h1

SIKAP MERENDAH DALAM MASYARAKAT JEPANG

November 16, 2010

Tulisan kali ini benar-benar hanya berdasarkan penggalan-penggalan pengalaman kongkrit yang pernah saya jumpai dalam perjalanan2 ke Jepang selama ini. Tidak ada maksud dan niat untuk membanding-bandingkan apalagi memojokkan seseorang dan lain sebagainya….Hanya sebatas sharing aja lho….

Alhamdulillah saya diberikan kesempatan oleh YME untuk dapat bertemu muka dengan beberapa orang tokoh masyarakat Jepang. Dan berkat Allah juga tokoh masyarakat Jepang yang pernah ditemui adalah tokoh-tokoh dengan karakter ibarat padi, makin berisi maka makin merunduk.

Pernah saya kecele, karena orang yang saya pikir bawahan..eh..ternyata…orang itu lah yang si pemegang keputusan. Untung Alhamdulillah…Allah masih melindungi saya..sehingga kesalahan tersebut tidak diketahui oleh oleh tokoh tersebut…hehehe…Kalau engga..duch rasanya ga bakal saya berani jumpa dengan Beliau lagi…

Contoh:

Ada seorang tokoh yang sebenarnya telah bertitel Prof, tetapi selalu Beliau selalu memperkenalkan titelnya hanya sebagai Phd (Doktor) saja. Beliau pun selalu akan merendah bila ditanyakan posisi jabatannya dalam bekerja. Padahal posisinya jauh lebih tinggi.

Tokoh berikutnya adalah salah satu Kepala Divisi di pemerintahan sebuah kota di Jepang. Orangnya sangat sederhana. Tokoh ini malah tidak pernah mau menuliskan dan memberitahukan titelnya sama sekali. Ketika pertama jumpa dengan Beliau, karena saya tidak bisa baca kanji (tulisan ribet Jepang) Beliau menuliskan namanya dan posisinya dalam huruf Romaji (alphabet ABC). Dalam tulisan itu tokoh ini menyebut posisinya hanya sebagai wakil dari suatu divisi kota tersebut. Ternyata yang sesungguhnya Beliau adalah Ketuanya dan orang penting.

Dan ada juga pemilik sebuah hotel. Ketika Ayahandanya yang masih menjadi PresDir, Ayahandanya selalu mengatakan bahwa anaknya hanya suka main dan membeli mobil mewah dan mahal. Tetapi ternyata itu hanya ungkapan merendah saja. Karena kini hotel tersebut makin besar dan tetap berkesinambungan setelah posisi PresDir diserahkan pada anaknya tersebut.

Walau diakui telah banyak terjadi pergeseran-pergeseran nilai di generasi muda Jepang sekarang ini. Namun di sisi lain ternyata nilai-nilai tradisional masih amat merekat erat di berbagai nilai kehidupan generasi muda dan tidak hilang.

Contoh: Jepang terkenal dengan kepatuhannya pada tiap peraturan yang ada, namun di sisi lain bisa terlihat berbagai kontradiksi-kontradiksi. Misalnya, dalam kesehariannya banyak masyarakat Jepang yang selalu terburu-buru dalam melakukan rutinitasnya yang luar biasa sibuk. Tetapi bila sudah week-end…maka dengan santai dan riangnya mereka menghabiskan waktu begitu saja.

Atau apabila di hari week end di Harajuku, di mana di Harajuku inilah salah satu kiblat fashion generasi muda Jepang, maka bisa disaksikan anak-anak muda Jepang berdandan habis-habisan, bermain musik dan bersenang-senang saja, sepertinya nilai-nilai lama seperti semangat BUSHIDO (sifat-sifat yang baik seperti berkompetisi (bertarung), berjuang, bekerja keras, jujur dan lain-lain terus menerus diasah dengan kedisiplinan yang sangat tinggi shg di harapkan mendekati kesempurnaan) atau budaya SEPPUKU (memiliki perasaan MALU yang amat sangat bila tidak bisa memenuhi harapan yang diharapkan dari dirinya) terasa telah lenyap. Namun ternyata itu tidak semuanya benar, karena penghayatan dan penghidupan mereka terhadap nilai-nilai tradisional masih amat terasa. Contohnya: ketika kita mencoba bertanya pada gerombolan anak-anak muda yang berpenampilan serem abis atau “cool” abis itu tentang sebuah departemen store yang berada di sekitar daerah itu, maka kaum muda Jepang yang sedang berdandan abis-abisan tersebut tetap akan mencari kata-kata yang sesopan mungkin, hanya karena dilihatnya usia kita lebih tua daripada mereka. Malah kalau kita terlihat masih bingung, maka tidak segan-segan mereka mengantarkan kita ke sana…Aneh..tp..nyata…hehehe…

Dan tradisi merendah ini juga adalah salah satu kontradiksi yang masih sering kita bisa jumpai di Jepang. Di mana masyarakat Jepang yang telah hidup dalam kemodernan tersebut masih segan menonjolkan dirinya sendiri. Etika dan dinamika kehidupan bermasyarakat masih dijunjung bersama-sama.

Mohon maaf bila banyak kekurangan dalam penulisan ini. Tulisan ini lebih banyak untuk mengingatkan diri sendiri aja koq…arigatou…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: