h1

“S U M O”

February 6, 2010

Sedari kecil saya sudah sering melihat olah raga SUMO ini melalui layar telivisi. Awalnya saya hanya tahu bahwa SUMO adalah suatu bentuk olahraga tradisional Jepang. Para pesumo tersebut umumnya bertubuh agak tinggi & gemuk-gemuk. Bila bertanding hanya memakai cawat saja, dan potongan rambutnya seperti  zaman samurai tempo dulu.

Awalnya saya kurang tertarik melihat olah raga seperti ini, karena kelihatannya hanya seperti dua orang yang luar biasa gemuk, saling dorong-dorong. Bila terjatuh atau keluar arena pertandingan yang berbentuk lingkaran (DOHYOU, baca: dohyo), artinya kalah. Lalu yang menang akan mendapat amplop yang berisi uang. Itu saja yang saya tahu.

Tetapi salah seorang paman saya sangat menyukainya acara pertandingan SUMO ini. Ketika itu, setiap ada pertandingan SUMO di TV, maka chanelnya tidak boleh diganti. Ternyata bila menonton langsung di areana pertandingan SUMO, kata paman saya harga tiketnya mahaaal sekali. Maka lebih banyak masyarakat Jepang menontonnya hanya dari telivisi. Mengetahui kebosanan saya, maka paman saya selalu mengajak menebak-nebak, kira-kira pesumo mana yang akan tampil berikutnya yang akan menang. Sambil menonton, paman saya menerangkan sedikit tentang SUMO ini.

Nah..cerita tentang SUMO ini saya gabung dengan informasi yang saya dapat dari sebuah buku Encyclopedi ya….

Paman saya menerangkan bahwa SUMO dulunya adalah pertandingan sangat sakral. Sebelum menjadi sebuah bentuk seperti pertandingan seperti sekarang ini, SUMO adalah ritual tarian dalam agama SHINTO. Yang menceritakan pertarungan merebut kekuasaan antara  Dewa dengan Dewa (KAMISAMA). Simbol tersebut memiliki arti bahwa para pesumo yang rangkingnya lebih tinggi harus di hormati oleh pesumo yang berada di bawahnya dan para juniornya. Sementara pesumo yang rangkingnya lebih tinggi tersebut harus bisa menjadi panutan para pesumo-pesumo yang rangkingnya di bawahnya atau para juniornya. Selain pesumo tersebut kuat, harus berkarakter baik, pandai, mau bekerja keras, disiplin, tidak memikirkan keuntungan dirinya saja, patuh pada peraturan dan sebagainya…Namun pengertian tersebut tertanam dengan sangat dalam kehidupan sehari-hari  di tiap lapisan masyarakat di Jepang. Seperti di sekolah, di kantor, di pemerintahan dan sebagainya.

Dalam kehidupan sehari-hari ternyata para pesumo yang telah mencapai pengakuan kehidupannya sangat terjamin. Saya lihat di TV Jepang ketika kecil tersebut, para pesumo sangat kaya-kaya (kane mochi..gitu kata paman saya). Dan banyak juga para pesumo tersebut yang memiliki istri yang bertubuh sangat langsing bahkan ada yang menikah dengan artis nan cantik jelita…Mereka pun sangat di hormati oleh masyarakat Jepang yang masih sangat menjaga tradisi, kebudayaan dan kesenian negaranya. Karena SUMO adalah salah satu simbol seni dan kebudayaan yang amat melekat dalam keseharian masyarakat Jepang. Walaupun Jepang kini telah menjelma menjadi salah satu negara maju dunia.

SUMO telah berusia lebih dari 2.000 tahun. Walaupun demikian SUMO telah menjadi olah raga profesional sejak periode EDO 1600-1868. Saat ini walaupun SUMO di praktekan di SMA, Universitas dan Asosiasi yang amatir, tetapi yang paling banyak ditonton adalah yang profesional. Sebelum 1958, SUMO di pertandingkan dua kali setiap tahunnya, namun sejak tahun 1958 jumlah turnamen ditingkatkan menjadi 6 kali setahun (BIG SIX). Setiap turnamen berlangsung selama  15 hari.

Demikian sedikit sharing saya tentang SUMO. Semoga dapat bermanfaat….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: