h1

CERPEN > : HATI PEDAS SEORANG LAKI-LAKI

April 1, 2010

Kenjiro lahir sebuah kota kecil bernama Odawara 40 tahun lalu. Kota yang terkenal dengan pariwisata permandian air panas alaminya atau di kenal dengan nama onseng. Pemandangan sangat indah di mana terdapat gunung-gunung yang terhampar hijau, berharmonisasi dengan pantai yang indah di sisi lainnya.

Kota ini penduduknya tidak terlalu banyak. Karena sebagian besar sumber kehidupan mereka berasal dari pariwisata. Membuat para turispun merasa sangat nyaman dengan penerimaan yang sangat ramah. Rata-rata turis yang datang ke kota ini adalah orang-orang yang berasal dari kota-kota besar lainnya. Mereka ingin melepas kepenatan, sehingga rela membayar semua itu dengan lembaran-lembaran puluhan ribuan yen tidak sedikit jumlahnya.

Ayah Kenjiro sendiri adalah pemilik mini market kecil dan menyewakan 8 buah apartemen. Sehingga kehidupan Kenjiropun di kotanya termasuk golongan menengah ke atas. Sedangkan Ibu Kenjiro adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Kenjiro adalah anak ke 3 dari 3 bersaudara, yang semuanya adalah laki-laki.

Sekarang Kenjiro telah duduk di bangku sekolah SMA kelas 3. Sedangkan ke dua abangnya, yang tertua adalah Genta telah beristri dan memiliki seorang baby perempuan. Genta adalah seorang CHOONAN (penerus garis keturunan, yang akan menghabiskan sisa hidupnya bersama keluarga kecilnya dengan sukarela untuk melanjutkan segala usaha yang telah dirintis oleh ke dua orang tuanya dan juga menjaga segala warisan milik keluarga). Kakak ke duanya Kotaro, memilih masuk pasukan bela diri Jepang selepas SMA. Dan sebagai pasukan bela diri Jepang, Kotaro jarang kembali ke Odawara, karena dirinya ditugaskan di salah satu kapal selam. Sehingga Kotaro sering berkelana mengarungi lautan nan luas…(Sejak kekalahan Jepang semasa perang melawan Amerika, maka Jepang tidak memiliki tentara..hanya ada pasukan bela diri dan polisi saja).

Kenjiro sangat ingin melanjutkan studinya di salah satu universitas terkemuka di kota Tokyo. Pada cuaca dingin bersalju, semua peserta ujian masuk perguruan tinggi memulai ujiannya. Berkat otak encernya..akhirnya Kenjiro berhasil lolos ujian dengan nilai sangat memuaskan. Dan berhasil masuk ke Universitas Ichiban..(Universitas ini ga beneran ada lho…) jurusan tehnik. Sebuah universitas yang amat ketat seleksinya dan telah memiliki reputasi yang tidak diragukan lagi. Seluruh keluarga bersuka cita. Sekeluarga mereka semua berangkat ke kuil untuk mengunglkapkan rasa syukur pada Tuhan. Kini Kenjiro bersiap-siap dan hanya tinggal menunggu harinya saja.

Bulan April telah tiba…Tiba pula waktunya Kenjiro berangkat menuju Tokyo. Seluruh anggota keluarga, para handai taulan, para sahabat dan guru-guru pun semua memberikan ucapan-ucapan berupa doa-doa agar Kenjiro berhasil menempuh pendidikannya dengan lancar dan baik. Akhirnya bersama Ayahanda tercinta, Kenjiro berangkat dengan menggunakan kereta super express, Shinkansen.

Perjalanan satu jam dengan Shinkansen terasa sangat cepat. Tibalah Kenjiro bersama Ayahnya di Tokyo. Sebuah kota yang sangat sibuk. Semua orang nampak sangat terburu-buru, seolah-olah mereka sedang mengejar bayangan diri mereka sendiri. Wajah-wajah mereka terlihat amat kaku, tegang dan tidak tersenyum sama sekali. Kenjiro yang baru pertama kali ke Tokyo menjadi sedikit gugup. Tapi tidak lama, karena ambisinya yang membara yang menyala di dadanya, kembali membakar semangatnya.
Kota Tokyo, kehidupan keluarga Kenjiro adalah hanya masyarakat biasa yang tengah mencoba peruntungannya di sebuah kota besar.

“Akan ku taklukan kota ini..!” geramnya dalam hati.

Kini Kenjiro telah 3 bulan menjadi mahasiswa Ichiban Daigaku. Tiada banyak waktu untuk berleha-leha. Tugas paper menumpuk, melakukan Reseach Study yang njelimet dan mengikuti perkuliahan yang berstandart sangat tinggi. Sehingga semua mahasiswa harus benar-benar bekerja keras.

Kenjiro bersahabat dengan Rajiv. Seorang mahasiswa yang berasal dari India. Berbadan tegap besar, hitam dan sering menatap dengan sorot mata yang tajam. Kenjiro yang sebenarnya berpostur sedang buat ukuran masyarakat Jepang, tetap saja Kenjiro terlihat pendek bila Rajiv berdiri disampingnya. Rajiv adalah anak ke dua dari dua bersaudara. Orang tuanya memiliki sebuah toko cendera mata kecil di sudut kota New Dehli. Rajiv belajar ke Jepang karena berhasil mengantongi bea siswa penuh dari pemerintah Jepang.

Hari-hari mereka lalui bersama-sama. Saling bertukar pikiran dan bertukar cerita tentang pengalaman hidup masing-masing. Hingga akhirnya ke duanya telah memiliki pacar. Rajiv bertemu dengan Rania. Wanita yang masih kerabat jauh dengan keluarganya. Seorang wanita cantik, berhidung mancung dan datang dari keluarga yang masih memegang teguh adat istiadat negaranya. Walau hanya berhubungan jarak jauh, namun sejauh ini hubungan mereka kelihatannya harmonis dan mesra. Sementara Kenjiro memiliki seorang kekasih bernama Ayaka. Seseorang yang dikenalnya dilingkungan kampus. Ayaka adalah seorang calon dokter. Muda, modern, pintar, berwajah manis dan mandiri.

Tak terasa kini Kenjiro dan Rajiv telah duduk di semester akhir. Sementara kekasih Kenjiro, Ayaka adalah adik kelas yang baru memasuki semester 4. Sementara Rania yg nun jauh di negeri seberang, kekasih Rajiv pun tengah mempersiapkan skripsinya di jurusan hukum internasional.

Karena kesibukan masing-masing yang sangat luar biasa, Kenjiro dan Rajiv menjadi jarang berjumpa satu dengan yang lainnya. Karena berbeda jurusan. Kenjiro mengambil jurusan tehnik, sementara Rajiv di jurusan ilmu ekonomi. Hanya melalui e-mail mereka saling berkomunikasi dan memberi kabar seperlunya.

Waktu kelulusanpun tiba…dan ke dua sahabat tersebut bertemu kembali di aula besar universitas Ichiban Daigaku. Keduanya telah mengenakan toga, nampak sangat gagah. Para sanak saudara Kenjiropun telah hadir. Ayah, Ibu, dan keluarga sang kakak pertama

Genta yang kini telah mempunyai 2 orang putri yang manis dan lucu. Serta kakak keduanya, Kotaro yang ternyata telah menikah dengan seorang wanita manis yang dikenalnya saat berdinas di Thailand. Bernama Sirikit. Seorang wanita berkulit sawo matang dan berambut panjang terurai.

Sementara Rajiv hanya didampingi oleh seorang kakaknya laki-lakinya Prakash. Karena orang tuanya telah tidak mampu menempuh perjalanan jauh dengan pesawat udara sekalipun.

Upacara kelulusanpun di mulai…Kenjiro berhasil menyabet sebagai mahasiswa dengan nilai IPK tertinggi…Tepuk tanganpun bergemuruh meriah….! Nampak seluruh anggota keluarga Kenjiro berdiri dan nampak sangat bangga dan terharu atas keberhasilan Kenjiro. Rajiv pun amat gembira atas keberhasilan sahabatnya. Sumringah raut wajah ke duanya ketika saling berpelukan sebelum Kenjiro melangkah menuju podium tempat di mana Rektor, Dekan dan para guru besar telah berdiri menanti dan akan meresmikannya sbg sarjana. Suasana cukup mengharu birukan tersebut, makin bertambah syahdu dengan iringan paduan suara choir kampus. Satu-persatu para wisudawan dan wisudawati melangkah menuju podium. Dan Rajiv ternyata menyabet di urutan ke 5 tertinggi di fakultasnya. Hati Rajivpun senang luar biasa. Matanya berbinar-binar gembira.

“Ah…semoga jalanku semakin terbuka lebar untuk mendapat bea siswa penuh guna melanjukan S2 ku bisa tercapai..,” demikian doa Rajiv sebelum dirinya melangkah menuju podium.

Setelah acara kelulusan usai…Kenjiro dan Rajiv kembali bertemu. Kali ini mereka akan bertemu di sebuah café, tempat biasa mereka berdua menikmati secangkir cappucino hangat nan harum…

“Kenjiro..apa rencana mu setelah ini?” tanya Rajiv.

“Saya telah di terima bekerja di sebuah perusahaan otomotif terkemuka di Jepang ini,” sambil mengedarkan pandangannya ke keramaian jalan yang nampak dari balik jendela café.

Pertanyaan ke duanya berlanjut tentang segala rencana masa depan. Rajiv akan kembali ke India terlebih dulu sebelum melanjutkan studi S-2 nya ke Inggris. Rajiv akan menuntut ilmu bersama calon istrinya yang amat dicintainya, Rania. Tersentaklah wajah Kenjiro.

“Wahai sobat…selamat..!” dengan nada gembira.

“Saya akan doakan kebahagiaanmu sampai akhir hayat..”

Keduanya berjabat tangan erat dan saling memberikan kepalan tangan yang kemudian saling disatukan merupakan lambang keeratan persahabatan yang telah terjalin selama ini.

Tiba-tiba Rajiv teringat sesuatu…..

“ Hai sobat….!”

“Saat di wisuda..saya tidak melihat Ayaka..?”

“Apa kabarnya…?”

Tiba-tiba suasana menjadi senyap. Raut wajah Kenjiro terlihat merenggang. Mulutnya terkatup rapat. Keheninganpun pecah dengan terdengarnya suara parau Kenjiro.

“Kami sudah tidak ada hubungan lagi..”

“Ayaka telah berubah…aaaahhhh..”

Demikian kata-kata yang mengalir dari bibir Kenjiro..tanpa memberikan keterangan lebih lanjut atas kalimat yang baru saja terlontar. Rajiv hanya dapat terpana menatap wajah sahabatnya. Dan tidak bisa mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Karena setahu dirinya, Ayaka adalah seorang wanita yang baik dan bisa dipercaya. Memiliki prinsip-prinsip hidup yang baik. Ketika Rajiv ingin mengkoreknya lebih jauh. Keluarlah sifat keras hati Kenjiro yang telah lama dikenalnya. Mukanya berubah menjadi kemerah-merahan, Sorot matanya berubah menjadi tajam dan duduknya pun menjadi sangat kaku. Kalau sudah demikian adanya, maka Rajiv pun tidak akan mendesaknya.

Pertemuan di café itu adalah perpisahan buat kedua sahabat itu. Tanpa terasa detik demi detik berlalu.Hari demi hari terlewati.Waktu seolah berputar cepat sekali. Waktu telah memisahkan kedua sahabat ini tanpa kabar berita. Seolah keakraban dulu lumat dalam kesibukan masing-masing, tersihir dalam rutinitas hidup sehari-hari.

Akhirnya, Kenjiro dan Rajiv berjumpa kembali pada acara reunian angkatan yang diselenggarakan oleh unversitas di mana keduanya pernah menuntut ilmu.

Kenjiro diusianya yang menginjak 38 tahun ini masih dengan perawakan yang tidak jauh berbeda semasa kuliah dulu, hanya rambutnya telah banyak ditumbuhi dg rambut-rambut yang berwarna putih. Malah penampilannya kini jauh lebih perlente. Mengenakan jas mentereng, menonjolkan keberhasilan seorang executive muda.

Sedangkan Rajiv yang kini telah menjadi ayah dari dua orang putra dan seorang putri badannya yang dulu sudah besar, nampak semakin besar, dengan bertambahnya bobot tubuhnya. Tambun dan dagunya telah ditumbuhi jenggot serta kumis. Tetap berpenampilan sederhana namun bersahaja.

Kini Kenjiro telah menjadi salah seorang CEO dari perusahaan otomotif terkemuka di Jepang. Walau nampak berusaha tetap merendah, dengan menebarkan senyum ke segala penjuru.

Namun Rajiv sebagai sahabatnya sangat memahami bahwa Kenjiro sebenarnya sedang menikmati segala keberhasilannya dan kesuksesannya. Dari kejauhan Rajiv mengamati Kenjiro yang tengah mabuk kepayang atas segala sanjungan dan kekaguman orang di sekitar yang diterimanya kini.

Sejak acara reuni tersebut, komunikasi kembali terjalin antara Kenjiro dan Rajiv. Kini Rajiv menetap di London. Bekerja sebagai dosen di salah satu universitas cukup ternama. Sehingga komunikasi banyak dilakukan melalui jejaringan sosial dan e-mail. Bila keduanya mendapat lawatan pekerjaan, merekapun berusaha untuk saling berjumpa.

Tak terasa dua tahun telah berlalu sejak acara reuni tersebut. Rajiv yang kebetulan sedang ada urusan bisnis ke Jepang kembali berjumpa dengan Kenjiro. Mereka janji berjumpa di kantor Kenjiro.

Begitu pula pada lawatan kali ini. Rajiv tiba pada pukul 10.00 pagi tepat, sesuai perjanjian yang telah disepakati bersama melalui telephone sebelumnya. Perusahaan Kenjiro berada di sebuah jalan yang sangat sibuk dan representative di kota Tokyo.

Lift yang mengantarkan Rajiv telah terbuka di lantai 10 kantor Kenjiro. Suasana kantor yang sangat nyaman dan tenang langsung menyergapnya. Terdengar lagu instrumentalia khas Jepang. Alunan musik okoto dan shamisen terdengar lirih menambah kesejukkan hati. Amat berbeda dengan kesibukan lalu lalang di seluruh jalanan pusat kota Tokyo yang baru saja dilewati Rajiv. Penuh dengan manusia yang selalu sibuk dan selalu kekurangan waktu. Seolah setiap manusia itu seperti berlari mengejar bayangan diri mereka sendiri. Rajiv merasa nyaman dan lega….

Setelah menunggu lima menit. Sang sekrtaris yang nampak tinggi semampai mempersilahkan memasuki ruang kerja Kenjiro. Di balik meja yang besar itu..sehingga nampak nyaris menenggelamkan tubuh sahabatnya, Kenjiro yang tengah sibuk dengan berbagai dokumen-dokumen yang bertumpuk di meja kerjanya. Tak berapa lama kemudian..

“Apa kabar sahabat ku…?” Rajiv berjalan mendekati Kenjiro sambil menyapa.

“Lama kita tidak berjumpa….” Lanjut Rajiv.

Setelah berjabat tangan dan berbasa basi, Kenjiro pun mempersilahkan Rajiv duduk di sofa yang empuk dan amat nyaman. Sang sekretaris pun telah menghidangkan minuman macca(green tea dingin) yang dipesan secara khusus dari daerah Kanazawa, kota penghasil green tea yang amat masyur. Berpadu dengan sepotong kue mochi yang halus, lembut dan manis. Sungguh kombinasi yang luar biasa. Rasa pahit dan manis berbaur menimbulkan sensasi luar biasa pada indra alat pengecap kita.

Pembicaraaan diawali dengan berbagai kegiatan bisnis yang mereka jalani masing-masing. Dan juga tentang masa notalgia 20 tahun yang lalu. Dan ketika Rajiv mulai bercerita tentang kabar mengenai keluarganya, bibir Kenjiro hanya terpampang senyum tipis. Sesekali kepalanya terlihat mengangguk-angguk.

“Maaf sahabat, bila boleh bertanya, bagaimana denganmu ..?” Suara Rajiv terdengar sangat hati-hati.

“Kapan engkau akan menikah..?”

Wajah Kenjiro nampak merenggang, senyumnya berubah menjadi kaku dan tubuhnya menjadi sangat formal. Hening…berubah 180 derajat dibanding dengan suasana yang sebelumnya, ramai penuh tawa canda….

Tiba-tiba Kenjiro bangkit dari sofa tempatnya duduk..Berjalan menuju sebuah jendela besar yang berada di ruang kerja itu. Dari balik jendela itu nampak seperti lukisan hidup dari suatu pemandangan sebuah kota yang amat bergensi namun angkuh. Sungguh pemandangan yang menyuguhkan sebuah kota kosmopolitan secara utuh. Sebuah kota yang seolah-olah dapat menyuguhkan dan menjanjikan segala ambisi dan hasrat jiwa-jiwa seorang anak manusia….

“Rajiv…, selama ini saya tidak pernah menanyakan sesuatu yang bersifat pribadi padamu..” ungkap Kenjiro dengan suara dingin.

“Jangan engkau membuat saya menjadi malu terhadap kamu..!” terdengar nada marah tertahan dalam suara itu.

Rajiv tersentak… Pikirannya segera mencoba memahami dan mencerna kejadian yang baru saja terjadi dengan amat cepat ini.

“Kenjiro…saya ini sahabat mu…!”Rajiv berusaha berkata setenang mungkin

“Saya tidak akan dengan sengaja menyakitkan hatimu..” lanjutnya dengan penuh rasa masygul dalam hatinya.

“Bila ada kata-kata saya yang kurang berkenan, tolonglah dimaafkan…!” nada suaranya ditekannya sedemikian rupa menandakan penyesalan yang mendalam.

Kenjiro membalikkan badannya. Berhadapan dengan Rajiv. Dan berkata,

“Di sini saya bekerjasama dengan orang-orang yang sangat ahli di bidangnya masing-masing..!”

“Saya bisa mengkosultasikan dan mendapatkan solusi terbaik dari para staff..!” tandas Kenjiro lebih lanjut. Seolah tidak ingin memberikan kesempatan sahabatnya berbicara lagi.

Lalu Kenjiro berucap,

“Maaf…, hari ini masih banyak pekerjaan yang harus saya lakukan..!” seraya memalingkan wajah dan tatapan matanya menatap arah pintu. Kemudian tangannya terangkat dan diarahkan ke arah pintu pula.

Rajiv menangkap pesan yang ingin disampaikan Kenjiro padanya. Segera ia berjalan menuju arah pintu. Sesampaikan di ujung pintu, keduanya berjabat tangan dengan kaku.

“Pintu ini masih terbuka untuk mu…!” ucap Kenjiro penuh basa basi.

“Sampai bertemu lagi…!” diiringi dengan sebuah senyum tipis penuh semu.

Setelah keluar dari gedung tempat di mana Kenjiro bekerja, Rajiv memutuskan untuk berhenti sejenak di sebuah bangku yang berada di taman tak jauh dari kantor Kenjiro. Dirinya hanya bisa merenung sambil menatap arak-arakan awan putih dilangit biru. Tidak memperdulikan keramaian kota yang hiruk pikuk.

Hatinya amat gundah…Angin sore yang bertiup sepoi-sepoi tidak jua dapat meredam hawa panas yang menjalar ke seluruh nadinya. Ulu hatinya seperti baru tertusuk benda tajam yang mengiris-ngirisnya. Pedih…Segala pikiran buruk berusaha ditepisnya. Berusaha memahami jalan pikiran seseorang yang dulu pernah menjadi sahabatnya itu. Beberapa kali Rajiv nampak menghela nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya hingga habis keluar, seperti sedang berusaha mengeluarkan segala yang mengganjal di dalamnya. Setelah terdiam dan termenung cukup lama, bangkitlah Rajiv dari bangku di taman itu. Sekali lagi Rajiv menoleh ke arah gedung tempat Kenjiro bekerja, berharap bahwa semua ini hanya sekedar mimpi buruk.

Dirinya menyadari sepenuhnya bahwa hubungan persahabatan tidak bisa dipaksakan. Dan menyadari bahwa hal yang paling sulit diterima oleh seseorang yang telah sukses dan selalu mendapat penghormatan, dipuja dan disanjung mungkin salah satunya adalah menerima masukkan atau saran walaupun saran dan masukkan itu datang dari orang-orang terdekatnya sekalipun. Hatinya terlalu angkuh mengakui bahwa dirinya pun tidak lah sempurna, tetap ada kekurangannnya.

Gambaran-gambaran kenangan nostalgia berkelebat dalam kenangan nostalgia. Saat di mana mereka masih bersahabat. Lalu Rajiv teringat pada suatu perjumpaan dengan Ayaka yang tidak di sengaja di sebuah pesta masyarakat Jepang di kota London. Ternyata Ayaka kini tinggal di London bersama suaminya yang bekerja sebagai staf atase pendidikan Jepang untuk kerajaan Inggris. Perjumpaan demi perjumpaan berlanjut. Hingga akhirnya Rajiv mengetahui bahwa menurut Ayaka, dahulu Kenjiro lah yang pergi meninggalkan dirinya demi seorang wanita yang lebih cantik dan muda. Namun Kenjiro tidak juga menikahi wanita itu, karena saat itu Kenjiro tengah sibuk membangun karirnya dan mengejar ambisinya ingin menaklukkan dunia. Sehingga wanita itu pun pergi meninggalkan Kenjiro.

“Sebenarnya sejak dulu kenjiro telah menikah..!”

“Kenjiro telah menikah dengan pekerjaannya..!!!” tandas Ayaka lugas.

“Aaahhh…sahabat, kenapa engkau bisa bersikap seperti itu..???” desah suara hati Rajiv dengan kepala terunduk dalam.

Setelah cukup lama termenung seorang diri, Rajiv akhirnya hendak melangkah meninggalkan bangku di taman itu. Namun tetap saja Rajiv mendoakan sahabatnya tersebut.

“Semoga engkau dalam keadaan baik-baik dan bahagia sobat ku…,” ucap Rajiv dalam hati.

Sekali lagi Rajiv menoleh ke gedung tempat Kenjiro bekerja, sebelum dirinya berlalu. Menatap dengan tatapan nanar, penuh kesedihan.

“Sayonara….”

Semenjak itu Rajiv tak pernah mendengar kabar sedikitpun tentang sahabatnya tersebut. Rajiv tetap berharap bahwa suatu hari nanti Kenjiro menyadari kekeliruannya selama ini. . Harga dirinya yang terlalu tinggi itu telah membutakan mata hatinya…..

Kadang seorang sahabat sejati harus mengungkapkan sesuatu yang mungkin tidak akan pernah didapatnya dari orang-orang yang kini banyak berada di sekitarnya. Sebuah kejujuran yang hanya dilandasi oleh kasih sayang tanpa pamrih….

THE END

One comment

  1. Eehhh … bagus juga ceritanya … jempol deh …😀



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: