h1

CERPEN: DENTING SUMBANG PIANO ANAKKU

August 12, 2011

Vina kembali terlihat lemas di kursi pianonya. Matanya nampak murung. Jemarinya terlihat ragu untuk memulai menekan tuts-tuts piano di hadapannya. Gurat wajah tegang jelas terlihat di wajahnya yang manis. Tetesan keringat nampak terlihat diantara helai-helai rambutnya yang menutupi dahi.

Kembali alunan piano terdengar dari dalam rumah berwarna kuning gading itu. Namun sekali lagi terdengar nada sumbang yang menghentikan permainan pianonya. Kini kepalanya tertunduk lemah. Waktu latihan telah habis. Tiba waktunya Vina berangkat menuju sekolah musiknya. Ya..hari itu Vina harus menghadapi ujian kenaikan kelas piano dari sebuah sekolah piano ternama. Bila ia gagal, maka usailah sudah untuk bisa melanjutkan ke jenjang yang selalu diidamkan semua anak-anak yang telah berlatih sedari kecil untuk meraihnya.

Ujian kali ini benar-benar terasa menakutkan bagi Vina. Vina yang biasa amat mandiri, kali ini benar-benar merasa bersyukur bahwa Sandra, ibunya dapat menemaninya.

Di ruang tunggu ujian terasa dingin. Namun itu tak membuat butiran keringat yg membasahi dahi Vina mengering. Kegelisahan hati dipuaskan dalam pelukan Sandra yang terus menerus meyakinkan dirinya. Vina sadar bahwa dirinya tidak terlalu siap menghadapi ujian piano kali ini. Kesibukan sekolahnya yang menjelang ujian akhir ini makin menyulitkan dirinya untuk membagi waktu.

Akhirnya, namanya pun dipanggil untuk memasuki ruang ujian. Perlahan Vina bangkit dari kursinya, dan menatap Sandra dalam-dalam. Kembali Sandra mengelus punggung putrinya dengan lembut dan berkata…Kasih sayang dan dukungan Ibu membuat semangat Vina kembali terpacu. Rasa percaya diri Vina kembali terpacu dan irinya bertekad, akan menghadapi ujian ini dengan seluruh kemampuannya.

“Lakukan saja yang terbaik sayang…!” ucap lembut Sandra di telinga putrinya

“Apa pun hasilnya Mama tidak akan pernah marah padamu..!!!”

“Jujur, apa yang selama ini telah engkau capai, semuanya telah melampaui apa yang telah Mama capai dulu seusiamu..!”

Vina menarik nafasnya dalam-dalam, tersenyum tipis dan mulai melangkah masuk sendirian ke dalam ruang ujian.

Di dalamnya ternyata telah ada 5 orang penguji. Di balik pintu berkaca itu, Sandra melihat putrinya membungkuk badan, memberikan hormat pada para pengujinya sebelum duduk di kursi mini grand piano itu.

Terdengar suara penguji meminta sebuah lagu dari banyak permainan piano yang harus di hafalnya. Wajah Vina terlihat lebih tenang. Jemari lentiknya pun mulai menekan tuts-tuts piano itu. Dentingan-dentingan tuts piano terdengar sangat indah dan cantik. Di hati Sandra berucap…”Ahhh…permainan putriku lumayan koq…!” Seusai memainkan beberapa lagu, nampak kelegaan terpancar di raut wajah Vina yang juga kelihatan terkejut karena dirinya akhirnya bisa menyelesaikan ujian tersebut dengan cukup baik. Dirinya kembali membungkukkan badan dengan lebih ceria. Para pengujipun terlihat memberikan senyuman hangat pada Vina.

Vina tak sabar untuk memeluk sang Bunda. Sinar mata optimis nampak menari-nari di mata putrinya yang manis itu. Sandra dan Vina pun pergi meninggalkan ruang ujian itu dengan gembira dan juga ada perasaan yakin bahwa akan bisa melewati ujian tersebut. Dan pulanglah mereka dengan penuh kelegaan.

Hari Minggu itu telah penuh dengan deretan-deretan mobil di halaman parkir sekolah musik itu. Suasana sangat ramai. Terlihat mobil Sandra masih berkeliling-keliling kesulitan untuk memarkir kendaraannya. Beruntung, tak lama Sandra berhasil memarkirnya walau harus berjalan kaki lumayan jauh. Banyak siswa siswi sekolah musik itu yang datang bersama orang tuanya. Karena hari Minggu itu adalah hari pembagian rapot, yang sangat menentukan.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya tiba giliran Vina dipanggil masuk ke ruangan gurunya.

“Selamat pagi bu…” sapa Vina ceria

Guru piano yang telah mengajarnya setahun belakangan ini pun membalas sapaan Vina dengan agak dingin…Sandra menatap dalam-dalam wajah guru piano Vina yang baru dilihatnya dan terkesan kurang ramah ini.

Setelah berbasa basi sedikit, akhirnya guru tersebut langsung mengeluarkan sebuah buku kecil. Buku rapor hasil ujian Vina. Buku tersebut segera diserahkan ke Sandra. Sandra pun terbelalak matanya ketika membaca sebuah tulisan kecil yang tertera di sana. Ya…di buku kecil itu tertulis bahwa putrinya dinyatakan tidak lulus. Ketika Sandra tengah memperhatikan isi buku rapor tersebut, ternyata Vina sudah mencondongkan tubuhnya, sehingga Vina pun dapat membaca apa yang tertulis di sana. Vina langsung terlihat lemas. Air mata pun segera meleleh deras di kedua belah pipinya yang putih itu.

Muka Sandra mengeras. Dan mulai bertanya-tanya apa alasan ketidak lulusan putrinya itu. Namun tetap saja dijawab bahwa itu adalah keputusan dari lima orang penguji itu, sedang dirinya tidak terlibat sama sekali dalam pengambilan keputusan tersebut. Merasa tidak puas dengan jawaban tersebut, suara Sandra pun mulai meninggi.

“Bu…saya cuma mau tanya, apakah bis ibu menerangkan, apa yang kurang permainan anak saya…?”

“Oh..Ibu silahkan lihat hasil yang dari lima orang penguji ini aja…kan semuanya mengatakan bahwa nilainya memang kurang…!” Jawabnya tanpa perasaan bhw Vina yang turut mendengar makin tercabik-cabik hatinya.

“Baik bu…kalau menurut lembaga ini anakku tidak kompeten, tapi menurut saya..anak ini sudah berjuang habis-habisan..!”

“Apakah Ibu tidak bisa menyampaikannya dengan lebih bijaksana..?” Sandra mulai geram.

“Oh..kalau Ibu tidak puas, silahkan Ibu menemui bapak ini…!” Kata sang guru sambil menuliskan sebuah nama pada sebuah memo.

“Beliau adalah salah satu yang berpengaruh di lembaga musik ini…”

“Mungkin kalau Ibu mau menemui Beliau, Beliau dapat memberi kesempatan lain pada putri Ibu…!”

Hati Sandra benar-benar sulit percaya dengan sikap kurang sopan dari guru piano putrinya ini. Di awal, Sandra bertekad untuk berjuang demi mendapatkan sebuah keadilan untuk putrinya sampai ke ujung dunia sekali pun.

Namun ketika Sandra membaca memo tersebut, dirinya bagai tersambar petir di siang bolong. Tertulis sebuah nama yang selama ini telah menjadi duri dalam daging. Dan yang telah mengiris-ngiris hatinya di masa lampau.

Kini jelas sudah apa yang sebenarnya terjadi. Sadar dengan drama apa yang diinginkan oleh lembaga musik ini. Dan siapa biang keladi dari semua kejadian ini. Darahnya pun mendidih, amarahnya pun telah sampai di ubun-ubun. Sekuat tenaga Sandra menahan gejolak emosi yang berkecamuk di dadanya, agar sebuah rahasia yang selama ini berusaha dipendamnya tidak berhamburan menjadi sia-sia. Segera Sandra menarik Vina keluar dari ruangan tersebut.

Segera setelah mereka berada di dalam mobil, Sandra berbicara dengan putrinya yang masih menangis

“Vina, putriku sayang, dengarlah…!!!” kata-kata Sandra bergetar dasyat

“Jangan kau hancur karena hal ini…!”

“Masih banyak jalan menuju Roma…!”

“Engkau malah harus menunjukkan pada manusia-manusia sombong itu bahwa engkau tak mudah patah..!”

“Buktikan saja pada mereka…bahwa mereka lah yang telah berbuat sebuah kebodohan…!”

“Tuhan Maha Tahu apa yang sesungguhnya terjadi…maka biar Tuhanlah yang akan membalas-Nya..!”

“Dengar putriku cantik…! Bukan Mama tidak ingin memperjuangkanmu..tapi semua kejadian pasti ada hikmahnya…!”
“Mungkin Tuhan sedang menguji kekuatan iman kita..!”

Kita harus bisa sabar nak.., insyaAllah pasti Tuhan akan berikan sesuatu yang lebih baik lagi padamu..!!!”

“Tolong…putriku…jangan patah…jangan engkau membuat Mama tidak bisa mengampuni diri Mama sendiri bila engkau patah karena ini….!!!”

“Maafkan Mama sayang…Tolong maafkan…!!!” suara Sandra terdengar parau karena menahan tangisnya.

Lalu Sandra pun mendekap erat tubuh Vina yang masih menangis.

Sesampainya di rumah segera Sandra memasuki kamar tidurnya. Di kamar ditumpahkannya segala tangis yang sedari tadi ditahannya. Setelah tangisannya reda, segera Sandra menghapus air matanya dan mulai mengatur lagi kepingan hatinya. Luka itu kembali terbuka. Luka yang amat sulit dilupakan sakitnya. Di aturnya lagi nafasnya, ditata lagi rambutnya lalu diambilnya gagang telepon. Di putarnya ke sebuah nomer yang amat sangat dihafalnya. Setelah beberapa kali deringan, terdengar suara yang amat dikenalnya. Ya…itu adalah suara mas Tommy, suaminya.

“Halo…Mas, hari ini pulang jam berapa..?”

“Tolong jangan pulang terlalu malam, ada hal yang ingin dibicarakan…!” untuk kali ini Sandra tidak memberi kesempatan pada suaminya untuk memberi alasan ini dan itu.

Pintu kamar terbuka…

“Mas…tolong tutup pintunya…!” pinta Sandra.

Setelah Tommy duduk di sudut tempat tidur dibelah dirinya, Sandra memberikan sebuah kertas memo yang tadi siang diberikan oleh guru piano Vina.

Tommy membaca dan matanya terbelalak.

“Mas kenal dengan nama itu kan…?!”

Mas Tommy menggangguk lemah…

“Mas..rupanya perempuan itu belum cukup hanya menghancurkan perasaan ku…!”

“Ia..juga ingin menghancurkan perasaan putrimu…!”

“Dia ingin kita semua hancur…!!!”

“Begitu perempuan itu gagal mendapatkan mas, ia ingin membalas dendamnya pada kita semua…!”

“Termasuk pada darah daging-mu mas…!”

“Mas….!!!”

“Aku memang banyak memiliki kekurangan…Tp aku sayang sekali pada Mas dan sayang sekali pada anak-anak kita, sayang sekali pada keluarga kita mas…!”

“Pergilah ke kamar putri-mu, dan lihat air matanya mas…!”

“Tolong mas…cukup sekali keluarga ini harus menangis seperti ini mas…!”

“Tolong berjanjilah mas….!!” Tangis Sandra pun berurai sudah…

Tommy pun terlihat berkaca-kaca…Tangannya gemetar meremas kertas memo itu. Bibirnya nampak terkatub keras. Dahinya pun berkerut. Dan di peluknya Sandra…

“Ma…Tolong maaf kan kesalahan papa selama ini…!”

“Sungguh, di antara kami berdua tidak terjadi apa-apa…!”

“Tapi mungkin perempuan itu telah berharap lebih…!” dengan suara gemetar penuh penyesalan.

Memo itu telah mengingatkan Tommy pada sebuah nama. Nama keluarga dari seorang wanita muda cantik berusia 24 tahun yang baru di terima bekerja di perusahaannya 5 tahun lalu. Kinerja kerja yang selalu baik membuat karier Mira Brotosudirja makin bersinar. Dalam waktu setahun, Mira pun berhasil mencapai posisi strategis di bidang pemasaran yang dipimpin oleh Tommy.

Dan tentu sebagai kepala divisi bagian pemasaran, Tommy kagum dengan kerja keras Mira selama ini. Sehinga banyak project perusahaan yang dipercayakan kepada Mira. Dan juga banyak pekerjaan yang sering mereka lakukan bersama-sama.

Namun yang tidak diketahui oleh Tommy bahwa Mira adalah tipe wanita yang amat ambisius. Untuk mencapai ambisinya itu, Mira bisa saja memasang berbagai perangkap. Dan ternyata dirinya pun dijadikan target operasinya. Pendekatan-pendekatan personal pun tak segan dilakukannya.

Tommy tak sadar dengan itu semua. Dirinya makin terkena perangkap pesona yang memang sengaja ditebar oleh Mira.

Hari demi hari makin sering mereka lewati bersama. Mira pun mulai sering menceritakan tentang sesuatu yang pribadi pada atasan itu. Lalu mulai mengajak untuk lunch bersama. Bahkan berani mengundang Tommy untuk hadir dalam konser pianonya. Yang makin membuat Tommy terbius dengan berbagai kelebihan dan keindahan yang dimiliki Mira.

Dirinya mulai lalai pada keluarganya. Keluarga yang telah di bina sejak 17 tahun lalu. Keluarga yang selalu menantinya di rumah. Dirinya lebih senang berlama-lama di kantor atau pergi mengerjakan berbagai proyek perusahaan bersama Mira. Lupa dengan usianya yang terpaut lebih 20 tahun itu.

Sikap manja yang kini sering ditunjukkan Mira ke Tommy makin menjadi buah bibir di perusahaan itu. Tetapi Tommy yang seperti sudah berada di dalam gengaman Mira. Sehingga semuanya tak juga bisa membuka matanya.

Sikap pongah Mira makin menjadi-jadi. Membuat suasana kerja menjadi rusuh.

Suatu hari dalam sebuah acara perusahaan, Mira akhirnya bertemu dengan Sandra. Mira ternyata sangat pandai bersandiwara.Tanpa malu dirinya memperkenalkan lebih dulu pada Sandra sebagai orang kepercayaan dari suaminya, Tommy.

Sandra pun menerima dengan terbuka sebuah uluran silahturahmi itu. Tidak ada kecurigaan terbersit di dalam pikiran Sandra. Hingga acara hampir berakhir.

Tiba-tiba, dirinya berjumpa dengan sekretaris suaminya, Maya.

“Bu, maaf bolehkah saya bertanya…?” sang sekretaris berucap sopan

Sandra pun mengangguk sambil tersenyum.

“Bu, apakah ibu Mira itu adik atau saudara Ibu…?” dengan nada memancing yang tetap sopan.

Sandra menatap Maya aneh…”Maksudmu..?”

“Sebab bu, wajah Ibu dengan Ibu Mira itu seperti kakak dan adik…!”

“Dan hubungan bapak dengan bu Mira pun terlihat sangat dekat…!”

Mendengar penjelasan Maya..dada Sandra terasa sesak. Tubuhnya terasa kaku dan pikirannya pergi entah kemana. Tubuhnya terasa oleng. Namun, sebuah suara hati telah menguatkannya. Sehingga, Sandra masih bisa memberikan senyum pada Sekretaris suaminya itu..

“Maya, saya kan adalah anak tunggal…!”

“Jadi saya tidak memiliki saudara kandung satu pun”

“Dan bu Mira benar-benar hanya seseorang yang bekerja bersama Bapak di perusahaan ini…!” sambil tersenyum lembut pada Maya.

Setelah itu Sandra pun segera berlalu dari pandangan Maya dengan tenang. Ketenangan Sandra ketika menghadapi Maya ternyata bisa meredam segala gosip yang gencar beredar selama ini sehingga nama baik suaminya tetap terjaga.

Namun sesungguhnya Sandra pun merasakan perubahan-perubahan pada diri Tommy. Tommy kian ringan menyalahkan dan memarahi dirinya ketika dirasa apa yang dilakukan Sandra tidak sesuai dengan harapannya.

Sandra terus berusaha bersabar menghadapinya, tetap bertahan dan berdoa…Sandra tidak ingin anak-anaknya yang mulai besar merasa sedih atas cobaan ini. Sandra terus berjuang untuk mempertahankan Tommy, suaminya..

Tommy pun adalah seorang pria yang baik. Sehingga segala ketulusan hati Sandra pun dapat dirasakannya. Dirinya pun nampak jengkel setiap kali dengan mudahnya ia memarahi seorang istri yang selalu menyanyangi dirinya dan anak-anaknya. Namun bayangan Mira pun sulit untuk dihapuskan begitu saja. Hatinya kini menjadi galau.

Mira, rupanya tak sabar dengan kondisi ini. Ambisinya untuk memiliki posisi yang lebih tinggi lagi di perusahaan membuatnya merayu Tommy dengan membabi buta. Mira pun tak segan meminta kesediaan Tommy untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran demi mencapai keinginannya. Bak seorang wanita gurita…yang memiliki banyak tangan. Ada tangan yang sibuk mengelus-ngelus merayu dan membelai belai menggoda, namun ditangannya yang lain, sibuk menghitung keuntungan yang akan diperolehnya dan juga lilitan maut yang siap mencengkram bila korbannya tak juga mau tunduk padanya.

Beruntung, sinar hati Tommy masih memiliki cahaya. Mungkin itu adalah doa dari istri yang sangat mencintai dirinya apa adanya yang menjadi tameng terakhir dirinya.

Sinar itu yang menuntun Tommy untuk tidak melakukan apa yang diminta Mira.

“Tidak Mira…hal itu tidak benar bila dilakukan…!” Tommy seperti orang yang baru tersadar dari mimpi buruknya.

Mira terperangah….Sekali lagi ia mencoba merayunya…Kali ini Tommy menepis tegas ketika tangan-tangan gurita itu kembali berusaha menyentuh wajahnya…

Bagai gurita yang terluka…Mira pun mengeluarkan senjata mautnya..yaitu berupa janji ancaman untuk menggelap gulita kan semua yang bisa membahagiakan hati Tommy…yaitu pekerjaannya dan juga menghancurkan keluarga yang dicintai Tommy.

“Dengar pak Tommy terhormat…!”

“Urusan kita belum selesai…!” Mira terlihat amat marah..sebelum meninggalkan ruang kerja Tommy

Sejak kejadian itu Mira berusaha menghancurkan nama baik dan kredibilitas Tommy di segala kesempatan. Namun ibarat bumerang, malah Mira lah yang terkena hantaman balik. Ia dikeluarkan dari pekerjaan selama ini, karena dendam personalnya, mulai menganggu kinerjanya.

Rupanya, setelah bertahun-tahun telah lewat,tp dendam itu masih membara. Dendam itulah yang direncanakan sebagai balasannya kepada Tommy. Yaitu menghancurkan semua orang yang disayangi Tommy. Laki-laki yang telah merusak ambisinya, telah mengoyak harga dirinya, dan yang telah gagal ditaklukkannya.

Dengan segala cara Mira memohon-mohon pada ayahnya yang rupanya juga salah satu pemilik tempat di mana Vina les piano itu, akhirnya turut ikut membalas dendam dan bencinya itu. Ayahnya pun terbakar hatinya sehingga meluluskan keinginannya putrinya yaitu agar Sandra dan Tommy memohon-mohon belas kasihan dari dirinya…Bersimpuh di kakinya….

Namun, Mira hanya bisa menggigit jari-jarinya sendiri dengan keras, karena harapannya buyar sudah. Karena Tommy, Sandra dan Vina tidak pernah datang dan menginjakkan kakinya lagi di sekolah itu…

Malam makin menjelang, Vina masih gelisah dalam tidurnya. Matanya terlihat sembab.

Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka perlahan. Tommy melangkah masuk mendekatinya dan duduk di sisi tempat tidurnya. Tommy menyalakan sebuah lampu kecil teduh yang berada disudut tempat tidur Vina.

Tommy mengelus-elus lembut kepala putri yang amat disayanginya dan mencium keningnya. Mata Vina sedikit terbuka…

“Malam Pa…” tegur Vina yang ternyata belum tertidur. Matanya terlihat sembab

“Maafin Vina ya pa…!” desahnya lirih, sambil berhambur ke dalam pelukan Tommy.

Cahaya redup kamar berhasil memburamkan tetesan air mata yang mengalir di pipi Tommy…

“Kadang kegagalan hanya sebuah kesuksesan yang tertunda sayang…!” Ucap Tommy lembut sambil mengelus rambut hitam panjang milik putrinya.

“Jadi jangan menyerah ya sayang…!”

Dalam pelukannya..Vina pun terlihat tersenyum lega, dan dirinya berjanji bahwa kelak ia akan membuktikan bahwa kelak ia juga akan berhasil menempuh ujian itu.

Dikecup kening Vina sebelum Tommy berlalu dari ruang tidur putrinya…”Selamat tidur bidadari keciku..”

Empat tahun setelah itu…

Nampak seorang dara cantik, tengah serius berlatih piano di tengah panggung megah di sebuah sekolah musik terkenal di Jepang. Jari-jarinya lincah menari nari gembira di antara tuts-tuts piano. Ya…itu adalah Vina. Vina yang telah berhasil menyelesaikan sekolah musiknya sampai ke jenjang maestro di sekolah musik yang lain. Dan dirinya pun berhasil membuktikan bahwa kegagalannya dulu hanya akal bulus Mira. Sebagai salah satu lulusan terbaik dari sekolah musik tempatnya melanjutkan cita-citanya itu, Vina berhasil meraih bea siswa setahun untuk belajar piano lebih lanjut di salah satu negara penghasil pemain-pemain top piano dunia.

Dan bukan itu saja Vina pun berhasil membuktikan bahwa dirinya pun bisa menyelesaikan pendidikan akademisnya dengan sangat baik pula. Berhasil lulus dan meraih gelar sarjana bisnis di universitas di mana ayahnya juga menjadi salah satu almaternya dalam jangka waktu yang singkat, yaitu 3,5 tahun..Semua akhirnya berakhir bahagia…

One comment

  1. Cerita yang bagus … Kayaknya ada film Demi Moore dan Michael Douglas yang bercerita tentang cewe kayak gitu … Cuma judulnya lupa … Tapi emang ada yah cewe kayak gitu … ???



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: