h1

SENI MEMBUNGKUS BARANG DI JEPANG

March 22, 2011
SALAH SATU CONTOHNYA…. 

Bila berkesempatan berbelanja di Jepang, mungkin kita sempat memperhatikan betapa para pramuniaga di Jepang akan serta merta membungkus barang belanjaan kita dengan rapi dan telaten. Setelah selesai melipat, kadang masih ditambah dengan hiasan pita sebagai pemanis. Dan itu semua dilakukan tanpa perlu kita mengeluarkan biaya ekstra lagi. Kegiatan itu luar biasanya dilakukan sebagai bagian dari service yang diberikan oleh pihak departemen store tersebut.

Ternyata membungkus barang sudah merupakan budaya di Jepang. Semua dilakukan dengan penuh ketelitian, detail & memenuhi nilai-nilai keindahan yang luar biasa, sehingga sudah bisa di sebut sebagai seni.

Sampai ada seorang perancang-perancang seni membungkus yang terkenal. Salah satunya (info dari internet) adalah Oka Hideyaki. Yang terkenal dengan seni membungkus kado yang terbuat dari bahan-bahan alami seperti dari jerami dan bambu.

Dalam sejarahnya budaya membungkus barang ini tercatat di mulai di periode Edo (1603-1867). Di masa di mana kain banyak digunakan untuk membawa dan membungkus beragam barang. Membungkus barang dengan kain segi-empat ini dikenal sebagai seni FUROSHIKI.

Baru kemudian berkembang cara membungkus barang dengan kertas dan kantong plastik.

Ada anggapan yang masih beredar di dalam masyarakat Jepang, bahwa bila ada barang yang dibungkus dengan furoshiki maka barang yang berada di dalamnya adalah lebih berharga dibanding dengan barang yang dibungkus dengan bahan pembungkus lain. Walau sebenarnya barangnya sama.

Di tengah ke macam-macam kesibukan orang Jepang dengan segala aktifitasnya dan juga di tengah kemodernanannya, seni membungkus barang ini terus bisa hidup.

Karena saking bagus kemasan, kadang-kadang membuat banyak penerima oleh-oleh malas membuka kado yang diberikan walau pun itu isinya hanya sekedar kue-kue kering semata.

Mungkin foto-foto berikutnya bisa mewakilinya. Di mana kemasannya dibuat sedemikian sempurna. Sebuah kantong yang hanya berisi 5 potong kue kering yang terbuat dari ocha (green tea).

Untuk menjamin rasa dari kue kering ocha ini, maka kue ini masih dibungkus lagi dengan plastik kedap udara

Nah…gimana ga bikin orang malas membukanya dan jadi enjoy dengan hanya melihat-lihat saja. Persis seperti kalo kita mengamati benda seni bukan?

Lalu kepikiran lagi, bisa kebayang ga kalau negara Jepang ga punya suatu tehnologi industri yang mengolah sampah-sampah rumah tangga ini…? Wuihhhh…pastinya sampahnya bakal numpuk ke seluruh bagian negara Jepang ya….???

Untungnya hal tersebut, sejauh ini dapat ditangani secara baik oleh pemerintah Jepang.

Demikian sharenya hari ini, semoga bisa menjadi bacaan ringan di sore hari ini…

KETIKA CLIPNYA DI BUKA...

Clip yang kelihatannya sangat sederhana ini, ternyata penggunaannya sangat njelimet. Karena kantong kue yang telah terbuka, akan sangat mudah ditutup dengan rapat lagi.

Sambil menikmati kue, kita masih di suguhkan dengan berbagai informasi tentang sejarah dari para pencipta kue tersebut, tulisan tentang ocha yang baik dan tentang sejarah pabrik yang membuat kue ini...Clip yang kelihatannya sangat sederhana ini, ternyata penggunaannya sangat njelimet. Karena kantong kue yang telah terbuka, akan sangat mudah ditutup dengan rapat lagi.

Untuk menjaga rasa dari kue kering Ocha Green Tea ini masih dibungkus lagi dengan kantong plastik kedap udara

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: