkejar-kejaran sepuas-puasnya….

Namun karena asyiknya…Aku kurang hati-hati melihat keadaan…Tiba-tiba aku terjeblos…”Aaaaahhh….toloooooonggggg….!!!” Jeritku sekencang-kencangnya…
Terdengar suara ramai di atas sana….”Genta…Genta….kamu tidak apa-apa…?” Teriak kakakku yang tertua…Kitaro….”Kakak…tolong…tolong….di sini gelap sekali…!” Aku mulai ketakutan. “Shizuka cepat panggil Ayah dan Ibu..!” Teriak Kitaro pada adikku.

Tak lama kemudian terdengar suara berat ayah…”Genta…Genta…Ayah akan segera menolongmu” Dan terdengar pula suara majikan ayah…Bapak Kondo…”Ya Tuhan..kenapa bisa begini?” Teriak bapak Kondo. Ternyata aku terjeblos ke lubang pembuangan air kolam renang yang dalam. Pembuangan air ini memang masih baru dan masih belum selesai pembuatannya…

Aku melihat kilatan lampu senter menyilaukan mataku…. Ternyata untuk menggapaiku amat sulit…Lubangnya terlalu sempit dan dalam. Berbagai upaya telah dilakukan…namun sejauh ini belum berhasil juga…”Ahhh…mesti berapa lama lagi…?!” Jerit hati Genta tak sabar.

Aku mulai menangis lagi…”Ibu…Ibu…Genta mau keluar dari sini…Ibuuuu…hick..hick..hick….” isak tangis Genta. Terdengarlah suara halus ibuku…”Sabarlah nak…engkau anak yang kuat dan berani…” “Ibu yakin itu..!”

Karena masih belum berhasil juga…Akhirnya Ayah berkata, “ Nak….engkau anak laki-laki ayah yang berani kan?” “Sekarang dengarkan ayah baik-baik ya nak..!” Lalu mulailah ayah memberikan instruksinya….Tapi ahhhh…. ternyata ayah memintaku untuk melewati lorong yang entah berapa meter panjangnya itu. Aku takut sekali. Namun ayah, ibu dan saudara2ku semua terus menerus menyemangati dan menyakinkan diriku….

Akhirnya timbul sedikit keberanian dalam diriku…”Aku harus kuat…!” “Aku tak mau di sini terus menerus…!” “Yang ada di sini hanya gelap, sempit, sesak dan menyebalkan…!” “Aaaahhhh….aku harus bisa…harus bisa…!” Akhirnya Genta memberanikan dirinya untuk memulai melangkah masuk ke dalam lorong gelap tersebut….”Ya…Tuhan…lindungilah aku…semua aku pasrahkan semua kembali pada Mu…” demikian doa dalam hati Genta.

Sedikit demi sedikit Genta mulai memasuki lorong tersebut….Namun tak berapa lama kemudian, Genta kembali terserang rasa takut dan panik yang amat sangat. “Ahhh…takut..!!!” “Mana ujung lorong ini?” “Kenapa masih belum kelihatan…?” Kembali Genta menangis..”Ayah.., Ibu….Genta takutttt….tolong….hu…hu…hu…” Tak sadar Genta berjalan mundur beberapa langkah untuk kembali di mana tadi Genta memulai langkahnya…

Sayup-sayup di ujung lorong sana….Ayah, Ibu dan saudara-saudaranya terus memanggil-manggil namanya….”Genta.!” “Genta…..!” “Jangan menyerahhh….Maju terusss….!” Kami semua menanti mu sayang…!” Mereka semua terus menerus memanggilku, memberikan semangat dan menyakinkan diriku…”Aaaaaahhhhh…..!” desah Genta

Bathin Genta saling bergulat. Mundur kah atau terus maju…! Genta terpekur sejenak. “Bila aku mundur berarti aku selamanya berada di sana dan aku tidak bisa berjumpa dengan yang aku cintai….dan aku kalah….!” “Bila aku maju…, walau…perjalanan ini benar-benar menakutkan dan menyiksaku tapi aku tahu bahwa aku menginginkan semua…semua..semua yang ada di ujung lorong sana…!” Demikian jerit hati Genta. Sedikit demi sedikit timbul kembali keberaniannya…walau rasa takut terus menderanya.

Terseok-seok kembali Genta memulai lagi langkahnya…Isak tangis pun masih keluar dari bibirnya..terdengar lirih…Tapi tekadnya sudah bulat, bahwa ia tak mau kalah. “Aku adalah laki-laki pemberani!” Demikian Genta menyemangati dirinya terus menerus.

Setiap langkah maju yang dilakukan..cahaya itu…ya…cahaya itu…makin bersinar terang…terang…dan terang…Suara-suara milik ayah, ibu, saudara-saudaraku dan yang lainnya yang tadinya terdengar sayup-sayup…makin terdengar jelas…jelas…dan jelas….“Aaahhhh…..ayo terus-terus aku ingin cepat ke sana…!” “Cepat…,cepat…, lari…, lari…!” demikian ucap Genta penuh semangat…

Akhirnya Genta muncul juga di ujung lorong… Walaupun langkah kaki Genta masih lemah gontai namun hatinya amat bahagia dan bersyukur karena telah berhasil melewati lorong sempit, gelap dan pengap tadi. Senyum pun menghiasi di wajahnya. “Aaaah….leganya…!” hati Genta berucap.

Genta langsung diselimuti dan diberikan secangkir susu hangat oleh bp Kondo…Diberikan pula secangkir susu hangat kesukaannya. Secangkir susu hangat yang dapat membuatnya tenang dan mengusir segala bayang-bayang buruk yang baru saja dialaminya.

Segera setelah Genta menghabiskan secangkir susu hangatnya, Genta ditidurkan di pembaringannya dengan penuh kasih sayang serta dikelilingi oleh seluruh keluarganya. Genta merasakan perasaan amat damai dan tentram. Sungguh suatu kenangan yang tak akan dilupakan seumur hidupnya. Sungguh suatu keindahan yang tidak bisa dilukiskan…

Kini Genta telah dewasa… Ayah dan Ibu telah tiada. Saudara-saudaranya pun telah punya kehidupannya masing-masing. Genta kini telah berkeluarga. Telah memiliki sepasang anak, yang lucu-lucu dan ehat-sehat. Serta seorang istri yang cantik.

Genta bersama keluarganya masih tinggal di belakang rumah majikan di mana almarhum ayahnya bekerja…Ya…kini Genta bekerja di rumah bapak Kondo. Pekerjaan yang sama seperti ayahnya, yaitu petugas keamanan rumah bapak Kondo.

Ya itulah sekelumit kisah hidupku…Ini hanya sebuah kisah sederhana, yaitu kisah seekor anjing Doberman yang tampan, gagah dan berani….Penjaga rumah majikan ku, bapak Kondo yang kaya raya namun baik hati…..woofff…woofff….THE END
ya

One comment

  1. hahaha … bisa aja … nggak nyangka ini cerita tentang doggy … jempol deh …😀



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: