h1

SEKEDAR OPINI: Memang jadi wanita/istri tdk mudah ya….:D

June 14, 2014

Beberapa hari lalu ketika sedang menunggu antrian untuk di ruangan apply visa ke Jepang….Ada seorang Ibu yg tanpa mendengar aksennyapun aku bisa tahu bahwa perempuan ini adalah orang Jepang tulen dari cara perempuan ini merias wajahnya, walaupun penampilan perempuan ini sudah meng-Indonesia sekali, karena memakai blus batik kedodoran, celana panjang hitam, jilbab bahkan ber-sandal jepit.

Sandal Jepit di Jepang agak jarang dipakai walau hanya sekedar untuk jalan2 apalagi untuk masuk ke sebuah gedung perkantoran, sklh, rumah sakit dll..Karena orang Jepang lebih terbiasa menggunakan sepatu.

Ruangan apply visa hari itu sangatlah ramai…

Aku yg sdg duduk disebelahnya jadi sedikit kaget, ketika perempuan ini tiba-tiba mengangkat anaknya yg usianya sekitar 1 tahunan yg tadinya berjalan ke sana kemari untuk disusui…Dengan santainya perempuan ini mengeluarkan payudaranya, walau segera ditutupi dg selembar kain batik… Tp tak ayal perbuatan tsb jd perhatian orang-orang yg melihatnya.

Seorang Bapak nyeletuk ke orang yg duduk disebelahnya yang ternyata masih saudara dari pihak suami perempuan Jpn ini…
“Oh, orang Jepang ya..?” “Lucu ya….. Eh belum selesai kalimatnya, sdh dipotong oleh saudara perempuan Jepang ini…”Iya, orang Jepang, istri dari saudara saya…” dengan mimik bangga.

Melihat kejadian tidak biasa ini, aku jadi ingat pembicaraan dengan temanku yang juga orang Jepang tulen beberapa tempo lalu, karena aku sempat bingung melihat perilaku dari beberapa orang Jepang yang aku kenal yang menikah dg orang Indonesia, kenapa perilakunya bisa berubah begitu…?

Temanku yg asli orang Jepang menjawab..: “Perempuan2 Jepang itu sebelumnya sama sekali tidak tahu apa-apa tentang Indonesia, jadi mereka melihat Indonesia hanya dari kacamata suami. Apa yang dilihat oleh suaminya, apa yang dipikirkan oleh suaminya dan apa yang dilakukan oleh suaminya, itulah Indonesia.

Haaaaa…??? OMG….!

Aku yang msh penasaran saat itu agak protes terhadap pendapat temanku itu..
“Tp dulu almhm Mamaku rasanya ga begitu…!” Mamaku tetap memiliki nilai2 kejepangannya yang Beliau selalu berusaha tanamkan pada anak-anaknya..Spt, jangan memukul kalau tdk mau dipukul, jangan meledek kalau tdk mau diledek, harus jujur pd diri sendiri, harus disiplin, harus kerja keras sepenuh hati, harus memiliki pendirian sendiri, harus mengenal diri sendiri, harus rapi dan bersih, harus harus duduk dan berjalan tegap, kalau makan harus duduk tenang dan mendahulukan Papa untuk mengambil makanan lebih dahulu, baru setelah itu anak2 boleh makan, harus sudah bisa makan, mandi dan sikat gigi sendiri sejak usia 3 tahun, harus buang sampah pd tempatnya, dan banyaaaaakk lagi ajaran ala Jepang yang aku terima dari almrhm Mama. Dan gaya berpakaian mamaku sampai Beliau meninggal msh terlihat gaya orang Jepangnya, walaupun amat suka dengan Batik dan Songket.

Memang dalam setiap budaya ada yang nilai-nilai yang sama dan yang berbeda. Nilai yang sama ini biasanya bersifat universal..spt jujur, rajin, menghormati orang tua dst.

Akan jadi sulit kalau seorang perempuan dalam mengikuti nilai budaya suaminya, sang suami sendiri salah mengerti nilai tsb.

Idealnya seorang perempuan dapat MENILAI hal-hal apa yang sebenarnya secara universal yang sudah benar dan harus dipertahankan dalam kehidupan sehari2.

Idealnya pula ia haru berusaha meng-koreksi pemahaman suami yang tidak TEPAT, tentu dengan cara2 yang santun dan penuh kasih sayang.

Jadi konklusinya, sama dech dg judulnya….”Memang jadi wanita/istri tdk mudah ya….” hehehehe

NOTE TAMBAHAN:

Secara umum memang orang harus punya pendirian yang jelas. Pendirian ini idealnya berasal dari nilai2 dasar yang dimilikinya. Nilai2 ini berfungsi sebagai jangkar agar membuat dirinya tidak mudah terombang-ambing dalam menghadapi kehidupan yang sangat dinamis sekarang ini.

Dalam era global sekarang, di satu sisi kita dihadapi oleh interaksi dengan berbagai budaya yang berbeda yang semakin tinggi, dan di sisi lain variasi budaya antar Negara tentu menuntut kita melakukan penyesuaian dalam perilaku kita saat berinteraksi dengan budaya tersebut. Mencari titik tengah diantara perbedaan2 ekstrim yang kita temui tampaknya adalah jalan keluar terbaik… terbaik tentu bukan termudah. Tapi siapa bilang hidup itu mudah? Bukankah hidup adalah sebuah proses yang berkelanjutan untuk membuat keputusan2 yang akan membentuk perilaku kita…

Dan dalam mixed marriage (pasangan yang berasal dari budaya berbeda) tantangan ini bisa jadi lebih besar. Pada pasangan yang datang dari budaya yang sama saja bisa terjadi perbedaan dalam memandang sebuah permalasahan, apalagi pada pasangan yang datang dari budaya yang berbeda.

Jadi kembali kemampuan mencari kompromi tanpa mengorbankan nilai-dasar kita adalah jalan keluar yang terbaik….

One comment

  1. Culture shock kali yah …😀



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: