h1

SEGITIGA MASLOW PLUS

May 26, 2010

Untuk melengkapi tulisan saya sebelumnya tentang SEGITIGA MASLOW, maka sebuah ulasan tulisan yang menaruk yang di buat oleh saudara saya (MONA) ini mungkin lebih dapat menjelaskannya secara lebih mendalam lagi. Mengapa judulnya SEGITIGA MASLOW PLUS..? Nah…sama-sama kita baca yuuk..!

MASLOW memperhatikan bahwa kebutuhan manusia pada umumnya membentuk sebuah piramida. Teori Maslow ini dikenal sebagai Piramida Maslow atau Segitiga Maslow.

Segitiga Maslow menerangkan bahwa kebutuhan yang berada pada basis piramid adalah kebutuhan dasar dan jumlahnya lebih banyak dari kebutuhan yang ada di atasnya. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan, bukan berarti kebutuhan dasar bisa di skip. Kebutuhan dasar bukan jadi yang utama, tapi tetap saja ada porsi nya.

Artinya, selama manusia hidup belum tentu dia bisa mencapai puncak piramida. Hal ini ditentukan oleh kemampuan si manusia meng-upgrade dirinya. Semakin si manusia cepat mencapai puncak piramida, maka kehidupannya akan lebih cepat stabil. Semakin lambat si manusia mencapai puncak piramida, maka kehidupannya akan selalu terombang ambing.

Jika dikaitkan dengan masa teori perkembangan manusia oleh Sigmund Freud, Jean Piaget, dan Erik Erikson, maka puncak piramida seyogyanya dicapai pada usia kematangan psikologis, yakni menjelang atau pada usia 18 tahun (usia biologis). Usia ini merupakan batas di mana seharusnya manusia sudah melewati fase-fase perkembangannya dan seharusnya sudah berhasil. Manusia yang tidak berhasil melalui tiap fase perkembangannya akan diimplikasikan pada kegagalan mencapai tahap-tahap piramida Maslow juga.

Gambar di bawah ini adalah modifikasi saya dari segitiga Maslow yang sesungguhnya. Sebetulnya bukan murni pikiran saya. tapi juga pikiran guru-guru yang mendidik saya sebelum ini. Piramida Maslow yang sebenarnya tidak memiliki puncak Religi. tapi berhenti pada Self esteem (penghargaan kepada diri sendiri). Berhubung saya seorang muslim, saya juga merujuk dari hadist Rasulullah SAW yang maknanya “Jauhilah kefakiran, sebab kefakiran itu dekat sekali dengan kekafiran”.

Dulu ketika seorang dosen meletakkan religi pada puncak piramida dan bukan basis piramida, banyak sekali kontroversi dan perbedaan pendapat justru pada umat muslim sendiri. namun saya bisa mengerti jalan pikiran dosen saya itu (yang saya yakini cukup fakih, tapi kefakihannya sempat diragukan karena ini).

Yuk kita bahas saja tentang segitiga Maslow plus ini

1. KEBUTUHAN FISIOLOGIS/ FISIK DASAR adalah makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan seks. artinya seorang manusia tidak akan bisa bertahan hidup apabila dia tidak memperoleh basic needs ini. Hubungannya dengan langkah berikutnya, yaitu kebutuhan rasa aman, yaitu seseorang tidak akan bisa memikirkan rasa aman jika perutnya belum kenyang. Bahkan keamanan dirinya kerap kali dipertaruhkan demi mengganjal perut. misalnya seorang anak jalanan yang bisa saja berubah jadi pencopet dan pelacur hanya dengan alasan LAPAR.

Untuk diketahui, sesuai dengan hukum seleksi alam, jumlah spesies yang ‘berhasil’ menantang kehidupan lebih sedikit dibandingkan spesies yang ‘kalah’. katakanlah si miskin adalah spesies yang kalah dan jumlahnya lebih banyak dari pada spesies si kaya. baitul mal, sedekah, dan zakat, yang dibentuk oleh Rasulullah SAW (berdasarkan perintah Allah SWT) pada dasarnya adalah bertujuan melakukan keseimbangan alam. bisa dibayangkan jika spesies miskin tambah banyak, maka ancaman terhadap kekayaan si kaya juga tambah heboh. dan si miskin, sesuai dengan yang telah di sabdakan Rasulullah nggak akan mudeng diberi nasihat ‘Jangan mencuri, mencuri itu dosa…’
sebab kebutuhan dasarnya belum terpenuhi. Dia nggak akan bisa mengerti arti DOSA.

2. KEBUTUHAN RASA AMAN adalah bentuk up-grade dari rasa kenyang makan dan tubuh yang seimbang. Bentuk purba yang dilakukan orang adalah dengan mencari home sweet home. suatu tempat yang bisa memberikan rasa nyaman, aman, bebas dari tuntutan. suatu tempat yang menyokong kebutuhan dasar tadi tetap terpenuhi. sebelum ini artian tempat tinggal adalah tempat berteduh dari panas, hujan, dan tempat merebahkan kepala saat mengantuk. tapi dalam memenuhi rasa aman, bukan hanya panas hujan dan mengantuk yang dipikirkan, melainkan efek psikisnya.

Rumah megah bagi seseorang, namun dalam rumah itu dia selalu dituntut untuk menjadi seseorang yang bukan dirinya bukanlah RUMAH yang sesungguhnya. bisa terjadi pada seorang suami yang selalu dituntut oleh keluarganya untuk memenuhi permintaan-permintaan yang tidak berkesudahan, atau seorang anak yang dituntut untuk menjadi juara kelas, menjadi bintang idola cilik, dan sebagainya. sehingga bukan tidak mungkin personil yang ada di dalam rumah itu akan mencari “rumah” lain yang bisa menerima dirinya apa adanya.
Rasulullah pernah berkata pada seorang sahabat yang memiliki istri yang tidak baik perangainya, “Sepertinya kamu mesti mengganti pintu rumahmu…”

3. KEBUTUHAN AKAN KETULUSAN, CINTA KASIH DAN RASA SAYANG. kebutuhan ini adalah bentuk lanjut setelah seseorang mampu mendapatkan rasa aman di suatu tempat yang tetap, tidak nomaden. Seorang laki-laki yang tidak lagi nomaden, sudah memiliki pekerjaan tetap biasanya akan terpikir untuk bisa menikah kendatipun pangkatnya belum tinggi. Sebab kebutuhan ini akan datang secara fisiologis begitu seseorang sudah bisa mendapatkan dua kebutuhan dasar sebelumnya. Dalam suatu rumah tangga dia bisa mendapatkan arti lain dalam berkorban/ ketulusan. jika dia hidup sendiri, tidak ada yang bisa membuktikan dia sudah melakukan pengorbanan.

Aneh ya, ada suatu kebutuhan untuk bisa merasakan sedihnya orang lain dan mengorbankan sebagian yang menjadi milik kita untuk orang tersebut. jika itu tidak tercapai, hidupnya berhenti pada dua fase sebelumnya, dan hampa.

Mungkin lebih konkrit lagi jika dibayangkan seorang ibu yang sudah payah mengandung 9 bulan, mempertaruhkan nyawa ketika melahirkan, dilawan oleh anaknya, tapi tetap berusaha memberikan anaknya yang terbaik. Ketika anaknya akan menikah, si ibu merasa kehilangan dan takut tidak lagi dicintai. Untuk menutupi ego nya, si ibu terus mencampuri urusan anaknya. Hanya demi untuk bisa melakukan pengorbanan demi orang yang dicintainya.

4. KEBUTUHAN MENGAKTUALISASIKAN DIRI. berangkat dari sebuah keluarga yang penuh cinta kasih, seseorang akan muncul untuk mengaktualisasikan dirinya dan berani keluar dari rumah sambil mengatakan ini saya dengan segala kemampuan yang saya miliki. Kalimat yang biasanya diucapkan oleh seseorang yang kenyang akan kasih sayang terutama kasih sayang ibunya. Lucu, “hanya” dengan memberikan cintanya (dengan cara yang benar tentunya) seorang ibu sebenarnya sudah memproduksi sebuah jiwa yang tahan banting dan mampu menantang dunia. Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya, ibu yang melakukan tarbiyah rububiyah. Secara otomatis akan menghasilkan manusia-manusia baru yang memiliki percaya diri. seseorang yang dilahirkan di sebuah keluarga yang tidak mengenalkan kasih sayang tidak akan sekonyong-konyong berubah menjadi manusia percaya diri. bahkan cenderung menarik diri dan mis-trust pada kehidupan sosial.

5. KEBUTUHAN MENGHARGAI DIRI SENDIRI DAN DIHARGAI. Setelah seorang pemuda bisa muncul dengan percaya dirinya melakukan sesuatu dan menghasilkan sesuatu yang berguna bagi kemaslahatan dari yang terkecil (keluarga) hingga terbesar (mungkin negara) maka akan muncul suatu kebutuhan untuk dihargai. Dia tidak akan mau DISAMAKAN dengan orang yang belum menghasilkan apa-apa seperti dirinya. Akan ada perbedaan perlakuan, perbedaan gaji, perbedaan posisi, perbedaan tempat duduk, dan sebagainya. suatu hal yang tidak akan dipikirkan oleh orang yang belum berhasil mengaktualisasikan dirinya. Selain dirinya yang menuntut seperti itu, dia pun menuntut orang lain memperlakukan hal yang sama pada dirinya.

6. KEBUTUHAN ILAHIYAH. Sayangnya, banyak orang yang memandang keberhasilan itu adalah saat dia sudah dihargai ‘seperti selayaknya’ oleh orang banyak. sering kali orang menahan kebutuhan yang tertinggi yakni KEBUTUHAN UNTUK MENGABDI PADA YANG MAHA KUASA. Seringkali berhasil dalam hidup adalah berhasil dalam mencapai ESTEEM. padahal definisi ESTEEM bisa bergerak sesuai tuntutan zaman dan bergerak sesuai bertambahnya usia. Orang yang sudah bisa mencapai kebutuhan tertinggi ini akan tetap stabil kejiwaannya dibandingkan yang belum pernah sama sekali mencapainya. Sebab, semua kebutuhan itu akan saling mendukung satu sama lain dan bisa menarik kembali kebawah jika ada yang tergoyahkan. namun orang yang sudah mencapai kebutuhan tertinggi ini tidak mudah lekang kendati pun kebutuhan yang ada di bawahnya merosot.

Suatu keuntungan menjadi manusia non-atheis, kita tidak mudah putus asa dan feeling down. Atau saat kita kehilangan sesuatu, ” Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun”. Semua karena Allah yang berkehendak, sehingga kita tidak perlu memikul rasa bersalah yang berlebihan. Saat kita mendapatkan sesuatu pun “Alhamdulillahirabbil’alamin”…yang memberi ini Allah, bukan kita yang menciptakannya. Sehingga kita terhindar dari rasa euforia yang menyebabkan kita over estimate terhadap esteem yang kita miliki.

Over estimate entah kenapa malah mempermudah kita merosot lagi ke bawah. Nggak percaya? Saat kita tidak bersyukur dan merasa kita mendapatkan sesuatu karena jerih payah kita dan bukan kasih sayang Allah SWT, kita akan cenderung mempertahankan yang kita ‘miliki’ (padahal ada tidak sih yang dimiliki manusia, semuanya kan milik Allah?). Rasulullah bersabda dalam hadistnya bahwa dalam kekayaan yang kita miliki terdapat hak milik anak yatim, orang miskin, dhuafa, dan ibnu sabil. Tapi jika kita tidak yakin dengan hadist tersebut (tidak beriman) maka kita punya potensi untuk menjadi congak. hal ini yang menyebabkan kita tidak mau bersedekah dan berzakat. apalagi yang memang sengaja korupsi. keseimbangan alam terganggu. para miskin akan mempertaruhkan keamanan dirinya demi bisa mendapatkan hak perutnya dan mengancam keamanan para orang kaya. jika revolusi sudah terjadi, maka si kaya akan kembali merosot ke bawah. berganti tempat dengan si miskin. Nauzubillah.

Jika Allah hendak memuliakan seseorang, maka tidak satu penduduk langit dan bumi pun yang mampu menghinakannya. Jika Allah hendak menghinakan seseorang, tidak satu penduduk langit dan bumi pun akan mampu mengangkat derajatnya.

Wallaahu a’lam bish-shawwab.
Mohon koreksinya.

One comment

  1. Bagus banget, buat mengingatkan kembali fitrah kita.

    Sangat tertarik dng ungkapan: “Sepertinya kamu mesti mengganti pintu rumahmu…” hahahaha…
    Mungkin itu sebabnya jaman sekarang sangat sulit menjaga keutuhan rumah tangga.

    Thanks,sis…kalo mau sharing ke orang2 ttg ini LINK nya apa ya?



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: