h1

SDKT SHARE HANGAT DARI FESBYUUUKK SAYA….

December 7, 2010

Status saya hari itu adalah:

Maaf..ada yg bs bantu jawab ga..? Gini..td di radio dengar bahwa besok adalah 1 Suro..trus..ga ada penjelasan lebih lanjut..Tapi kesannya kenapa seperti hari yang kurang oke ya? KENAPA? Bukankah esok adalah Tahun Baru Islam? Kan hari yang baik…Jadi bingung…??? Maaf, saya ga bermaksud apa2 selain karena ga ngerti aja…Sy tunggu.. tks ya…

Berbagai respon pun akhirnya bermunculan. Sayangnya banyak yang sebenarnya sudah tidak terlalu tau jawaban yang menjadi inti dari pertanyaan saya. Bahkan di sebuah station TV menyiarkan acara perayaan 1 SURO yang banyak dilakukan oleh masyarakat Jawa Tengah tetapi dikait-kaitkan dengan suasana mistis….Bahkan ujung-ujungnya bahkan lebih banyak membahas unsur-unsur mistis tadi.

Lalu ada sebuah jawaban yang buat saya jadi sangat terkesima dan takjub luar biasa. Sehingga ingin saya share-nya. Seperti kata-kata mutiara yang saya tulis di FB saya adalah……YOU MAY SAY..I AM A DREAMER…, karena saya tak pernah berhenti berharap, berdoa dan memohon pada YME agar bangsa besar ini dapat segera kembali ke jati dirinya kembali, yaitu…berbudi luhur, berbahasa halus dan berperilaku santun..Amin…Ya…mungkin saya memang seorang PEMIMPI BERAT…hehehe…

Nah…karena menurut saya jawaban teman saya ini relevan banget dengan koridor kata-kata mutiara yang merupakan angan-angan tulus dari lubuk hati dari seorang pemimpi seperti saya ini, maka atas izin Beliau saya men-sharenya dan menuliskan dalam blog saya…Harapannya tidak lain agar kita semua, terutama sekali generasi2 penerus calon-calon pemimpin negara kita tercinta ini memiliki
pemahamannya lebih tepat tentang pengertian 1 SURO itu sendiri.

Pasti..InsyaAllah…setelah membacanya…kita baru menyadari dan takjub bahwa ternyata kita memiliki nilai-nilai sakral dan luhur yang amat dasyat dan bagus banget, bila bisa terus dikumandangkan, diteruskan dan dilaksanakan oleh generasi-generasi berikutnya, yang mungkin telah terlena oleh banyaknya arus budaya dari luar yang mengalir deras, sehingga kurang menyadari apa yang kita miliki dan merupakan warisan budaya yang tak ternilai….

Yuuukkk…kita mulai simak jawaban arif dari teman saya berikut ini…

Orang Jawa yang mengerti 1 Suro adalah awal penanggalan Jawa yang kebetulan bersamaan dengan 1 Asyura pada penanggalan Islam. Menurut orang Jawa (yang mengerti) biasanya menjadi kebiasaan bahwa kita bertafakur untuk mohon keridhaan Allah SWT untuk memberikan kita kebaikan ditahun yang akan datang serta menutup tahun sebelumnya dengan segala permasalahannya. Bagi kami masyarakat Jawa pada hari baik ini kita sepenuhnya berserah diri kepada Yang Maha Kuasa serta benar2 berdoa untuk keselamatan kita dan keluarga ditahun mendatang serta mohon untuk dijauhkan dari segala hal yang tidak baik. Karenanya ditabukan untuk melakukan hal lain selain ibadah dibulan ini. Biasanya orang Jawa dulu tidak ada yang keluar rumah ataupun melakukan kegiatan pesta pora dihari itu. Bukan karena sesuatu yang mistis, dan seram, tetapi semata2 karena hari itu adalah hari yang istimewa untuk ber tafakur, tirakat dan membaktikan diri kepada Yang Kuasa. Bagi masyarakat Jawa hari dihari ini yang ada hanya dia dan Yang Kuasa, karena itulah ditabukan untuk berbicara hal yang tidak perlu, apalagi melakukan hal yang tidak baik, karena kami yakin pada saat jiwa sedang merunduk dihadapan Allah SWT, siapa yang berani berkata dan berbuat sembrono.

Jika ada yang menafsirkannya dengan hal yang lain, apalagi horor, pasti itu karena mereka tidak mengerti.
Ini hari yang baik untuk dekat denganNya, malahan masyarakat Jawa memandang seluruh bulan Suro istimewa khusus untuk ber- tafakur dan mohon kebaikan untuk tahun mendatang. Bahwa kemudian dianggap mistis, ya mungkin karena bagi masyarakat Jawa, berinteraksi dengan penciptaNya dilakukan dengan sangat serius, dengan segenap jiwa raga, dan tawaddhu, dihari ini , dan dalam bulan ini, sehingga seakan tidak mementingkan duniawi. Dengan sendirinya suasana seperti itu menjadikan lingkungannya terbawa menjadi sakral (dan mistis bagi yang lain).

Memang ada orang yang sekarang cuma melihat kulitnya saja. Ga salah sih, soalnya memang kebayakkan orang ga ngerti, dan juga karena keadaan jaman udah ga ada perhatian juga sama budaya sendiri.

Sebenarnya kirab keraton juga esensinya… adalah ungkapan syukur atas rejeki yang telah dilimpahkan sekaligus bertafakur kepada Yang Maha Kuasa. Kalau dalam budaya Jawa di bilangnya “waktu untuk menemukan jati diri agar selalu eling dan waspada” cara nya macam2 , antara lai salah satu cara saja seperti dengan memelihara barang peninggalan nenek moyang Misalnya dengan membersihkan pusaka dan membawa keliling keraton. Biasanya pelaku kirab juga berjalan sambil tidak berbicara (laku bisu) menggambarkan pengendalian hawa nafsu. Pihak keraton sebagai pemimpin memberikan contoh kepada rakyatnya sekaligus mengingatkan akan kebesaran Allah SWT.

Kerbau juga dibawa menggambarkan bagaimana manusia di dunia ini hanya menjalani perannya sebagai insan yang tidak berdaya dihadapan Yang Maha Kuasa. Tidak ada mistik dalam arti horor atau semacamnya. Hanya penggambaran kehidupan yang seluruhnya adalah milik Allah SWT semata. Nuansa mistik itu timbul karena keseriusan pelakunya. Tradisi ini sudah dilakukan sejak awal abad ini.. ini ada kutipan sedikit mengenai ini, mungkin bisa membantu >>…Bulan Suro sebagai awal tahun Jawa, bagi masyarakatnya juga disebut bulan yang sakral karena dianggap bulan yang suci, bulan untuk melakukan perenungan, bertafakur, berintrospeksi, serta mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Cara yang dilakukan biasanya disebut dengan laku, yaitu mengendalikan hawa nafsu dengan hati yang ikhlas untuk mencapai kebahagiaan dunia akhirat. Itulah esensi dari kegiatan budaya yang dilakukan masyarakat Jawa pada bulan Suro. Tentunya makna ini juga didapatkan ketika bulan Pasa (Ramadhan, Tahun Hijriyah), khususnya yang memeluk agama Islam. Laku yang dilaksanakan oleh masyarakat Jawa sebagai media introspeksi biasanya banyak caranya. Ada yang melakukan laku dengan cara nenepi (meditasi untuk merenung diri) di tempat-tempat sakral seperti di puncak gunung; tepi laut; makam; gua; pohon tua; dan sebagainya, dan ada juga yang melakukan dengan cara lek-lekan (berjaga hingga pagi hari) di tempat-tempat umum seperti di tugu Yogya; Pantai Parangkusumo; dan sebagainya. Sebagian masyarakat Jawa lainnya juga melakukan cara sendiri yaitu mengelilingi beteng kraton sambil membisu.

Begitu pula untuk menghormati bulan yang sakral ini, sebagian masyarakat Jawa melakukan tradisi syukuran kepada Tuhan pemberi rejeki, yaitu dengan cara melakukan labuhan dan sedekahan di pantai, labuhan di puncak gunung, merti dusun atau suran, atau lainnya. Karena bulan Suro juga dianggap sebagai bulan yang baik untuk mensucikan diri, maka sebagian masyarakat lain melakukan kegiatan pembersihan barang-barang berharga, seperti jamasan keris pusaka, jamasan kereta, pengurasan enceh di makam Imogiri, dan sebagainya. Ada juga yang melakukan kegiatan sebagai rasa syukur atas keberhasilan di masa lalu dengan cara pentas wayang kulit, ketoprak, nini thowong, dan kesenian tradisional lainnya. Apapun yang dilakukan boleh saja terjadi asal esensinya adalah perenungan diri sendiri (introspeksi) sebagai hamba Tuhan. Namun akibat perkembangan zaman serta semakin heterogennya masyarakat suatu komunitas dan juga karena dampak dari berbagai kepentingan yang sangat kompleks, lambat laun banyak masyarakat terutama yang awam terhadap budaya tradisional tidak lagi mengetahui dengan jelas di balik makna asal tradisi budaya bulan Suro. Mereka umumnya hanya ikut-ikutan, seperti beramai-ramai menuju pantai, mendaki gunung, bercanda ria sambil mengelilingi beteng, berbuat kurang sopan di tempat-tempat keramat dan sebagainya. Maka tidak heran jika mereka menganggap bahwa bulan Suro tidak ada bedanya dengan bulan-bulan lainnya. (Seloka – Komunitas Seni Tradisi Indonesia, “SATU SURO TAHUN BARU JAWA”). Maaf kalau kepanjangan, tetapi saya merasa perlu menjelaskan supaya ga melantur kejauhan.

Nah…gimana…? Luaaar biasaaa bukan…??? Bersyukur banget kan, karena kita masih memiliki nilai budaya bangsa yg benar-benar tidak ternilai…PATUT KITA PERTAHANKAN DAN KITA BANGGA KAN BUKAN…?

Marilah kita sama-sama kembali mengenal budaya-budaya luhur yang saya yakin masih banyak banget tersebar di negara kita tercinta ini….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: