h1

KODOMO NO HI (PERAYAAN HARI ANAK LAKI2)

May 26, 2010

Di Jepang ada sebuah perayaan festival yang khusus diadakan untuk anak-anak (CHILDREN DAY). Nah…Children Day itu sendiri di Jepang terbagi 2 :

1. FESTIVAL KODOMO HI adalah sebuah festival khusus anak-anak laki-laki yang akan jatuh setiap tgl 5 di bulan ke 5. (5 May).

2. Festival HINA MATSURI atau biasa dikenal dengan DOLL FESTIVAL, adalah sebuah festival yang lebih diperuntukkan bagi anak-anak perempuan. Yang jatuh setiap tanggal 3 dibulan ke 3 (3 Maret).

Kali ini saya akan sdkt men-share pengalaman saya ttg perayaan KODOMO NO HI terlebih dulu.

Di banyak rumah yang memiliki putra biasanya akan memasang BANNER di depan rumah mereka. BANNER itu bentuknya seperti ikan CRAP (seperti ikan-ikan kecil) yang bersusun 3, dengan warna-warni yang cerah. BANNER itu akan melambai-lambai bila tertiup angin. Tiap warna memiliki arti tersendiri..antara lain, melambangkan KEBERANIAN, KESUKSESAN dan KEMAKMURAN. (NAMA BANNERNYA adlh KOIN NO BORI).

Mewakili harapan dari orang tua bahwa kelak sang anak laki-laki (putra mereka) bisa menjelma dari hanya seekor ikan CRAP kelak dapat menjelma menjadi seekor DRAGON (NAGA) yang kuat dan gagah.

Selain itu, pada perayaan ini, biasanya masih ada orang tua yang akan membelikan putra mereka satu set “WORRIOR DOLL (MUSHANINGYOO).” Koleksi tersebut, akan mereka display di dalam rumah mereka. Benar-benar koleksi yang kereeennn abizzz. Tp sekarang harganya sudah mahal dan jarang ditemui toko, hanya dapat dijumpai di toko2 khusus saja.

Dan juga pada perayaan KODOMO NO HI ini banyak dijual kue traditional yang hanya akan dibuat pada festival hari anak laki-laki ini saja. Yaitu kue SHIWA MOCHI…Rasanya sich sama seperti mochi umumnya. Legit dan manis. Tp yang berbeda adalah mochi2 untuk perayaan ini adalah dibentuk dg simbol2 tertentu yang laki2 banget dech…dapat di lihat dari design kue yang tidak terlalu byk ornamen, tapi bergaris-garis tegas bentuknya dan warna-warna yang melapisi mochi adalah warna-warna tentara.

Kenapa perayaan anak laki-laki ini di Jepang masih dianggap penting?

Filosofinya adalah seorang anak laki-laki Jepang kelak bila telah dewasa, maka diharapkan mampu mengemban kewajibannya sebagai seorang PEMIMPIN. Paling tidak menjadi PEMIMPIN bagi keluarganya. Hampir sama ya dengan di Indonesia….Tapi ada sedikit perbedaannya…

Apa ya beda nya….????

Ada sebuah ilustrasi yang mungkin bisa menjelaskannya lebih detail dalam peng-aplikasian kehidupan keluarga di Jepang yaitu…sbb:

Ada sepasang calon pengatin yang akan melaksanakan pernikahannya. Maka pada saat akad, sang pengantin wanita akan mengenakan kimono untuk upacara pernilkahan di kuil yang berwarna putih bersih. Wajahnya pun dipupur sedemikian putih…
Warna putih itu merupakan sebuah simbol yang mengandung arti bahwa sang pengantin wanita masih suci dan bersih..
Dengan makin majunya Jepang dan derasnya budaya asing. Saya rasa tradisi ini pun sudah mengalami pergeseran.
Sementara sang Pengantin laki2nya akan mengenakan pakaian upacara kimono berwarna hitam, warna yang dianggap menunjukkan KEWIBAWAAN.

Nah..ketika acara akad di kuil selesai, maka akan ada sebuah acara reception (pesta). Di mana sang pengantin wanita akan berganti pakaian, dengan gaun pengantin modern (wedding dress), dan sang pengantin laki-laki bisa berganti pakaian pengantin modern juga (tuxedo).

Namun pakaian Pengantin Wanita untuk acara resepsi adalah pilihan dan selera dari suaminya. Apa pun yang telah menjadi pilihan sang suami, pihak pengantin wanita HARUS memakainya. Biarpun itu bisa membuat sang mempelai wanita menjadi sebuah kenangan yang menyedihkan, menyebalkan bahkan menyakitkan.Terutama bila pakaian tersebut tidak sesuai dengan keiinginan hati sang mempelai wanita. Misalnya..: warnanya dianggap norak, modelnya dianggap ga level, atau gaunnya dianggap kampungan. Tapi semua harus diterima dan dipakeeee…oleh sang pengantin wanita!!! Itu adalah simbol suatu bentuk pengorbanan yang mungkin akan terjadi dalam mengarungi bahtera berumah tangga. Ada rasa marah, sedih, jengkel, benci dan sebagainya.

Dan juga sebagai simbol bahwa “dirinya siap dari ujung rambut sampai ujung kaki menjadi istri dan mengikuti semua warna kehidupannya bersama dengan laki-laki yang kini telah menjadi suaminya.”

Namun sekali lagi ini menurut pendapat saya lho.., sudah banyak terjadi pergeseran-pergeseran budaya di generasi2 muda di Jepang sekarang. Sehingga hal-hal simbolis tadi hanya dianggap bagian dari upacara ceremonial saja. Walau masih ada juga keluarga-keluarga yang mempertahankan tradisi-tradisi ini.

Nah..kebayangkan..kalau anak laki-laki Jepang tidak dididik dengan baik dan benar…? Sementara kelak semua warna-warna nya akan diikuti (MINIMAL) oleh istri dan anak-anaknya. Musibah banget kan..???

Nah…pada festival ini…sepertinya para orang tua juga diingatkan agar mereka mendidik putra-putra mereka sebaik-baiknya. Bukan berarti para anak-anak wanitanya engga lho…cuma beda episode…hehehe…

Demikian sedikit sharing saya..semoga bisa bermanfaat….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: