h1

CERPEN : DUSTY PINK

April 25, 2010

Dalam sebuah kamar yang berwarna dusty pink, nampak seorang wanita tengah termenung menatap layar computer yang berada di hadapannya. Namun belum ada sebuah huruf pun sanggup digoreskannya. Entah telah beberapa kali gadis itu telah mencoba memeras otaknya agar timbul serangkaian kata-kata yang biasanya dengan mudah mengalir dan dituangkan menjadi sebuah tulisan melalui jari-jarinya yang lentik. Tetapi hari ini tetap saja, layar computer itu masih berwarna putih polos.

Wajah nampak tertunduk lesu. Cahaya matanya memudar redup. Nafas tergesa seolah menegaskan kegelisahan hatinya. Dinginnya kamar bercat dinding dusty pink tersebut, tidak dapat mengurangi panas membaranya yang dirasakan oleh gadis itu yang telah mencapai ubun-ubun kepalanya.

Nama gadis itu adalah Ayaka. Ia adalah seorang penulis cerita-cerita pendek berusia 26 tahun. Entah telah berapa lama profesi ini telah digelutinya? Entah berapa tulisan yang telah dihasilkannya? Hal itu tidaklah terlalu penting baginya. Karena yang selalu diinginkannya adalah selalu dapat mendengar suara ketikan-ketikan pada computernya. Selalu ada sesuatu yang dapat dijadikan sebuah cerpen. Tapi kali ini berbeda, tetap hening dan sepi menyelimuti seluruh ruang kamar itu. Rasa frustasi mulai menyesakkan dada. Amat menggundahkan jiwa.

Tiba-tiba Ayaka bangkit dari kursinya. Lalu dirinya berjalan mendekati jendela kamarnya. Jendela kamar yang menghadap ke arah  taman belakang rumahnya yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga-bunga Rose, milik Ibunya, Shizuka. Harapannya adalah keindahan bunga-bunga rose kebanggaan ibunya itu dapat membantu membangkitkan sebuah inspirasi hanya untuk sebuah tulisan saja pada hari itu. Namun tetap saja keindahan warna-warni Rose yang beraneka macam jenisnyanya itu tidak dapat memancing pikirannya. Tetap saja pikirannya melayang-layang tidak menemukan sebuah ide pun. Padahal Ayaka hari ini amat ingin menulis apa saja yang dapat dituangkan ke dalam sebuah cerita…

“Aaaaahhhh….”, desah lirih Ayaka terdengar, sambil berjalan menuju sudut pinggir tempat tidurnya yang tertutup dengan selimut nan lembut dengan warna kesukaannya, dusty pink.

Ayaka lalu duduk dan berbaring dengan tangan membentang ke atas, lepas. Matanya menatap dengan pandangan lurus ke arah langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Lalu dibiarkannya dirinya terlarut dalam lamunan. Matanya pun dipejamkannya.

Perlahan tapi pasti, lamunan itu membawanya dari potongan-potongan kenangan masa lalu yang telah lama ingin dilupakannya. Potongan-potongan kenangan yang lama telah dikuburnya dalam-dalam. Kini kenangan-kenangan itu kembali berkelebat dalam benak pikirannya. Sekuat tenaga Ayaka berusaha meredamnya, semakin kuat potongan-potongan kenangan itu berusaha menyeruak, menerobos celah-celah syaraf ingatannya.  Sebuah gambar masa lalu yang samar-samar kini kembali kembali tergambar jelas merobek benteng pertahanan kokoh yang selama ini berhasil dibangunnya.

Akhirnya, tanpa tertahankan lagi, energi kuat itu menuntunnya dan  menghantarkan dirinya pada kejadian 7 tahun yang lalu. Kala itu usia Ayaka baru menginjak usia 19 tahun. Tahun pertama mahasiswi fakultas sastra dari universitas cukup terkenal di kota Tokyo. Tokyo adalah Ibukota Jepang. Sebuah kota kosmopolitan yang tak pernah tidur. Selalu sibuk dengan berbagai macam kegiatan. Semua orang di kota ini selalu nampak serba terburu-buru. Hanya orang yang kurang beruntung yang tidak bisa turut berlomba-lomba mengejar segala ambisinya. Mengajar semua mimpinya. Dan mencari kesempatan menjadi sukses dan lebih lengkap lagi bila bisa terkenal juga. Sebuah kota yang bisa menjanjikan segalanya.

Namun, bagi Ayaka adalah hal yang biasa, karena ia memang lahir dan besar di kota ini. Ia telah terbiasa melihat dinamika kota sesibuk Tokyo. Melihat banyak orang hanya mengisi hidupnya  dari hari ke hari seolah  berlomba dengan waktu, mencoba meraih segala hasratnya. Seolah hidup ini hanya untuk bisnis, bisnis dan bisnis!!! Uang, uang dan uang…!!! Sukses, sukses dan sukses!!!  Itulah arti kebahagiaan bagi sebagian manusia yang terhanyut dan terkulum dalam gulungan-gulungan ombak nafsu dunia yang tiada akan ada akhirnya.

Ayaka datang dari keluarga cukup berada. Semua kebutuhan materinya amat tercukupi. Segalanya keinginan bisa diperolehnya dengan mudah. Barang-barang mahal yang berharga fantastis pu sangat mudah dibelinya. Karena ayahnya, Kenjiro adalah pimpinan bank terkenal. Dan telah dikenal sebagai seeorang CEO sukses. Sedangkan ibunya, Shizuka, adalah ibu rumah tangga yang sibuk dengan berbagai kegiatan sosialnya. Ayaka memiliki seorang adik perempuan bernama Naomi, yang hanya berselisih usia 2 tahun. Saat itu Naomi masih duduk di bangku SMA kelas 2.

Semula ayahanda Ayaka tidak menyetujui fakultas yang menjadi pilihannya. Walau akhirnya beliau setengah hati mengabulkannya. Namun berulang kali pula beliau mempertanyakan apa yang menjadi cita-cita Ayaka yaitu ingin mengabdikan dirinya menjadi seorang penulis handal.

Seperti sepotong percakapan yang terjadi pada waktu yang tidak terduga hari itu.

“Ayaka…!” Ayah memulai pembicaraan.

“Apakah kamu benar-benar telah memikirkan masa depan mu..?”

Sosok Ayah buat Ayaka adalah sosok yang sangat ingin dikenalnya lebih jauh, tetapi karena berbagai macam kesibukkan Ayahnya yang amat luar biasa sibuk, menyebabkan Ayaka jarang bisa mendapatkan kesempatan itu. Sehingga hubungan merekapun sangat kaku, berjarak dan tidak harmonis.

Mendengar suara Ayahnya yang bertanya dengan suara yang menggelegar tadi, benar-benar membuat Ayaka hanya mampu menunduk dan terdiam. Dengan sekuat tenaga, dikumpulkannya segala keberanian yang dimiliki untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut, namun Ayaka hanya sanggup mengangguk perlahan.

Raut wajah Bapak Kenjiro nampak guratan kurang berkenan dengan apa yang menjadi jawaban Ayaka. Terlihat amat berat menerima kenyataan itu. Sambil berdiri, Kenjiro pun berkata…

“Baiklah…ini adalah pilihan hidup mu…!”

“Walaupun saya  pikir, cita-cita mu ini kurang bisa menjamin hidup mu kelak, namun Ayah berharap kamu berhasil…!” ucap Kenjiro sambil berlalu tanpa kesan dan tidak sedikitpun menunjukkan ekspresi kemesraan seorang Ayah yang amat dirindukan oleh Ayaka.

Setelah Ayahnya berlalu, tanpa sadar meneteslah air mata Ayaka. Sebenarnya Ayaka sangat ingin dapat bercakap-cakap seperti masa lalu. Di mana Ayahnya masih memiliki waktu mengajarinya Ayaka kecil belajar bersepeda, masih memiliki waktu mengajari Ayaka kecil berenang atau hanya sekedar bercengkrama bercanda ria menjelang Ayaka kecil tertidur di buaian malam. Ya..Ayahnya termasuk orang-orang yang terhanyut dan terkulum dalam gulungan-gulungan ombak nafsu dunia yang tiada akan ada akhirnya. Tidak sadar dengan apa yang dikorbankannya demi semua itu. . Kini semua hanya tinggal kenangan indah masa lalu yang sangat ingin diulanginya.

Tetesan air mata kian deras mengalir. Entah sudah berapa banyak tetesan-tetesan air mata yang sebenarnya amat sangat Ayaka ingin Ayahnya mengetahuinya. Mengetahui bahwa dirinya amat rindu akan kehadirannya. Rindu akan canda tawanya. Rindu akan kemesraannya.

Tetapi seperti biasa, harapan itu masih berupa harapan yang belum menjadi kenyataan. Hanya berupa angan-angan yang entah kapan dapat terwujud.

Seperti biasa, Ayaka berusaha bangkit dari kekecewaannya. Menutupi kesedihannya. Kembali Ayaka memakai topeng wajah yang sebenarnya bukan dirinya sesungguhnya. Wajah topeng yang berwajah manis dan bahagia. Hanya dengan cara itu dirinya berusaha menghadapi dunia. Hanya dengan cara itu yang diketahuinya dapat sedikit menghibur hatinya.

Waktu demi waktu terus berjalan. Kini Ayaka telah duduk di semester 3. Dunia kampus yang ceria dan dinamis, membantu Ayaka melupakan sejenak segala beban yang ingin dilupakannya.

Kesibukannya di kampus, memperkenalkan dirinya pada Takeshi yang menjadi kakak kelas di fakultas sastra. Dan seorang penulis muda yang baru berusia 20 tahun, namun telah memiliki nama sebagai penulis novel muda ternama. Dan baru-baru ini novel terbarunya kembali meledak. Laris manis di pasaran. Novel yang sangat gandrungi oleh kawula muda dan menjadi pembicaraan di mana-mana. Ternyata bukan itu saja keberhasilan Takeshi, entah tenaga super dari mana sehingga Takeshi pun masih memiliki waktu untuk menekuni olah raga yang menantang dan memerlukan latihan keras dengan disiplin tinggi, seperti olah raga Judo yang kurang lebih telah 4 tahun ini dilakoninya.

Ya..Takeshi adalah adalah salah satu atlet Judo nasional Jepang. Selain berbadan atletis, Takeshi pun memiliki wajah tampan. Membuat banyak penggemar wanitanya berteriak histeris bila bertemu dengannya. Banyak kaum muda yang menjadikannya tokoh idola. Tokoh inspirasi buat banyak remaja.

Berkat latihan yang sungguh-sungguh, tahun ini Takeshi pun berhasil memperkuat team Judo nasional Jepang yang akan bertanding di kejuaraan dunia di Korea bulan depan. Seorang Pejudo yang tangguh dan memiliki tehnik bantingan yang ampuh yang telah dikenal oleh lawan-lawannya. Siapa pun yang pernah menajadi lawannya, bila sedetik saja lengah, maka tanpa ampun, pasti pernah merasakan bantingan “UCHIMATA” nya. Uchimata adalah bantingan dengan kecepatan kaki yang luar biasa, mengkait kaki lawannya terlebih dahulu lalu melempar lawannya ke udara dan menghempaskannya kembali ke tatami atau lantai tempat pertandingan Judo.

Kemana pun Takeshi berada, Ayaka dan rekan-rekan sekampus lainnya selalu berusaha hadir. Memberikan dukungan support dan seluruh perhatiannya. Ayaka gembira sekali bila Takeshi hanya membalasnya dengan senyuman dari kejauhan atau hanya memberikan lambaian tangan padanya.

Tak ayal lagi tahun ini Takeshi berhasil menyabet juara dunia, yang membuat bangga negaranya. Tahun ini adalah milik Takeshi. Dewi fortuna sedang memihak padanya. Keberhasilan demi keberhasilan diraihnya. Puja dan puji digaungkan di seluruh pelosok Jepang. Berbagai media elektronik memburunya. Semua orang tiba-tiba mengenal dirinya. Kemana pun Takeshi berada selalu ada camera yang membututinya. Apa pun yang dilakukannya, segera akan ditiru oleh penggemarnya.

Tentunya hal ini membuat Takeshi tidak bisa sesering dulu berkumpul bersama teman-temannya. Namun Takeshi tetaplah ramah, baik dan sopan. Selalu berusaha membalas, bila di telepon atau membalas e-mail dari teman-temannya. Termasuk e-mail dan telepon Ayaka. Membuat hati Ayaka berbunga-bunga dan bahagia. Tanpa di sadarinya wajah tampan Takeshi serta senyumnya yang menawan semakin merasuki hati dan jiwanya.

Ayaka sering berusaha untuk mencari-cari kesempatan agar dapat bertemu dengan Takeshi dengan alasan ingin meminta pendapatnya tentang cerpen yang baru dibuatnya. Takeshi pun terlihat tidak keberatan dan selalu hangat menyambutnya. Makin menjadi-jadilah perasaan suka Ayaka pada segala sesuatu yang berkaitan dengan Takeshi. Mulailah Ayaka selalu memberikan informasi bila ada segala acara yang memungkinkan dirinya berjumpa dengan Takeshi. Dan sesekali walaupun sangat jarang, Takeshi berusaha untuk bisa hadir dan ikut berkumpul bersama-sama. Berkaraoke, datang ke acara ulang tahun atau hanya sekedar berjalan-jalan bersama. Tertawa bergembira bersama-sama. Saat-saat inilah yang membuat Ayaka kian hari kian bergairah. Wajahnya berpendar sinar kebahagiaan. Wajahnya sering merona merah dan terlihat semakin manis senyumnya. Walau perubahan itu terlihat, namun teman-teman Ayaka tiada yang berani menanyakannya. Karena mereka tahu sifat Ayaka  yang sangat privat.

Waktu terus bergulir. Empat tahun kemundian, Ayaka kini  sudah bekerja di salah satu media cetak ternama. Bekerja di perusahaan media cetak yang lebih menekankan pada dunia sport memungkinkannya bertemu lagi dengan Takeshi yang kini telah berusia 25 tahun dan tengah masa jaya-jayanya di arena Judo.

Suatu hari…di kota Kyoto. Ayaka yang tengah sibuk membantu peliputan olah raga nasional bertemu dengan Takeshi.

“Wah…kelihatannya sedang sibuk sekali nich..” tiba-tiba suara Takeshi terdengar merdu di telinga Ayaka

Segera Ayaka membalikkan badan dan dengan senyum yang sedikit malu-malu padahal hatinya bahagia sekali, Ayaka membalas..

“Apa kabar..?”

“Saya baik-baik saja..!” demikian jawab Takeshi.

Lalu Ayaka menyerahkan kartu nama dirinya pada Takeshi. Takeshi membacanya dengan seksama.

“Wah..hebat..!”

“Berarti kamu akan meliput semua pertandingan nasional kali ini ya..?” Tanya Takeshi.

“Ah..saya hanya masih banyak belajar..”

“Saya hanya membantu menyiapkan informasi-informasi yang diperlukan atasan saya..!” ujar Ayaka sambil menunjukkan jari telunjuk ke arah sesorang pria yang tengah berdiri membaca sesuatu.

“Eehhmmm…begitu ya..?” Takeshi nampak manggut-manggut.

“Doakan saya agar kali ini saya berhasil mempertahankan gelar juara nasional saya ya..?” lanjutnya.

Ayaka segera membungkuknya badan, dan berkata, “Semoga berhasil…!”

“Semangat lah…!!!”

Setelah saling membungkukkan badan, Takeshi pun beranjak pergi menjauh. Ayaka hanya bisa menatap tubuh kokoh Takeshi dari belakang. Hatinya ingin sekali memanggil namanya, tak tak jua keluar dari sudut bibirnya.

“Ahh…alangkah bodohnya saya ini..” Ayaka berguman kesal pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba tanpa di duga, Takeshi membalikkan badannya, sebelum sempat Ayaka mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sehingga mereka beradu mata. Muka Ayaka memerah karena malu. Dan perasaannya semakin tidak menentu kala langkah Takeshi semakin mendekati dirinya. Kala Takeshi telah berdiri tepat di hadapannya lagi, Ayaka tak lagi sanggup mengangkat wajahnya. Tertunduk dalam.

“Ayaka, bagaimana setelah pertandingan ini usai, kita makan siang bersama?”

“Apakah nomer seluler mu masih sama seperti dulu..?”

“E..eeeh…!!!” Hanya kata itu yang sanggup keluar dari mulut Ayaka.

Ayaka kaget luar biasa dengan undangan mendadak itu. Tapi hatinya luar biasa bahagia, karena ibarat pribahasa “pucuk di cinta ulam pun tiba…

” Harapanku sebentar lagi akan menjadi kenyataan. “ .bisik hati Ayaka.

“Kalau demikian, sampai nanti ya..”  ujar Takeshi sambil tersenyum lembut. Senyum seorng laki-laki yang telah lama didambakan oleh Ayaka.

Takeshi sang juara dunia dan juara nasional Jepang tahun lalu akhirnya siluetnya menghilang dibalik pintu stadion tempat dirinya bersiap-siap akan bertanding mempertahankan gelarnya untuk ke 5 kalinya.

Stadion telah ramai dengan para penonton. Para supporter masing-masing Judoka telah mengenakan segala atribut meriahnya. Terlihat para juri, wasit pertandingan dan panitia tengah bersiap-siap membuka acara pagi hari ini. Para wartawan media cetak dan media elektronik sibuk dengan segala macam alat perekam yang akan merekam tiap kejadian yang akan berlangsung. Para Judoka pun telah berbaris rapi untuk memulai parade pembukaan.

Ayaka bersama team dari media cetaknya telah berada di posisinya. Dengan berbagai upaya agar mendapatkan tempat terbaik agar dapat mengabadikan sejarah yang mungkin akan terukir dalam pertandingan ini.

Acarapun di mulai..diawali dengan tabuhan genderang Taiko, yaitu kumpulan gendang yang berukuran besar-besar Jepang yang ditabuh kuat-kuat oleh para penabuh yang akan memacu semangat siapa saja yang mendengarnya. Dilanjutkan dengan parade para Judoka dari tiap-tiap provinsi. Takeshi pun nampak dalam barisan utusan kota Tokyo yang juga kali ini menjadi tuan rumah pertandingan akbar ini. Kemunculan Takeshi mengundang sorak sorai dari para penonton, para penggemar dan para gadis-gadis yang tak henti-hentinya meneriakkan nama dirinya. Takeshi tampil bak seorang celebriti, nampak melambai-lambaikan tangannya dan tersenyum ramah ke segala penjuru stadion.

Upara ceremonial yang meriah ini akhirnya usai. Para Judoka kembali ke pinggir lapangan, di mana mereka menanti giliran bertanding guna menentukan siapa yang menjadi yang terbaik di tahun ini. Wajah-wajah tegangpun terpancar di banyak raut muka para Judoka. Para pelatih pun sibuk memompa semangat dan terus menerus memberikan dorongan rasa percaya diri kepada para Judoka nya.

Kini nama Takeshi, seorang Judoka legendaris terdengar nyaring terdengar dari pengeras suara agar segera bersiap-siap dipinggir lapangan, karena telah tiba gilirannya di babak pertama.

Lawan pertamanya ini adalah Satoshi utusan dari daerah Nagoya. Judoka pemula yang menunjukkan sebagai Judoka yang menjanjikan sebagai Judoka penerus di masa depan. Setelah ke dua Judoka saling memberi hormat, maka pertandingan pun di mulai.

Satoshi sadar bahwa lawan yang dihadapinya adalah lawan yang amat berpengalaman dan sangat dihormati. Lawan yang sangat kuat dan tangguh. Walau di atas kertas dirinya dianggap masih belum bisa mengalahkansang  juara dunia Takeshi, namun buat dirinya ini adalah suatu kehormatan besar baginya. Karena saat ini Satoshi berkesempatan bertemu langsung dengan tokoh Judoka idolanya, sang juara dunia dan juara Nasional yang legendaris. Satoshi mengerahkan semua kemampuan dirinya agar pertandingan ini bisa menjadi pengalaman yang amat berharga yang tidak akan pernah dilupakannya.

Setelah satu menit berlalu, serangan demi serangan gencar dilakukan oleh Takeshi, membuat Satoshi mulai kewalahan. Pegangan tangan yang kokoh Takeshi pada baju Judonya membuat dirinya sulit bergerak. Dan saat kuda-kuda kakinya melemah dan sedikit kehilangan keseimbangan, tiba-tiba datang serangan maut. Sebuah tehnik TOMOINANGE…yaitu sebuah tehnik memanfaatkan kehilangan keseimbangan tubuh lawan, sehingga lawan terjungkal, dan terbanting dasyatttt….Tehnik yang memerlukan keahlian luar biasa dan hanya Judoka yang telah memiliki jam terbang tinggi lah yang sanggup melakukan tehnik ini.

“Buummmmm…!!!” badan Satoshi terhempas keras di lantai matras tatami tempat pertandingan.

“IPPON..!!!” Teriak wasit pertandingan lantang…dengan salah satu tangannya mengarah pada Takeshi sebagai tanda bahwa kemenangan sempurna adalah milik Takeshi

Gegap gempita menggemuruh…terompet-terompet kecil pun di tiup kencang-kencang oleh para penonton yang takjub dengan kecepatan Takeshi menggunakan tehnik Tomoinange tadi. Ayaka pun termasuk yang berteriak-teriak tak putus-putus, seolah-olah Takeshi bisa mendengar teriakkannya diantara suara-suara heboh lainnya.

Ke dua Judoka saling memberikan hormat, dan kembali ke ruang tunggu di mana rekan-rekan Judoka sesama team nya telah menanti.

Takeshi masih tidak terbendung…Semua lawannya berhasil dikalahkannya. Sehingga akhirnya Takeshi berhadapan dengan Uchida di babak final. Uchida adalah teman sesama team nasional. Sering menjadi sparring partner Takeshi selama masa karantina bila ada latihan untuk kejuaraan nasional ataupun internasional. Ke dua Judoka ini sudah saling tahu titik lemah masing-masing. Dalam arena pertandingan, mereka berdua adalah musuh bebuyutan, namun di luar arena pertandingan mereka berdua adalah sahabat. Namun keberuntungan lebih sering berada di pihak Takeshi, sehingga bisa mempertahankan gelar juarannya sampai 4 kali berturut-turut.

Ke dua Judoka telah bersiap-siap di tengah lapangan pertandingan. Ke duanya berdiri gagah, saling berhadapan. Menanti aba-aba dari wasit pertandingan. Penonton di stadion dan penoton layar kaca pun sibuk menerka-nerka apakah Takeshi bisa mempertahankan gelar juara untuk ke lima kalinya. Sungguh suatu prestasi yang akan tercatat dalam sejarah olah raga di Jepang. Khususnya Judo. Ataukah akan terukir sejarah baru, dengan hadirnya juara baru.

Wasit pemimpin pertandingan telah mengangkat ke dua tangannya sebagai tanda bahwa pertandingan penentuan yang berdurasi 3 menit itu akan segera di mulai. Semua penonton mendadak terdiam…seolah bernafaspun mereka tak berani. Keteganganpun meningkat. Tiba-tiba….

“HAJIMEEEEE….-MULAIII…!!!” Teriak keras sang pemimpin wasit pertandingan.

Bagai dua orang samurai, ke dua Judoka melangkah maju melewati batas merah tempat mereka berdiri sebelumnya.

Sorot mata setajam mata elang ganas. Memancarkan kebulatan tekad masing-masing judoka bahwa ini adalah pertandingan maha dasyat buat ke duanya. Tiada keraguan ketika ke dua Judoka saling mencengkram baju judo masing-masing lawan. Kekuatan tangan yang sekeras bonggolan kayu. Serta terdengar geseran-geseran telapak kaki yang menapakkan kuda-kuda yang menghujam bumi. Sungguh lawan yang seimbang. Ke duanya kuat dan tangguh. Ke duanya telah berpengalaman. Dan ke duanya adalah teman sekaligus lawan, sehingga tidak ada lagi yang bisa disembunyikan.

Pertandingan seolah hanya saling memegang atau saling mencengkram baju judo lawan dan juga saling menggeserkan kaki mereka saja. Namun sesungguhnya ke dua Judoka itu tengah mencari kelengahan lawan dalam waktu yang hanya 3 menit itu. Bilamana kesempatan itu terbuka, maka adalah suatu kebodohan bila disia-siakan.

Uchida akhirnya mencoba serangan ‘O UCHI GARE” yaitu mencoba mengambil kaki lawan dengan gerakan kaki yang membentuk huruf O…Namun Takeshi tak lengah, sehingga dapat menghindar dengan baik. Pada saat kaki Uchida belum kembali ke posisi kuda-kuda sempurna setelah serangan yang baru saja dilancarkan. Takeshi melihat sedikit peluang untuk menyerang  balik Uchida dengan serangan ‘TAI OTOSHI” yaitu tehnik di mana Takeshi tiba-tiba membalikkan badannya dari badan lawan sambil kakinya mengganjal kaki lawan. Tehnik ini sangat tepat bila lawan  dalam keadaan berdiri dengan kuda-kuda tidak sempurna. Beban berat lawan berapa pun itu tak lagi jadi halangan. Karena lawan telah kehilangan kendali terhadap bobot badannya tersebut.

Uchida yang sama sekali tidak menduga serangan balik Takeshi itu terhenyak seketika. Menyadari kesalahan yang dibuatnya. Namun telah terlambat untuk diantisipasi. Maka tubuhnya terangkat tinggi ke udara dan terjun bebas kembali ke lantai matras tatami tempat pertandingan.

Sejenak semua yang berada di stadion itu terdiam, belum menyadari apa yang terjadi. Sampai akhirnya pimpinan wasit pertandingan berseru….

“WAZARiiiiiiiiii….!!!” yang artinya nilai bantingan Takeshi adalah setengah dari nilai sempurna.

Uchida menyadari bahwa itu adalah kesempatannya terakhirnya. Dia harus bisa membebaskan dirinya dari pertandingan teknik serangan bawah yaitu serangan yang akan dipergunakan bila lawan telah jatuh ke lantai matras pertandingan. Namun Takeshi tak kalah cepat. Segera tubuh Uchida yang tergeletak di lantai pertandingan itu diberi teknik kuncian maut. Sehingga Uchida tak sanggup bergerak kemanapun. Hingga hitungan ke 10 dari pimpinan wasit, Uchida gagal melepaskan dirinya. Akhirnya…pimpinan wasit…menepuk keras lantai matras tatami sebanyak 3 kali…Dan Takeshi kembali menjadi JUARA…juara ke 5 kali berturut-turut…sungguh prestasi yang membanggakan.

Sebulan telah berlalu dari pertandingan spektakuler yang makin melambungkan nama Takeshi. Seluruh media masa meliputnya dan tidak habis-habis memberitakannya. Berbagai penghargaan diterima oleh Takeshi.

Suatu hari…seluler milik Ayaka berbunyi. Ayaka yang tengah sendiri di dalam kamarnya tersentak melihat nama yang tertera di sana. ” T A K E S H I”.  Segera Ayaka menjawab telepon itu dengan detak jantunng yang berdegub cepat…

“Haloooo…”

“Hai…Ayaka…!”

“Apa kabar..?” terdengar suara ramah yang amat dirindukan Ayakapun terdengar.

“Maaf, baru sempat menelepon…” lanjut suara itu lagi.

“Apakah hari Minggu besok ada waktu untuk makan siang bersama?”

Ayaka masih terdiam, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ayaka tidak menyangka bahwa Takeshi masih ingat akan janjinya. Sungguh seorang pria yang sangat baik dan sangat diimpi-impikannya.

“Akan kah mimpi-mimpi indah ku ini akan jadi kenyataan..?” hatinya berbisik. Dan baru tersadar ketika Takeshi kembali bersuara.

“Halo..Ayaka bagaimana..?”

“Saya bisa jemput di rumah mu besok jam 11.00 ya..”

“Haik…!!!”  “ya”..hanya itu jawaban Ayaka.

Entah mengapa kali ini Ayaka merasa harus mempersiapkan dirinya sedetai mungkin untuk pertemuannya esok hari dengan Takeshil. Ayaka merasa pertemuannya esok hari adalah sangat special. Berbeda dengan pertemuan-pertemuan zaman mereka kuliah dulu, karena kali ini, hanya makan siang berdua saja, tanpa kehadiran teman-temannya yang lain.

Hari itu juga Ayaka pun lantas mendatangi sebuah tempat perawatan tubuh tercanggih yang berada di kota Tokyo. Seluruh tubuhnya di balur dengan cream khusus agar menjadi bersih,halus, wangi dan memancarkan kulit yang kenyal sehat. Setelah itu diipijat agar mendapatkan relaksasi maksimal. Dan mandi dengan aroma wangi bunga yang semerbak mewangi. Tak ketinggalan perawatan kuku-kuku pun dilakukannya. Dan dipolesi dengan pewarna kuku berwarna pink lembut.

Belum cukup dengan segala urusan berkaitan dengan kecantikan, hari itu juga Ayaka pergi ke salon yang telah lama tidak dikunjunginya. Di sana rambutrnya di rapikan, diberikan warna agar terlihat menarik dan dilakukan perawatan khusus agar rembutnya terlihat mengkilap dan bercahaya menarik. Di blow khusus, agar tataan rambutnya bisa bertahan hingga keesokkan harinya.

Setelah itu Ayaka berlari menuju sebuah pusat perbelanjaan. Di sana Ayaka membeli berbagai kosmetik dengan warna-warna trend terkini. Serta mendapat kursus kilat dari konsultan beauty, tentang cara-cara memoles wajahnya agar terlihat cantik dan rupawan. Ketika melewati sebuah estalase sebuah toko dengan brand ternama yang tengah memajang sepotong gaun coctail dress berwarna dasar putih dengan dihiasi bordiran bunga-bunga halus berwarna dusty pink.  Hatinya pun terpikat. Bergegas dirinya memasuki toko tersebut, dan mencoba baju tersebut. Ayaka kini benar-benar merasa semakin sempurna dan sepadan bila berjalan di samping Takeshi. Entah berapa dana yang dikeluarkan Ayaka pada hari itu, namun baginya semua itu tak sebanding dengan kebahagiaannya esok berjalan bersama Takeshi.

Keesokan paginya, Ayaka sudah panik mempersiapkan dirinya semaksimal mungkin. Memoles wajahnya dengan hati-hati. Memoles seluruh tubuhnya dengan lotion khusus, yang membuat kulitnya nampak makin cerah dan juga menyemprot seluruh tubuhnya dengan perfume wangi bunga Melati dengan sedikit campuran Lavender. Amat lembut, namun tidak menutupi kesensualitasan seorang wanita yang tengah kasmaran.

Tepat pada pukul 11.00, terdengarlah suara bel pintu rumahnya berbunyi. Di balik layar cctv nya, Ayaka melihat Takeshi telah berdiri di sana. Sebelum membukakan pintu, Ayaka kembali menoleh ke sebuah kaca yang bertengger dekat pintu. Setelah yakin dengan penampilannya, barulah Ayaka membukakan pintu tersebut. Hatinya tak sabar, menggelora, bak ombak yang bergulung-gulung.

Nampak wajah Takeshi yang ganteng serta senyuman khasnya.

“Hai..!”

“Wow…kamu nampak manis sekali Ayaka..!” puji Takeshi yang makin melambungkan angan-angan Ayaka. Tersipu malu.

“Bagaimana, apakah sudah siap..?” lanjut Takeshi..

Segera Ayaka mengangguk dan mengambil tas tangan putihnya, lalu disampirkan dipundaknya.

“Naomi…!” Ayaka memanggil sang adik.

“Kakak berangkat dulu ya…!”

Takeshi membukakan pintu mobil untuk Ayaka, membuat Ayaka benar-benar merasa sangat special dan bahagia karena diperlakukan bagai seorang putri.

Iringan lagu jazz yang bertemakan cinta mengalun lembut dari CD. Jalanan kota yang tidak macet, makin menambah indahnya hari itu. Takeshi banyak bercerita mengenang masa-masa kuliah dulu. Tak terasa, akhirnya mereka tiba di sebuah restoran bearsitektur Prancis. Makin menambah suasana romantis dalam hati Ayaka yang sedari tadi telah berbunga-bunga. Apalagi ketika dirinya turun dari mobil, Takeshi menggandengnya dengan lembut. Mereka berdua menuju pintu restoran yang telah terbuka oleh sang penyambut tamu. Suasana restoran ternyata tidak terlalu ramai. Iringan instrumentalia piano klasik menyambut mereka. Lampu yang temaram membuat suasana makin memabukkan perasaan Ayaka. Dengan diantar oleh seorang pelayan, mereka menuju suatu ruangan khusus. Dan ketika pintu dibuka…ternyata…di sana nampak teman-teman yang lainnya telah menunggu dan meneriakkan Happy Birthday..!!!

Ayaka hanya dapat termangu dan mematung. Kaget. Ternyata tanpa disadarinya hari ini usia dirinya telah bertambah setahun. Semua teman-temannya ternyata hadir dan satu persatu menghampiri dirinya dan memberikan ucapan selamat. Ternyata yang merencanakan ini semua adalah adiknya sendiri Naomi.

“Selamat Ulang Tahun ke 26 ya kakak…!”

“Makanya kakak jangan sibuk sendiri saja, sehingga lupa usia kakak telah bertambah..” lanjut Naomi.

“Ayah dan Ibu masih sedang berada di Paris, mereka menitipkan hadiah ini untuk kakak..!” Naomi menyerahkan sebuah box kado berwarna dusty pink, warna kesukaan Ayaka.

“Tetapi nanti malam mereka berdua akan kembali ke Jepang..” lanjut Naomi.

“Ayah Ibu berharap kakak senang dengan pemberian mereka..”

Ayaka lalu membuka box kado tersebut. Ternyata berisi sebuah jam tangan yang bertali kulit berwarna dusty pink. Ayaka langsung mengenakannya dan berkata pendek…

“Terimakasih…Saya suka..”

Walaupun surprise party ini berlangsung sangat meriah, namun hati Ayaka tidak begitu gembira. Karena semua khayalannya yang diinginkannya buyar. Apalagi dilihatnya Takeshi selalu berdampingan dengan seorang wanita yang sangat cantik yang belum dikenalnya. Hal ini membuatnya bersedih.

Ayaka tidak mengerti apa yang menjadi perasaannya kini. Baginya kini semua nampak membingungkan. Walau banyak teman-teman yang mengelilinginya, namun dirinya merasa sunyi. Akhirnya satu persatu teman-temannya meninggalkan ruang pesta. Termasuk Takeshi bersama wanita cantik yang selalu berada dalam genggaman Takeshi.

“Ayaka…Selamat Ulang Tahun ya…”

“Kami harap kamu baik-baik saja..!” Takeshi menjabat tangan Ayaka. Dengan lembut.

“Saya harap kamu masih ingat pada Seiko, istri saya”.

Ayaka terlonjak kaget. Bagai tersambar petir disiang bolong mendengar pernyataan terakhir dari Takeshi. Dan Ayaka tidak dapat menguasai dirinya lagi. Tidak bisa ingat apa yang terjadi selanjutnya.

Ketika tersadar dirinya telah berada di dalam kamar telah dikenalnya dengan baik. Sebuah kamar yang bercat dinding dusty pink.

Dari balik jendela kamarnya nampak sorot lampu taman yang temaram menandakan hari telah malam.

Sayup-sayup terdengar suara orang bercaka-cakap di ruang tamu. Namun Ayaka merasa dirinya sangat lemah hingga tak mampu membuat dirinya bangkit dari tempat tidurnya. Kembali mata itu terpejam.

Ternyata di ruang tamu tersebut Ayah, Ibu, Naomi dan seorang tamu.

“Kira-kira bangaimana kondisi putri kami …?” demikian Ibu Shizuka bertanya

“Sementara ini semua baik-baik saja, tapi kami sarankan agar putri Ibu tidak lupa meminum obat anti depresinya..” jawab sang tamu.

“Baiklah, maaf kan kami telah lalai menjaganya..sehingga pak dokter terburu-buru datang kemari..” ucap Ayah Kenjiro.

“Baiklah, karena hari makin malam, saya akan pamit sekarang…” Dokter Nakajima pun berpamitan.

Beliau adalah seorang dokter ahli kejiwaan yang selama ini merawat Ayaka. Yach…Ayaka telah lebih dari 2 tahun ini menjadi pasiennya.

Kerinduan pada kasih sayang sang Ayah menyebabkan Ayaka sangat meng-idolakan Takeshi. Yang di matanya terlihat sangat sempurna dan memenuhi segala kriteria yang amat didambakan oleh Ayaka. Takeshi menjadi tokoh pelindung dalam menghadapi dunia ini yang selalu menghajar pertahanan jiwa Ayaka yang kurang tegar. Dirinya merasa bahwa Takeshi adalah miliknya. Sumber segala denyut nadi kehidupannya. Seorang tokoh yang menjadi api semangat jiwanya yang rapuh. Seorang tokoh pengganti sang ayah yang amat dirindukan kasih sayangnya.

Dua tahun lalu, setelah pertandingan nasional judo di Tokyo itu. Sebenarnya, Takeshi tidak pernah menjanjikan dirinya akan mengajaknya makan siang bersama. Karena dirinya telah bertunangan dengan Seiko, seorang gadis pilihannya yang telah dikenalnya selama 3 tahun. Kenyataan pahit itu tidak bisa diterima oleh Ayaka. Setiap kali Ayaka melihat pemberitaan tentang pasangan Takeshi dan Seiko, Ayaka membayangkan bahwa dirinyalah yang menjadi Seiko. Makin lama, depresi Ayaka semakin tak terkendali. Ayaka semakin sulit membedakan antara kejadian yang benar-benar terjadi dan mana yang hanya khayalannya belaka.

Akhirnya jiwa Ayaka semakin sakit. Menjadi pendiam, penyendiri dan pemurung. Mel.ihat penderitaan putrinya, akhirnya sang Ayah Kenjiro tersadar, bahwa putrinya amat merindukan dirinya. Putri yang sebenarnya benar-benar disayanginya telah terluka oleh ambisi-ambisi duniawi yang selama ini dikejar-kejar tidak jelas tujuannya. Putrinya telah menjadi korban keegoisan dirinya. Walau kini Kenjiro amat menyesalinya, namun semua telah terjadi. Nasi telah menjadi bubur.

Sejak beberapa bulan lalu, kenjiro mulai mengurangi segala urusan pekerjaannya. Dan kepergiannya ke Paris bersama sang istri pada saat Ayaka akan merayakan ulang tahunnya ke 26 tahun itu adalah untuk menyelesaikan tugas terakhirnya sebelum menyerahkan surat pengunduran dirinya pada pemilik bank tempatnya bekerja. Walaupun waktunya kurang pas dengan kondisi yang ada, namun Kenjiro tidak ingin menunda-nunda keputusannya. Dengan berat hati, acara ulang tahun Ayaka dipercayakan pada  putri ke duanya, Naomi. Ternyata Naomi lalai memberikan obat pada sang kakak. Ayaka menjadi mudah panik dan sangat sensitif, sehingga kejadian di pesta itu terjadi. Namun Ayah dan Ibu tetap berterimakasih pada Naomi dan tidak menyalahkan kejadian itu pada Naomi. Karena Naomiyang telah berusaha menjalankan apa yang diminta olehnya. Naomi juga sangat ingin Ayaka bisa ceria seperti dulu kala.

“Naomi..ayah dan ibu sangat berterima kasih atas segala upayamu nak..” ujar ayah dan ibu sambil memeluk penuh kehangatan. Kehangatan yang telah lama lenyap dari rumah ini. Naomi pun membalas dengan penuh rasa haru.

Kini Kenjiro tengah berada di samping tempat tidur Ayaka. Menatap wajah manis putrinya. Tak terasa pipi Kenjiro telah bersimbah air mata penyesalan.

“Maafkan Ayah nak…” Kenjiro mengucapkannya dengan penuh kelembutan.

“Selamat tidur bidadari kecilku…!”

“Besok ayah tidak akan pergi kemana-mana..”

“Ayah akan berada di rumah seharian bersama Ibu, Naomi dan tentunya engakau anakku sayang…”

Kenjiropun kemudian meredupkan lampu kamar Ayaka dan menutup pintu kamar bercat warna dusty pink tersebut.

Di usapnya kepala Ayaka dengan penuh kasih sayang…Dikecupnya dahi Ayaka dengan penuh kehangatan.

Walau sebenarnya Ayaka yang masih dalam terpengaruh obat penenang dan obat anti depresinya yang diberikan oleh dokter Nakajima. Namun nampak beberapa tetes air mata bahagia mengalir dipipinya.

“Ayah…I Love You….”

THE END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: