h1

SELF MANAGEMENT ala JEPANG

May 25, 2010

Dalam pertemuan saya hari ini dengan seorang sahabat, kami membicarakan salah satunya mengenai SELF MANAGEMENT yang diajarkan pada anak-anak sejak dini bahkan kini mulai dicoba mulai dari 0 tahun. Ini bukan tulisan ilmiah banget lho…cuma sharing sdkt pengetahuan yang kami tahu ada dalam kehidupan masyarakat di Jepang. Jadi bila ada yang kurang tepat,dg senang hati boleh dikoreksi lho..

Dan katanya menurut hasilnya survey di Jepang, banyak anak-anak yang dilatih sejak 0 tahun ini..hidupnya banyak yang berhasil dan sukses.

Di sana di kenal dengan sebutan 5 S, yaitu:

1. SEIRI (MENYUSUN BARANG-BARANG YANG BERUKURAN KECIL)

a. Mulai mengajarkan dan melatih seorang anak sejak dini agar mampu memanage dan merapikan segala macam barang-barang kecil milik pribadinya. Contohnya: Biasanya dalam laci meja belajar anak terdapat berbagai macam alat tulis. Nah..dalam kebiasaan orang di Jepang, laci tersebut harus tetap bisa ditata dengan rapi oleh sang anak sesuai dengan berbagai jenis barang-barang kecil yang ada. TIDAK DIIZINKAN BERANTAKAN. Caranya adalah..biasanya seorang ibu akan membeli suatu tempat yang sudah ada pembagiannya, agar bila laci itu dibuka, maka pincil, pulpen, penghapus dsb diletakkan terpisah-pisah shg tetap bs tertata rapi.

b. Membiasakan anak sejak dini, untuk mengembalikan barang-barang yang kecil-kecil itu setelah dipakai. Contoh: Karena di Jepang tidak ada pembantu, maka sejak kecil…anak tersebut dilatih untuk mengambil atau mengembalikan botol susunya sendiri di dapur.

2. SEITON (MENYUSUN BARANG-BARANG YANG BERUKURAN BESAR)

a. Mulai mengajarkan dan melatih seorang anak sejak dini agar mampu memanage dan merapikan segala macam barang-barang besar milik pribadinya. Contoh: di meja belajarnya, ada buku-buku, ada computer atau barang-barang lainnya. Anak dilatih cara menyusun buku yang baik dalam lemari..mulai dari buku-buku besar baru kemudian dilanjutkan menyusun buku-buku kecil.

b. Membiasakan anak sejak dini, untuk mengembalikan barang-barang itu setelah dipakai..

3. SEISO (MEMBERSIHKAN)

Nah..kalo yang ini…almrhmh my Mom ga bosan-bosan nya memberikan contoh pada anak-anaknya ketika kami kecil. Walaupun ada pembantu, tapi kami ga dibiarkan bermalas-malasan. Kalo melihat cara saya menyapu, cara saya memegang sapunya pun ala Jepang. Kelihatannya simple ya..hanya menyapu lantai. Tapi untuk lolos dari standar bersih my mom kala itu..wuiiihhh..benar-benar menyapu itu jadi ga semudah kelihatannya lho. Harus jeli dan teliti.

Dan juga almrhmh Ibu saya amat tegas bahwa segalanya harus selalu dibersihkan setelah habis dipakai. Walau pada hari itu ritual yang sama bisa berulang sampai 3 kali. Contoh: Manusia paling sedikit akan memakai meja makan sebanyak 3 kali sehari. Pagi, siang dan malam. Jadi setelah makan pagi selain peralatan makan yang dibersihkan, meja makan, alas makan atau tempat tatakan gelas semua harus dibersihkan. Jadi tidak ada istilah..”ahhh..toh nanti waktu makan siang, peralatan-peralatan makan itu kan akan dipergunakan lagi kan?” Jadi udah sekalian aja nanti dibersihkannya…

4. SEIKATSU (KEBIASAAN YANG BERULANG-ULANG DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI)
Contohnya: Seorang Ibu yang masih menyusui anaknya…maka Ibu tersebut akan menyusui anaknya hanya di satu tempat (tidak berpindah-pindah di sembarangan tempat dalam rumahnya, hari ini di sofa, nanti sore di depan tv dsb..dsb..). Sehingga sang bayi diharapkan merasakan suasana disiplin sejak masih baby. Dan ternyata, memang benar, begitu anak itu besar, anak tersebut lebih mudah diajarkan, misalnya, makan itu harus di meja makan (tidak boleh sambil jalan-jalan), belajar itu di meja belajar, tidak boleh sambil nonton TV dsb..dsb…

5. SHITSUKE (MENDIDIK)
MENDIDIK di sini bukan dalam artian secara akademik, tapi lebih pada pola kehidupan yang terpatri dalam cara berpikir anak dan juga berusaha menjaga dan melestarikan suatu budaya tata krama yang kita sama-sama bisa lihat bahwa semodernnya Jepang kini, ternyata, tetap saja tata krama sikap tak berbeda jauh dari zaman ke zaman. Contohnya: Sikap membungkukkan badan (memberikan penghormatan) bila bertemu dengan orang lain. Sikap mengharmonisasikan alam dengan kehidupan manusia itu sendiri dll…

Contoh lain yang membuat saya terpana mendengar cerita dari sahabat saya adalah…Bayi-bayi di Jepang mulai di biasakan tidak mempergunakan diapers (popok seperti pampers dsb). Karena makin banyak warga Jepang memikirkan dampak lingkungan atas penggunaan diapers tadi. Caranya adalah bayi-bayi itu dilatih mulai dari umur 0 tahun untuk pipis dan pup di kamar mandi.. Haa…??? Bagaimana caranya..??? tanya saya pada teman saya yang 100% berdarah Jepang tersebut…

Caranya adalah memang semua tergantung kedekatan hati antara ibu dan anak. Di Jepang tidak ada pembantu. Jadi benar-benar Ibu itu mengurus bayinya 24 jam. Oleh karenanya sang Ibu lama-lama akan mengerti arti perubahan raut wajah baby nya bila ingin pipis atau ingin pup atau ingin minum susu atau sang baby lapar, atau sang baby sakit….Masa sich..???? Tapi ini benar-benar sudah di mulai di Jepang sana…Hebattt ya…!!! Bayi-bayi pun sudah sejak dini sekali diajak memikirkan dampak lingkungan (sejak umur 0 tahun…).

Semua ini memungkinkan bila semua pihak mau bekerjasama, bekerja keras dan mau berpikir lebih jauh demi kemajuan bersama di masa akan datang dan tidak hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri.

Semoga tulisan ini ada manfaatnya. Bila ada salah kata atau segala kekurangan..mohon kiranya dapat dimaafkan. Terima kasih ya…

One comment

  1. […] by Djulita Mariko […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: