h1

LAMPU BERWARNA MERAH ITU TERNYATA BERHANTUUU…

February 9, 2010

Pada hari Minggu musim semi di pertengahan bulan February di sebuah kota seputar kota Nagoya. Terdapat sebuah desa yang tenang dengan pemandangan yang indah. Desa yang tidak terlalu besar. Sebuah desa yang bernama Gifu.

Cuaca dingin menyelimuti pagi yang tenang ini. Tetes tetes embun masih terlihat jelas di antara butir-butir salju yang masih tersisa sejak semalam. Hanya sesekali melintas burung-burung gagak hitam berkoar-koar ramai di atas pohon sambil mengepak-ngepakkan sayapnya, mencoba mengusir dingin yang amat sangat.

Lalu lintas pun masih sangat lengang. Hanya beberapa mobil saja yang melintas di jalan raya yang mulus dan masih basah. Segelintir orang-orang yang melintas, terlihat semua memakai jaket atau coat tebal serta tak ketinggalan sebuah scraf menjuntai melilit scraf melilit leher mereka. Melangkah dengan langkah sangat cepat, uap dingin nampak di antara hembusan nafas mereka, seolah berlomba mengerahkan panas untuk menahan dingin yang menusuk tulang belulang.

Di sudut jalan Momiji, terdapat sebuah rumah bercat putih dan berpagar hitam yang dipenuhi dengan daun-daun bunga Morning Glory dan Peonis. Yang mana bila tiba musim bunga yang sebentar lagi akan menjelang, pohon-pohon tadi akan penuh dengan bunga-bunga Morning Glory yang berwarna ungu ke biru-biruan yang indah tersulur berpadu dengan keindahan bunga Peonis yang berwarna dusty pink . Kombinasi yang amat serasi dan cantik, sehingga rumah itu akan nampak semakin elegan, menawan dan luar biasa indah.

Nampak aktifitas dua orang petugas pemindahan barang. Mereka keluar masuk rumah tersebut, Bagian belakang truk conteiner besar tersebut menganga lebar. Penuh dengan berbagai macam barang. Satu persatu barang-barang mulai diangkut masuk ke dalam rumah bercat putih tersebut. Mulai dari sofa, meja, lemari, berbagai peralatan elektronik dan sebagainya. Pemindahan tersebut akhirnya selesai menjelang siang hari. Hingga akhirnya ke dua petugas pemindahan barang tersebut berlalu.

Pemilik rumah tersebut adalah keluarga Kondo. Bapak Sato Kondo adalah seorang engineer yang baru kembali ke Jepang, setelah melalang buana dan menetap selama 15 bersama Istrinya yang cantik Ayaka serta dua buah hati mereka Kitaro dan Shizuka di Amerika. Istrinya selain ibu rumah tangga, biasa bekerja sebagai part time sebagai guru bahasa Inggris. Putra pertama mereka Kitaro 17 tahun, seorang siswa SMA kelas 3. Sedangkan Shizuka yang lahir di Amerika, baru berusia 9 tahun kelas 3 SD.

Keluarga Kondo sangat gembira dengan rumah baru mereka. Ibu Ayaka, “Ah….rumah ini sangat cocok membesarkan anak-anak kita ya Ayah…”

“Arigatou neeh…!” (terimakasih ya…), bisik Ibu.

Ayah pun mengangguk-angguk dan tersenyum senang…Dalam hatinya ..”Ah…ternyata aku tak salah pilih…!”

“Aku memang pintar..!” Bapak Kondo menghela nafas dalam-dalam dengan dada membusung, terlihat bangga.

Rumah ini bertingkat. Dua kamar berada di atas, satu kamar utama berada di bawah. Sehingga Kitaro dan Shizuka mendapat kamar bagian atas. Segera anak-anak berhamburan menuju lantai dua. Kitaro dan Shizuka berebut untuk mendapatkan lokasi kamar yang paling cocok buat mereka. Akhirnya Kitaro yang lebih besar dan cepat larinya mendapat kamar yang lebih luas daripada kamar Shizuka. Namun letaknya paling pojok menghadap balkon. Sementara kamar Shizuka tidak jauh dari tangga. Kitaro membuka pintu balkon…

”Shizuka…!” “Shizuka…!”

“Kemari sebentar…!” panggil Kitaro.

Shizuka yang sedang berada di kamar barunya, segera datang. “Ada apa kak..?”

“Lihat, pemandangan di sana…!”

“Luar biasa bukan..?” ujar Kitaro.

Shizuka pun menatap arah yang ditunjuk oleh abangnya. Ternyata dari balkon tersebut, tidak jauh dari rumah mereka terdapat sungai kecil yang membelah desa mereka. Di kanan kiri sungai tersebut, terjejer rapi pohon-pohon sakura. “Wow…indahnya..!” Shizuka pun takjub. Membayangkan musim bunga yang akan segera hadir. Bunga bermekaran di mana-mana. Berjalan-jalan di tepi sungai itu dengan iringan helai demi helai bunga Sakura yang tidak berumur panjang tersebut, namun sangat di nanti kehadirannya oleh masyarakat Jepang.

Tanpa terasa sebulan telah berlalu…Bunga-bunga Sakura yang cantik telah bermekaran di pertengahan bulan Maret. Menghiasi di hampir tiap sudut desa…… Kitaro dan Shizuka pun telah bersekolah. Dan keluarga Kondo pun mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan baru mereka. Bapak Kondo bekerja di sebuah perusahaan otomotif besar yang berada di Nagoya ini. Sementara Ibu Ayaka kembali bekerja sebagai part time di sebuah SMP negeri.

Suatu hari, Ibu Ayaka yang memang sudah merencanakan akan merapikan gudang yang terletak di halaman belakang rumah mereka yang selama ini belum sempat di sentuh olehnya. Gudang yang tidak terlalu besar. Di sana terdapat berbagai macam barang yang entah kenapa di tinggal begitu saja oleh pemilik rumah sebelumnya. Ada alat pemotong rumput, ada mesin penancap paku dan macam-macam. Segala barang yang tidak diperlukan segera dikeluarkan oleh ibu Ayaka. Tiba-tiba di bawah buffet ibu Ayaka melihat sebuah karton box cukup besar. “Eeeehhmmm apa ya isinya..?” Ibu Ayaka bertanya-tanya dalam hati. Pelan-pelan Ibu Ayaka mengambil box tersebut dan meletakkannya di atas buffet.

“Ah….Ternyata ternyata sebuah lampu hias!”

“Wah…cantik sekali..!”

“Kenapa lampu secantik ini ada di sini ya..?” Ibu bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Kemudian Ibu kembali merapikan gudang tersebut hingga tuntas sudah pekerjaannya.

Ayah baru kembali menjelang makan malam. Semua anggota keluarga telah duduk mengitari meja makan. Ayah sebagai pimpinan keluarga setelah memimpin doa dipersilahkan memulai mengambil makanan. Lalu Kitaro diikuti oleh Shizuka. Ibu Ayaka terakhir. Karena beliau harus memastikan bahwa semua telah mendapat bagian yang cukup. Semua bergembira dan menceritakan pengalaman mereka hari ini. Ayah berkata, bahwa beliau mendapat tugas pergi ke kantor cabang perusahaannya yang berada di Indonesia. Ayah akan berangkat lusa bersama Ibu selama 5 hari. Kitaro dan Shizuka yang sejak kecil sudah terbiasa mandiri hanya menggut-manggut saja. Tiba-tiba ibu Ayaka teringat akan temuannya di gudang tadi siang. Ibu Ayaka segera mengambil box tersebut dan memperlihatkan pada Ayah, Kitaro dan Shizuka.

“Bagaimana menurut kalian..?”

“Apakah lampu ini indah?” Tanya Ibu Ayaka

Semua mata mengamati lampu yang pegang Ibu dengan seksama. Berbentuk bulatan yang agak besar namun cembung dan gepeng. Lapisan luarnya di balut dengan logam berukir dan di beberapa ulir tersebut, masih bersisa warna keemasan.

“Eeeehmmm, cukup menarik dan antik.” Kata Ayah.

“Tapi kacanya berwarna merah bu…!” seru Kitaro.

“Menurut tahyul , rumah yang memasang lampu berwarna merah, maka rumah itu akan di datangi hantu bu…” demikian penjelasan Kitaro.

Namun Ayah dan Ibu hanya tersenyum..”Ahhh…anakku…engkau masih saja percaya hal-hal demikian?”

Kitaro pun jadi sedikit merasa malu.

“Aaaahh…saya ini payah, masa sudah berpendidikan maju masih saja percaya hal-hal seperti ini?” umpat Kitaro dalam hati.

Lima hari kemudian Ayah dan Ibu bersiap-siap berangkat. Malam hari sebelumnya Ibu berpesan pada Kitaro agar memasang lampu hias berwarna merah tadi di teras rumah mereka. Walau Kitaro segan, namun Kitaro mengganggukan kepalanya..

Pagi-pagi sekali Ayah dan Ibu harus berangkat menuju bandara Nagoya, Chubu. Hari ini adalah hari Sabtu, sehingga baik Kitaro dan Shizuka tidak bersekolah karena libur.

“Anak-anak, kalian semua jaga diri satu sama lain ya!” Pesan Ayah.

“Ini adalah nomer telepon yang bisa kalian hubungi setiap saat.” kata Ibu sambil mencium anak-anaknya.

“Ittekimasu neeh…Sayonara…!!!!” (artinya, kami berangkat dulu, selamat tinggal..!!!

“Itterasai…keoskette kudasai..!” (artinya, Selamat berangkat, hati-hati di jalan ya…) balas Kitaro dan Shizuka.

Siangnya Kitaro teringat pesan Ibunda agar memasang Lampu berwarna Merah tersebut. Hatinya terus berdegub kencang. Entah kenapa tetapi perasaannya amat sangat tidak enak. Tapi semuanya di tepisnya.

“Jangan bodoh…!!!”

“Zaman sudah Modern…!”

“Tidak ada hantu…!!!” Berkali-kali Kitaro seolah meyakinkan dirinya sendiri.

Sementara Shizuka di dalam kamarnya sedang merapikan boneka-boneka yang masih tersimpan dalam box. “Aku akan menyusunnya di rak itu ah…” kata Shizuka. Namun dalam box tersebut ada sebuah boneka yang amat ditakutinya. Boneka berambut merah dan terurai panjang. Wajahnya penuh bintik-bintik, dengan senyum yang menurut Shizuka sama sekali tidak cantik, malah menakutkan dirinya. Dan bila di tekan ujung jari jempolnya, maka boneka itu akan mengeluarkan suara tawa panjang yang mengerikan.

“Ahh…kenapa boneka ini masih terbawa juga…?”

“Kenapa tidak ku tinggal saja di Amerika..!” ucap Shizuka kesal.

Boneka ini adalah hadiah dari salah seorang kenalan ayahnya. Langsung boneka tersebut dilempar jauh-jauh masuk ke kolong tempat tidurnya.

“Besok boneka ini akan ku buang jauh-jauh !!!” lanjut Shizuka.

Senja menjelang malam. Walau rasa ragu-ragu terus menggayuti Kitaro. “Klik..!!!” Tombol lampu teras depan rumah mereka pun telah dihidupkan. Binar warna merahpun menyeruak memancarkan sinarnya menyinari teras rumah mereka.
Menjelang tidur, Shizuka hendak menyikat giginya. Dengan wajah yang terlihat sudah sangat mengantuk, Shizuka membuka pintu kamar mandi. Shizuka pun terpana…

”Aaaahhhhhhh….!!!” Jerit Shizuka. Kitaro yang mendengarnya, lari tergopoh-gopoh.

“Ada apa..?!” suara Kitaro tersengal-sengal.

Dengan wajah ketakutan, Shizuka berkata, “Di dalam kamar mandi itu tadi ada seseorang…!”

“Rambutnya sangat panjang.., pakaiannya berwarna merah menyala…!” jelas Shizuka terbata-bata.

Kitaro pun segera mengintip. Tapi di dalam kamar mandi Kitaro tidak melihat apa pun. Sambil berjongkok Kitaro berusaha menenangkan Shizuka. “Coba lihat sendiri…di sini tidak ada apa-apa kan?” Tapi Shizuka masih ketakutan.

”Ayolah adik manis, mungkin tadi kamu sedang melamun..!”

“Sudah…sudah…tidak usah dipikirkan lagi…!”Kitaro terus menyakinkan sang adik.

“Kakak siap menjaga mu…”

“Namun demikian sebagai adik Kitaro kamu juga harus jadi anak pemberani..!” tegas Kitaro. Dan malam itu pun tidak ada kejadian apa-apa lagi. Kitaro dan Shizuka pun telah tidur dengan lelap di peraduan masing-masing.

Keesokan harinya, semua berjalan seperti biasa. Kitaro dan Shizuka berangkat sekolah dan baru kembali ke rumah menjelang sore sekitar jam 16.00.

Kembali menjelang malam “Klik…!” Kitaro kembali menghidupkan lampu teras rumah mereka. Namun ketika Kitaro melintasi ruang tamu, sekilas melihat suatu kelebatan. Kitaro melongokan kepalanya ingin memastikan. Ternyata tidak ada apa-apa. Namun dirinya terus menerus merasa ada yang memperhatikannya dan mengikutinya dari belakang. Mendadak Kitaro berhenti dan menoleh ke belakang. Tidak melihat apa-apa.

“Eeehhhmmm…Aneh…!” Kitaro pun melintasi kamar adiknya. Di lihatnya adiknya sedang mencari sesuatu di kolong tempat tidurnya. Kitaro pun bertanya apa yang dilakukan Shizuka.

“Aku mencari sebuah boneka yang kemarin aku lempat ke kolong tempat tidur ini, tapi tidak ku temukan…” jelas Shizuka.

Hati Kitaro semakin tak enak. Namun perasaan itu tidak diperlihatkannya di depan adiknya.

“Ah, sudahlah…Ini sudah malam.”

“Tidurlah dulu, besok kita cari bersama-sama.” Ucap Kitaro.

“Selamat tidur..!”

Kitaro pun menuju ke kamarnya. Dirinya masih harus meneruskan belajar, karena dirinuya harus bersiap-siap menempuh ujian negara masuk universitas…Belum lama kitaro mencoba berkonsentrasi…

Terdengar jeritan Shizuka, “Kak Kitaro…, kakak….!” Segera Kitaro berhambur menuju ke kamar Shizuka. Tiba di kamar adiknya tersebut dilihat adiknya sedang bersembunyi di balik selimut tebalnya.

“Shizuka…shizuka…!”

”Ada apa?” Kitaro menguncang-guncangkan tubuh adiknya. Segera Shizuka memeluk sang kakak sambil menangis…

”Kakak, lihat di rak itu..!” sambil menunjuk arah rak yang di maksud. Kitaro pun menatap arah rak yang di maksud sang adik.

“Lihat kak, itu boneka yang dari tadi aku cari-cari di kolong ranjang ku.”

“Tapi kenapa…kenapa tiba-tiba bisa muncul di rak itu?” isak Shizuka. Kitaro pun walau agak ragu menghampiri boneka tersebut.

“Shizuka, boneka ini biar kakak yang pegang ya..!” Shizuka pun segera mengangguk-angguk menyatakan persetujuannya. Belum reda ketegangan mereka berdua…

Tiba-tiba “Krrrrriiinnnnnggggg…..kkkrrriiiinggg….!” Ternyata telepon rumah mereka berdering. Segera Kitaro menyambar gangang telepon. Ternyata telepon dari orang tua mereka. Namun Kitaro tidak menceritakan kejadian-kejadian aneh yang mereka alami dan menyatakan semua baik-baik saja. Akhirnya pembicaraan dengan Ayah dan Ibu selesai. Kitaro mengantarkan Shizuka kembali ke kamarnya.

“Tidurlah..!”

“Kakak akan menjagamu” sambil mengusap kening Shizuka.

Kitaro pun kembali belajar di kamarnya. Sekitar jam 23.00 Kitaro turun menuju dapur hendak mengambil minum, karena dirinya merasa haus. Ketika Kitaro membuka pintu lemari es, tiba-tiba dirinya merasa ada seperti tiupan angin halus yang dingin di telinga sebelah kirinya. “Huuuuusssshhhh…!” Tersentaklah dirinya. Bulu kuduknya pun berdiri….Kitaro mebalikkan tubuhnya, namun dirinya tidak melihat sesuatu apa pun. Terburu-buru Kitaro berlari kembali ke kamarnya.

“Benar-benar ada yang tidak beres..” Ucap Kitaro.

Walau terasa sulit, namun Kitaro berusaha berkonsentrasi belajar kembali. “Kak Kitaro..!” terdengar seperti suara Shizuka memanggil-manggil namanya sebanyak tiga kali. Segera Kitaro beranjak dari kursinya menuju kamar adik yang amat disayanginya. Begitu Kitaro tiba, dirinya heran, ternyata Shizuka sedang tidur dengan lelap.

“Ah…malam yang aneh..!” kata Kitaro.

Kitaro pun kembali ke meja belajarnya. Dirinya yang telah letih, tanpa sadar jatuh tertidur…

Keesokan pagi nya…Kitaro terbangun oleh suara jam weker. Waktu menunjukkan sudah jam 6.00 pagi. Namun dirinya lalu tersadar, bahwa ada selimut yang menutupi tubuhnya sepanjang malam. Kaget….!

“Apakah Shizuka yang melakukan ini?” hati Kitaro bertanya-tanya.

Saat makan pagi, Kitaro pun bertanya pd Shizuka, “Jam berapa bangunnya?” tanya Kitaro dengan suara diusahakan sebiasa mungkin

“Sekitar jam 6.30 kak!”

“Semalam aku tidur lelap sekali.” ujar Shizuka. Rasa ngeri kembali menyergap perasaan Kitaro. “Kalo bukan Shizuka yang menyelimutiku….siapa..siapa yang melakukannya..???”

Hari ini Shizuka akan pulang agak larut, karena akan les piano dulu bersama temannya sepulang sekolah. Sehingga Kitaro kembali ke rumah sendirian. Seperti biasa, menjelang malam “Klik…!” lampu teras berwarna merah itu dinyalakan. Sambil makan malam, Kitaro dudukpun di ruang keluarga untuk menonton acara telivisi. Berusaaha tidak memikirkan kejadian-kejadian aneh yang belakangan ini kerap muncul di rumah ini. Di pilihnya sport channel yang kebetulan sedang menayangkan pertandingan softball kesukaannya.

Tiba-tiba dari lorong jalan menuju ruang keluarga terdengar seperti orang yang siul-siul lirih….Segera Kitaro merengkuh ganggang tongkat softball kuat-kuat, yang kebetulan berada di ruang keluarga tersebut.

“Siapa di sana..?” ujar Kitaro.

“Heiii…siapa di sana?’ dengan suara lebih keras

“Keluar…jangan sembunyi..!”

Tiada jawaban. Kitaro pun melongok ke ruang tamu, dapur, lemari tempat menyimpan coat dan sepatu, di toilet. Semuanya nihil, tak ditemukan apa-apa.

Kembali terdengar suara bersiul-siul…Kali ini dari lantai atas. Dengan detak jantung bergemuruh, satu demi satu Kitaro menaiki anak tangga menuju lantai atas. Suara itu makin terdengar jelas.

“Ha….ada di kamar Shizuka!!!” Kitaro berusaha mengintip, melihat siapa yang berada di kamar adiknya.

Hampir Kitaro tidak percaya dengan penglihatannya. Di kucek-kuceknya matanya. Di hadapannya ada sesosok tubuh sedang bermain-main dengan boneka-boneka milik adiknya. Berambut panjang dan berbaju warna merah, seperti yang diceritakan adiknya beberapa waktu lalu.

Dengan mengumpulkan segenap sisa-sisa keberaniannya.

Suara Kitaro pun menggelegar…“Wooooi…siapa kamu haaaah….?!!” Tetapi sosok itu tetap diam membisu dan tidak bergerak. Sekali lagi Kitaro membentak…

”Kamu…siapa kamuu…!”

“Beraninya masuk rumah ini…!”

“Jawab..!!!”

“Atau saya pentung kepala mu..sampe pecaaahhh…heeeeh..!!!”

Sosok itu bergerak sedikit….napas Kitaro seperti tercekat di tenggorokkan. Kakinya serasa kaku, tangannya beku. Jantungnya berdetak sedemikian hebat. Bulu kuduknya pun merinding. Benar siapkah dirinya berhadapan dengan hantuuuu???? Keringat dingin mulai mengalir dipelipisnya.

Terdengar deru angin menerpa wajah Kitaro…”Hiiiii…hiiii…hiiiiii…..” derai tawa hantu membahana, lumayan menciutkan nyali Kitaro……Daaaaaannnnn selanjutnya…..Tiba-tiba…..

“Haaaaiiii….., honeeyyyyy…, darling…., sayannnngggkuuuu….. salam kenal, akyuuuu adalah Obake…(Hantu….!!!!!)……

Hantu itu memperlihatkan senyum genitnya. Gincu merah membara menghiasi bibir tebalnya semerah warna baju yang dikenakan. Eye shadow hitam pekat menghiasi kelopak matanya. Serta bedak putih yang amat tebal menempel menutupi kulit yang sebenarnya ga terlalu putih itu. Sehingga wajahnya seperti orang yang sedang memakai topeng.

Kitaro terlonjak sangat kaget…”Kamu jeleeeeek sekali…!”

“Enaaaak aja..udah cantik gini di bilang jelekkkk…!” si hantu protes.

“Kamu hantuuuu atau banci….haaaahhh….!!!” Teriak Kitaro

“Tergantunggg kondisi….hi…hi…hi….” kembali si hantu tertawa nyaring..

Lalu sang hantu pun berjalan melayang perlahan mendekati Kitaro. Nalar Kitaro yang sedari tadi pingsan sesaat, kembali siuman.

.”Aaaaaaaahhhhh tidaaaakkk…!!!” Jerit Kitaro.

Kitaro pun segera kabur, menuju tombol Lampu Warna Merah. Segera dimatikan Lampu Merah di Teras rumahnya itu.

“Syeeeessssshhhhh…” Hantu pun menghilang.

Belum pulih dari kekagetan yang luar biasa atas kejadian yang baru dialami. Tiba-tiba

“Teeeeeeettt….!!!” Bell pintu berbunyi.

Walau kaget luar biasa, Kitaro berusaha menenangkan diri terlebih dulu.

“Ah…Shizuka sudah pulang..”

Ia tak mau adik yang disayanginya mengetahui kejadian yang baru dialaminya.

Shizuka pun setelah makan malam, mandi kemudian masuk kamar untuk istirahat. Demikian juga dengan Kitaro.

“Lampu Merah itu besok akan saya lepas lagi…!” demikian janjinya dalam hati

Seperti biasa, keesokan harinya Kitaro dan Shizuka pergi ke sekolah dan baru akan tiba kembali menjelang sore hari.

Begitu mereka tiba di rumah…Ternyata Ayah dan Ibu mereka telah ada di rumah. Kitaro dan Shizuka amat gembira sekaligus kaget atas surprise ini. Rupanya urusan sang Ayah cepat selesai. Sementara sang Ibu entah mengapa dalam perjalanan kali ini ingin cepat kembali ke Jepang. Walau demikian Kitaro dan Shizuka tidak menceritakan hal-hal aneh yang mereka alami selama orang tua mereka pergi.

“Menunggu saat yang tepat untuk menceritakannya,” demikian pikir Kitaro.

“Shizuka, maukah menemani Mama pergi membeli O-Shashimi?” tanya Ibu Ayaka

Tentu saja Shizuka bersedia ikut, karena Ibu Ayaka akan membelikan makanan yang disukainya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, segera Ibu dan Shizuka pergi berbelanja untuk makan malam yang special mereka hari itu.

Kesempatan itu, dipergunakan oleh Kitaro untuk menjelaskan pada Ayah tentang Lampu Merah. Kitaro buru-buru menghadang sang Ayah ketika bapak Kondo hendak menekan tombol lampu tersebut. . Kemudian Kitaro meminta Ayahnya duduk untuk mendengarkan ceritanya lebih dulu. Usai bercerita dari A sampai Z, mereka berdua terdiam sesaat…

“Kitaro….!”

“Ayah sangat kecewa pada mu…!”

“Hantu itu tidak ada…!!!”

Lalu Ayah menuju tombol Lampu Merah itu lagi….

“Kliikkkk…”Kitaro pun sudah tidak bisa mencegahnya.

Tiba-tiba…, ”Haiiiiiiii…….Honeyyyy…, daarrrlingg, …., sayaaangkuuuu…”.

” Ciluk Baaaaa…..!!!!” Muncullah si hantu centil dengan suara khas bancinya.

“Aaaaaaaaaaa….tidaaaaakkkkk…!!!!” jerit bapak Kondo dan Kitaro bersamaan.

Segera bapak Kondo mematikan tombol lampu itu lagi. Ke dua-duanya berpandang-padangan. Tanpa komando, ke duanya segera mencari tangga dan saat itu juga mereka melepaskan Lampu Merah tersebut dari teras rumah mereka.

——————————THE=END———————————————————————————————————————————————————

2 comments

  1. baru denger cerita hantu kayak gitu …😀


  2. ke tipuuuuuu ya??? Hi…Hi…Hi….



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: