h1

CERPEN: EH..EH..KOQ GITU SICH…? LHO..KOQ..MARAH…? JANGAN GITU SAYANG..

November 9, 2010

Suatu pagi yang cerah….Semua nampak ceria. Burung-burung berkicau riang di pepohonan. Dan di rumah yang bercat hijau lumut itu pun nampak damai. Semua anggota keluarga rumah bercat hijau lumut itu nampak tengah sarapan pagi bersama.Tiba-tiba terdengar telepon berdering. Srikandi, sang pemilik rumah bergegas mengangkatnya. Gangang telepon ditempelkan ke dekat telinga kanannya. Lalu terdengar suara yang telah lama dikenalnya. Suara empuk milik salah seorang sahabatnya semasa SMA dulu, Shinta.

“Srikandi….aku…aku…udah 3 hari ini minggat dari rumah…!” terdengar suara Shinta yang tertahan gugup.

Hening sejenak…

“Aku..marah sekali dengan suamiku…!” lantun suara kian terdengar cepat, berlomba mengalir bersama desahan nafas yang tak teratur.

“Suamiku payah..ga pernah mengerti keinginan aku…!” Akhirnya jeritan gemas pun meluncur dasyat.

Srikandi masih membungkam dan membiarkan sahabatnya itu melepas terlebih dulu segala uneg-uneg di hatinya. Setelah mendengar nada suara sahabatnya mulai tenang..ganti Srikandi bertanya,

“Sekarang kamu ada di mana?”

“Aku menumpang di rumah Ibu, di jalan Damai.” jawab Shinta dengan suara melemah.

“Bisakah kamu ke sini…?” tanya Shinta penuh harap

Akhirnya ke dua sahabat itu saling berjanji untuk bertemu siang harinya di sebuah restoran yang berada di daerah Kemang.

Dalam hati Srikandi, kira-kira ada kejadian apakah yang mebuat hati sahabatnya meledak sedemikian hebatnya. Waktu pun berlalu..hingga akhirnya Srikandi telah sampai di resto yang di maksud.

Pintu resto di dorongnya perlahan, AC dingin langsung menerpa wajahnya. Dan seorang waiter menyambut dengan senyum hangat. Mata Srikandi yang bulat telur itu langsung berputar-putar mencari sosok yang dicarinya. Akhirnya, matanya tertuju pada sosok yang tengah duduk sendirian di pojok restoran itu. Sosok yang sangat dikenalnya. Langkahnya langsung mengayun, menghampiri. Senyum Srikandi disambut dengan pandangan kosong sahabatnya. Namun Srikandi tak marah, karena pastinya ada masalah berat memang tengah menggayuti pikiran Shinta, sehingga mungkin membuatnya sulit untuk tersenyum saat itu.

Setelah memesan makanan dan minuman, Shinta seperti sudah tak sabar lagi langsung mengeluarkan semua sesak yang telah memenuhi dadanya.

“Aku benci Rama…!” Terlihat wajah Shinta memerah, bibirnya terkatub keras dan kening berkerut-kerut.

“15 tahun sudah aku jadi istrinya masih aja ga ngerti-ngerti…!”

“Selama ini aku selalu perhatian pada Rama…!”

“Tapi coba..mana perhatian Rama padaku…?” Suara Shinta makin meninggi dan melengking.

“Biar saja aku minggat, biar tau rasa dia…!” lanjut Shinta masih membara.

“Permintaan simpel kayak gitu aja ga bisa dia tuch kasih perhatian dikiiiiiiiit aja…! ucap Shinta penuh gusar.

Srikandi jadi bingung sendiri, karena tidak mengerti sama sekali apa yang dibicarakan oleh sahabatnya ini. Yang sekarang bisa dilakukannya adalah menyeruput ice sweet tea pesanannya, untuk sedikit melegakan kerongkongannya yang kering. Dilihatnya Shinta sama sekali tidak tertarik dengan minumannya…terlihat masih utuh dan belum tersentuh sama sekali.

“Kenapa ya laki-laki itu bodoh..ga pintar-pintar untuk urusan gini ya…?” lanjut Shinta sambil menghela nafas.

Srikandi tambah melongo…Dalam hatinya Srikandi terus mencoba menebak-nebak kira-kira urusan apa yang dimaksud oleh sahabatnya ini. Karena setahu dirinya suami Shinta lulusan dari salah satu universitas yang terkenal di luar negeri yang pastinya kepintaran diri Rama telah teruji.

“Shin…sorry ya…tapi sebenarnya ada apa sich…?” Akhirnya Srikandi bertanya

Lalu Shinta mengeluarkan sesuatu benda dari dalam tasnya. Terlihat sebuah box kecil berwarna merah.Lalu Shinta menyodorkan benda tersebut dan meminta Srikandi membukanya.

Srikandi membukanya, dan di dalam box kecil merah itu terdapat sebuah cincin lapis emas putih bertabur berlian dan sebuah mutiara berwarna wine yang bulat besar berada di centre. Sungguh benda yang sangat mewah dan glamour. Di cincin itu pun masih terdapat tag harga cincin tersebut…Dan dilihatnya harga yang tertera di tag tersebut…Terperanjatlah Srikandi

“Wow…harganya luar biasa mahal menurut ukuran kantongku…!” ucap Srikandi dalam hati.

Tetapi kenapa sahabatku malah menjadi emosi begini ya?

“Itu hadiah dari suamiku…, Norak..kampungan…, aku ga suka..!” Mimik wajah Shinta kembali mengeras.

“Aku tuch pengennya seperti ini…!” Lalu dikeluarkannya sebuah potongan gambar dari sebuah majalah wanita terkenal. Diulurkannya potongan majalah tersebut pada Srikandi. Sejenak Srikandi menatap gambar sebuah cincin yang diinginkan oleh sahabatnya. Sebuah cincin yang menurut Srikandi hampir sejenis dengan model yang sedikit saja berbeda dengan cincin pemberian Rama pada Shinta.

“Aku sudah tawarkan pada teman-temanku yang lain…tapi pada ga mau…!” lanjut Shinta sambil melirik tajam pada cincin yang berada di dalam box kecil merah yang berada di tangan Srikandi.

“Mereka bilang, ga suka sama warna mutiaranya, ga macthing dengan bingkai cincin itu…..Uggh benar-benar menyebalkan…!”

“Kamu mau beli ga..?” pertanyaaan itu meluncur tiba-tiba dari bibir Shinta.

“Cukup bayar 70%nya aja…!”

Srikandi terpana melihat sahabat semasa SMA nya ini. Disodorkannya kembali box merah itu kepada Shinta, dan berkata…:

“Shinta…kamu kan tau sekarang ini aku belum ada kesanggupan membeli cincin semahal ini…”

“Menurutku cincin ini bagus koq…pasti cantik dan cocok sekali bila melingkar di jemarimu dear..” ucap Srikandi lembut.

“Tapi ini bukan seleraku….! potong Shinta

“Dulu…ketika kami ke Vietnam…di sana tuch harga jewelry seperti ini harganya murah…Ada yang aku suka banget, tapi ga dibeliin..!” Sekarang ngasihnya yang kayak gini…! Mahal lagi…! Kan Rama tau cincin yang aku inginnnnn…kan…!!!” gerutu Shanti berkepanjangan.

Srikandi hanya bisa tersenyum simpul melihat kelakuan sahabatnya ini. Entah mengapa dalam hatinya Srikandi diam-diam berdoa untuk sahabat yang sangat dikasihinya ini. Memohon pada YME agar sahabatnya segera disadarkan dari segala khilafnya.

“Sahabatku…mungkin suami-suami kita memang tak pandai memilih hadiah, tetapi dibalik hadiah itu ada makna yang lebih dalam bukan…?” Srikandi berusaha untuk memulai pembicaraan yang dapat meredakan emosi sahabatnya itu.

“Ah….memang kamu pernah ngalami seperti yang sekarang aku alami?”

“Jengkel tau…!” Lho…Shinta malah terlihat semakin sewot.

“Shinta sayang…coba kamu lihat cincin yang melingkar di jari manisku ini…!” sekarang gantian Srikandi yang mengulurkan tangannya ke Shinta.

Sekarang gantian wajah Shinta lah yang terlihat bingung…Yang dilihatnya hanya sebuah cincin dengan model yang amat sederhana dan ada hanya ada sepotong berlian kecil banget buat ukuran dirinya…

“Ya…inilah perhiasan pilihan Arjuna, my hubby…!” lanjut Shinta perlahan

“Cincin ini dibelinya 10 tahun yang lalu dan satu-satunya perhiasan yang pernah Beliau berikan padaku sepanjang 15 tahun pernikahan kami”

“Kala itu rasanya campur aduk antara terharu karena mengetahui bahwa suamiku bersusah-payah mengumpulkan uang sebesar 10 jutaan hanya untuk membelikan sebuah benda ini, ketika Arjuna mendapat kesempatan pergi ke Belanda…” berhenti sejenak…

“Beliau mengatakan bahwa hanya ingin membelikan sesuatu untukku yang bisa melambangkan cinta kasih kami, yang kala menikah dulu belum bisa membelikannya..”

“tapi sedih juga rasanya…duh..uang sebanyak itu koq…cuma untuk beli barang seperti ini…!”

“karena uang itu masih sangat kami butuhkan untuk keperluan anak-anak dibandingkan untuk membeli sebuah perhiasan..” lanjut Srikandi lirih…Tanpa terasa mata Srikandi pun berkaca-kaca dan membuat mata Shinta pun turut berkaca-kaca.

Kedua sahabat itu terdiam cukup lama….Menatap makanan yang telah tersaji sedari tadi yang kini telah menjadi dingin.

“Maaf Shinta, bukannya aku tak ingin membelamu…tetapi…menurutku terima sajalah barang apa pun yang diberikan, walau mungkin kurang berkenan di hati, karena menurutku yang penting dibalik itu semua bahwa kita seharusnya bisa bersyukur telah dianugrahkan seorang suami yang sampai sekarang masih memberikan perhatian dan masih berusaha mengungkapkan rasa cinta dan kasih sayangnya pada diri kita…” Ucap Srikandi dengan halus-halusnya.

Lalu Srikandi meraih tangan sahabatnya dan menatap dalam-dalam mata sahabatnya…Berharap sahabatnya tidak salah mengerti atas segala ucapan yang baru saja mengalir dari bibirnya.

Shinta pun membalas tatapan sahabatnya…dan..tak lama senyum tersungging di bibirnya. Matanya berpindah menatap box kecil berwarna merah yang menjadi biang keladi keributan antara dirinya dan Rama….Wajahnya terlihat sesal yang amat sangat.

“Terimakasih sahabatku…!” Lalu mereka tertawa lepasss…..

Tiba-tiba Shinta bertanya , “Menurutmu, kira-kira benda apa ya…yang laki-laki tuch paling pinter kalo di suruh beli…?”

“Haaaaa…, apa ya…????” kembali Srikandi mesem-mesem dalam hati menghadapi pertanyaan jahil ini

Setelah berpikir keras, Srikandi teringat akan seorang pengalaman seorang temannya yang lain, yang begitu bahagia dan menyatakan bahwa laki-laki ga bakal gagal membeli benda yang satu ini sebagai hadiah buat istri tercinta….

“Oh…really…?” Shinta menatap dengan pandangan berbinar takjub ketika dibisikan benda yang dimaksud ke telinganya.

“I’ll try it…”….Sambil melanjutkan acara makan siang mereka dengan enjoy dan bahagia…The-End

Memang ketika kita hendak menikah…bukankah nasihat pernikahan selalu didengungkan…adalah memiliki sebuah rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warohmah…? hehehehe…Amin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: