h1

CERPEN: KRISTAL ITU TAK LAGI BENING

March 18, 2011

Setelah jauh berjalan, tiba-tiba kayuhan sepeda Arjuna terhenti sejenak. Matanya menatap kagum akan keindahan pemandangan yang terpampang di hadapannya. Sepetak sawah tak luas yang makin sulit dijumpai di kota yang selalu sibuk ini. Sepetak sawah yang dipenuhi bulir-bulir padi yang merunduk dan menguning. Langit biru Minggu pagi cerah itu, menambah indahnya keceriaan alam. Hatinya yang menjadi gembira dapat melepas sedikit penat dari kesibukan hari-hari pun langsung memanjatkan puji dan syukur atas karunia yang masih diberikan oleh Sang Maha Pencipta.

Tak lama Arjuna kembali mengayuh sepedanya. Kembali terdengar deru suara ribut dari kendaraan lalu lalang di jalan utama. Matanya kini berjuang melawan asap dan debu. .Beberapa kali kayuhan sepeda harus berjalan perlahan bahkan berhenti, karena berbagai hambatan yang tak seharusnya ada bila semua pemakai jalan negeri ini bisa disiplin.

Satu jam kemudian, Arjuna pun telah tiba kembali di sebuah rumah bercat putih. Rumah yang telah didiaminya selama 15 tahun bersama istrinya yang cantik dan baik dan 2 orang anaknya yang pandai, yang telah berusia 10 dan 14 tahun. Sungguh suatu gambaran rumah tangga idaman banyak pasangan. Sehingga tak jarang ketika berjalan-jalan bersama-sama, banyak mata yang menatap mereka dengan penuh rasa kagum bahkan ada juga yang sampai merasa iri.

Terdengar langkah perlahan Srikandi. Wanita yang telah menjadi bagian hidupnya. Penampilannya tetap prima walau telah memberikannya 2 orang anak. Tutur katanya pun halus dan selalu lembut bersuara. Dan juga sangat taat beribadah. Makin lengkaplah kesempurnaannya sebagai wanita ideal, impian banyak kaum Adam.

“Bagaimana nge-gowesnya hari ini sayang..?” ucap lembut Srikandi sambil menyodorkan segelas limun dingin.

“Alhamdulillah…lancar ma…!” balas Arjuna.

“Bagaimana kalau sekali-kali Mama ikut ya..?” pinta Arjuna.

“Ah…Papa bisa aja…tapi kalau boleh Mama pilih di rumah aja lah Pap…!”

“Papa kan tau bahwa Mama kurang pas dengan kegiatan sepedaan seperti itu ah…!” lanjut Srikandi, sambil menghapuskan tetesan keringat yang masih mengalir di wajah Arjuna.

“Papa ajah dengan teman-temannya ya…!” Srikandi pun berlalu sambil tersenyum manis

Namun tanpa sepengetahuan Srikandi, ada sebuah rahasia besar yang kini bermain-main dalam benak kepala Arjuna. Sejak bertemu dengan Shinta, hati Arjuna merasakan ada sesuatu yang berbeda yang terjadi pada dirinya. Bukan maksud hati hendak membandingkan antara Srikandi dan Shinta tapi pergulatan itu makin hari semakin kuat mencengkram pikirannya.

Pertemuan yang tidak disengaja setahun lalu dengan Shinta, teman semasa SMAnya saat reunian digelari. Pertemuan demi pertemuan berlanjut dengan berbagai acara nge-gowes bersama setelah acara reunian itu. Perlahan tapi pasti Arjuna merasakan ada sesuatu rasa yang tidak biasa saat dirinya bersama Shinta. Shinta yang kini telah hidup sendiri lagi. Pernikahannya bersama Rama kandas 3 tahun yang lalu. Namun Shinta tetap tegar. Menjadi orang tua tunggal dari seorang anak laki-laki berusia 8 tahun.

Kemandirian dan rasa percaya diri Shinta telah menimbulkan rasa kagum di hati Arjuna. Pribadi yang hangat dan kuat serta sikap spontan apa adanya membuatnya selalu nyaman bersamanya. Rasa humor dan keayuannya makin membuatnya terbuai oleh perasaan suka yang menggila.

Perasaan itu telah setahun berhasil disembunyikan dari Srikandi. Sebagai orang yang telah dewasa, maka Arjuna pun sadar bahwa harus menekan perasaan yang kian tumbuh subur di lubuk hati yang terdalam. Rasa tanggung jawab pada keluarga yang sangat disayanginya membuatnya untuk berusaha menjaga tingkah lakunya dan logikanya…

“Heiii…Arjuna….!!!”

“Ingatlah….terlalu banyak yang akan dikorbankan…!!!”

“Kamu akan melukai perasaan Srikandi…!!!”

“Mengecewakan anak-anak-mu….!!!”

“Masyarakat akan menuding kamu sebagai laki-laki yang tidak bersyukur, lemah iman, bodoh dan tidak dewasa…!!!”

Arjuna tak inginkan itu semua….!!! Maka dibenamkan dirinya dalam-dalam pada semua pekerjaannya. Dibuatnya dirinya sibuk bekerja tiada henti…! Sehingga banyak keberhasilan telah diraihnya. Arjuna berharap bahwa dengan semua itu, maka akan bisa menghapus bayang-bayang Shinta yang terus terbayang di pelupuk matanya.

Telepon di hp-nya berdering…Nampak di layar monitor hp-nya sebuah nama yang amat ingin ditemuinya. SHINTA…! Entah mengapa debar jantung langsung terdengar gaduh di telinganya. Seluruh aliran darah seakan meledak ke segala penjuru syaraf-syaraf tubuh. Namun Arjuna berhasil menenangkan dirinya, sehingga suaranya terdengar biasa saja dan tetap berwibawa.

Ternyata Shinta sedang membuat mendata siapa saja yang berminat ikut dalam acara nge-gowes bareng ke luar kota selama dua hari. Arjuna serasa kembali remaja, tanpa berpikir panjang langsung mendaftarkan diri.

“Mas…boleh ajak keluarga lho…!” ujar Shinta

“Kamu tau kan istri-ku itu orang rumahan…!”

“Jadi ga akan mau ikut acara outing macam ginian…!” Arjuna membeberkannya tanpa sungkan.

“Oh..gitu ya???”

“Oke dech…kalau gitu sampai ketemu..!” ucap ceria Shinta

Hati Arjuna mekar sudah…! Pucuk di cinta ulam tiba…Bagaikan remaja tengah jatuh cinta, tak sabar untuk bisa berjumpa dengan pujaan hati.

Sementara Srikandi di rumah masih belum menyadari apa yang tengah berkecamuk dalam diri Arjuna. Baginya rumah tangganya baik-baik saja dan tetap berdiri kokoh. Bukankah dirinya telah berbuat sesuatu yang terbaik untuk suami, anak-anaknya dan rumah tangganya? Tidak pernah sekali pun dirinya menodai arti kesuciannya. Tidak sekali pun tercatat ada cela dalam tindakan atau ucapannya yang tercemar. Rumah tangganya bening bagaikan sebuah bola kristal yang indah.

Maka ketika Arjuna mengatakan bahwa akan pergi nge-gowes bersama teman-temannya, Srikandi pun dengan penuh percaya diri melepas kepergian sang suami.

“Ah, biarlah Arjuna bersenang-senang bersama teman-teman lamanya..!”

“Bukan kah laki-laki memang harus kita beri kebebasan?”

“Sebagai istri yang baik, tentunya harus bisa memahami dan mempercayai nya?”

“Wanita tidak boleh egois…!”

“Karena kalau sudah berada di luar dari rumah ini, Arjuna pun menjadi milik orang-orang tempatnya bekerja, saudara-saudaranya dan teman-temannya..!” itulah keyakinan dari seorang Srikandi.

Nampak banyak teman-teman telah berkumpul di meeting point yang telah ditentukan. Mata Arjuna mencari seorang sosok yang amat ingin ditemuinya. Akhirnya sosok itu pun terlihat.

“Ah…Shinta kamu memang cantik dan selalu ceria…!” desah hati Arjuna.

Shinta pun nampak melambai-lambaikan tangannya, memberikan kode agar Arjuna mendekatinya. Senyuman indah tersungging menyambutnya. Membuat seluruh tubuh Arjuna lemas yang hampirnya Arjuna tak kuasa menahan semua rasa yang terpendam selama ini di hadapan teman-teman yang lainnya.

Perjalanan nge-gowes bareng ini makin mendekatkan hubungan Arjuna dan Shinta dan makin sulit untuk menutupi perasaan satu dan lainnya.

“Arjuna…rasanya hubungan kita tak akan berujung kemana-mana…!” Shinta memulai pembicaraan di suatu sore, tempat di mana seluruh team akan beristirahat.

Heninggg…..

Arjuna pun mengakuinya bahwa hubungan mereka ini amat sulit untuk bisa dilanjutkan. Tapi entahlah, rasanya ingin selalu berdekatan dengannya.

“Shinta, tolong beri sedikit waktu…!” pinta Arjuna.

Shinta menghela nafasnya dalam-dalam, “Maksud mu biarkan hubungan ini mengalir apa adanya kah..?”

Akhirnya mereka pun sepakat bahwa hubungan mereka hanyalah sebuah hubungan teman tapi mesra. Perasaan Arjuna dan Shinta makin sulit ditutup-tutupi. Reaksi teman-teman pun beragam. Ada yang cuek, ada yang mensupport, ada yang berusaha untuk mengingatkan bahkan tak kurang ada yang mencemooh…

Hubungan terus berlanjut, walau hanya sebatas hubungan telepon, hubungan jejaringan sosial dan acara kumpul-kumpul bareng. Dalam acara kumpul bareng Arjuna sudah senang dan bisa melepas semua penat dari kesibukkan rutinitas sehari-hari, walau hanya duduk di sebelah Shinta. Mendengar cerita-cerita cerianya. Menikmati candanya. Dan mengagumi keindahannya.

Tanpa di sadari oleh Arjuna, ada sepasang mata yang kini tengah menatapnya tajam di sebuah sudut meja cafe itu. Mata milik Bimo, kakak tertua Arjuna.

Betapa terperanjatnya Arjuna, ketika sadar bahwa sang Kakak telah berdiri dihadapannya. Dengan suara gugup Arjuna memperkenalkan teman-temannya termasuk Shinta pada Bimo. Tepukan halus dipundaknya dari seorang Bimo yang merupakan seorang kakak yang amat religius dan berkarakter kuat serta selalu jadi pengayom keluarga besar selama ini, terasa bagaikan teguran halus yang maha dasyat.

Setelah pertemuan di cafe itu, pikiran dan hati Arjuna menjadi gelisah. Di rumah, di kantor dan di setiap waktu. Membuat Arjuna sering merenung atas segala perbuatan dan tingkah lakunya selama ini.

Kala di rumah, di tatapnya wajah Srikandi dan wajah dua buah hatinya. Wajah-wajah yang benar-benar yang tidak ingin disakitinya. Wajah-wajah yang amat disayanginya. Namun, di sisi hati yang lain, sulit untuk tidak mengakui bahwa

telah hadir seseorang yang mengisinya.

Logikanya kembali menjerit,

“Heiii…Arjuna….!!!”

“Ingatlah….terlalu banyak yang akan dikorbankan…!!!”

“Kamu akan melukai perasaan Srikandi…!!!”

“Mengecewakan anak-anak-mu….!!!”

“Masyarakat akan menuding kamu sebagai laki-laki yang tidak bersyukur, lemah iman, bodoh dan tidak dewasa…!!!”

Dengan berat hati, Arjuna mulai menghindari segala pertemuan kumpul-kumpul atau menerima telepon dari Shinta. Walau itu pun akan melukai orang yang juga terlanjur disayanginya…

“Namun sekarang tidak ada jalan lain. Biarlah waktu yang akan menjawabnya…”

Arjuna pun merasakan sedih yang menyesakkan jiwa.

“Shinta, maafkan, ternyata jalan kita berbeda dan tidak mungkin kita bersatu, semoga kelak masih ada persimpangan yang akan mempertemukan kita lagi…!”

Kehidupan rumah tangga Arjuna dan Srikandi pun berlanjut dan berjalan seakan rumah tangga yang tetap utuh dan kokoh namun sebenarnya “KRISTAL ITU TAK LAGI BENING….”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: